Saturday, 16 May 2020

"LA'ANG" SEHIMPUN PUISI BH. RIYANTO

0
Desain sampul oleh Alek Subairi


PULANG

Dahulu kakekmu, kata lelaki-lelaki sepuh berpeci tinggi
di warung kopi tua itu, selalu menyelipkan celurit tajam
berkarat di balik baju hitamnya!

Selepas dari jembatan beton, kacong, jangan kau
lengah. Beberapa doa harus kau baca. ‘Biar kau tetap
tenang dan tak kesasar lagi’; begitu pesan ibumu

Birunya langit di pulau leluhurmu, adalah limpah berkah;
garam-garam tuntas dipanen sebelum hunjam hujan
menumpahkan air mata di pipi paman dan bibimu!

Lalu, di sepanjang jalan berkelok, yang di pepinggirnya
ditumbuhi rimbun jati dan pohon berduri itu, petuah-petuah
kakekmu juga wajib kau ingat; bepa’ bebu’ guru rato!

Tapi jangan pernah kau bayangkan serupa apa wajah
kakekmu. Kau sebut saja namanya, maka sejuklah
hatimu. Karena wajah keramatnya pun tak pernah
terekam kamera tukang foto masa itu.

Jika di satu mimpi kau datangi lelaki berkumis lancip
dan ber-odeng kemerahan, lalu berkata; ‘e tembang
pothe mata, lebbi bagus pothe mata!’ Maka sudah
pasti dialah kakekmu!

Kakekmu
kata lelaki-lelaki sepuh berpeci tinggi di warung kopi
tua itu, selalu menyelipkan celurit tajam berkarat di
balik baju hitamnya. Dan kerap menebaskannya ke leher
bangsat para kompeni!

(2015)


KAMPUNG

Setelah segelas la’ang manis tuntas kau teguk
selanjutnya akan kau dengar jeritan riwayat leluhurmu
lewat suara-suara yang menukik menusuk khusyuk
; saronen

Para gadis desa boleh berdendang
para bibi muda boleh tersenyum di sepanjang pematang
tapi ini bukan sekadar sebuah pesta di akhir panen
ini adalah isyarat-isyarat alam dan cinta
; yang dikekalkan!

Di ujung siang di pinggir kampung itu
dua lelaki bertelanjang dada
turun ke kali memandikan sapi-sapi
di atasnya bicah-bocah menangkapi capung warna-warni

Malamnya
bulan bulat penuh
malu-malu di balik rimbun bambu
di tengah halaman seorang gadis duduk termenung
membayangkan rupa lelaki lanceng si peniup saronen

(2015)


SAPE SONO’

Inilah tanah para pencinta itu
sapi-sapi tak cuma dipecuti di ladang-ladang tandus
tapi juga dihiasi dan diberi jamu

Lelaki berkaos loreng mera-pothe
menyeruput secangkir kopi hitam
ebelum melatih sapi-sapi betina berjalan seksi
pagi itu

Malam ke malam cintanya terus ditumbuhkan
sapi-sapi betina itu semakin penurut
makann minumnya dicukupkan
dijaga, dipijat
dan dielus

Maka tibalah hari yang ditunggu
sapi-sapi betina itu masuk arena

Aneka alat musik leluhur mulai ditabuh
sapi-sapi betina dibariskan
langkah-langkah yang serasi
langkah demi langkah penuh arti

Hingga berakhir di bawah gapura keemasan itu
di sepotong balok kayu penentuan

Orang-orang bersorak gemuruh
sapi-sapi cantik sukses meminggirkan sangsi

Sapi-sapi cantik mengukir cinta
di jantung tradisi!

(2015)


Biodata penyair

BH. Riyanto atau Budi Hariyanto lahir pada 15 Oktober 1973. Melukis dan menulis puisi. Puisi-puisinya tersebar di media massa lokal dan nasional, juga terhimpu dalam beberapa buku antologi puisi bersama. Buku puisinya yang telah terbit; “Pesan Pendek dari Tuhan”, “Suramadu; kisah kau dan aku”, dan “Hujan yang Mengguyur di Sepan jang Ingatan”. Saat ini mengajar mata pelajaran Seni Budaya di SMAN 1 Pademawu, Pamekasan. Dan mukim di Desa Kaduara Barat, Larangan, Pamekasan Madura. Email: budihariyanto2015@gmail.com
Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment