Sunday, 17 May 2020

PUISI-PUISI MAHWI AIR TAWAR (RADAR BANYUWANGI, 17 MEI 2020)

0

Ilustrasi: g/ piqsels

SENANDUNG GANDRUNG

Madah putih silsilah mantra
muassal bening osing asmara

Tujuh jarum tujuh helai doa
Tujuh sirah berdenyut di dada

Lentik rindu bertukar gusar
lirik genjer bikin gentar

Jantung tersayat tanah terbelah
Di mata selongsong petani pasrah

Di alun kini blambangan
Di senandung banyuwangi

Tujuh madah tujuh mantra
Tujuh bilik penari gandrung

Tujuh jarum tujuh benang
Tujuh sulaman lubang selendang

Gandrung dirindu dalam semadi
Osing dijelang di denyut nadi.

TUJUH LARIK PENGASIH

Tujuh madah silsilah mantra
Tujuh bala lelembut tamara

Tujuh jarum tujuh kecupan
Tujuh belaian nujum sulaman 

Di alun kini blambangan mewangi
Di senandung banyuwangi sunyi

Di hening semadi gandrung murung
Di lingkar tari sorai membubung

Tujuh madah tersaji sudah, di bening pengasih puisi terdedah!

PENGAKUAN CINTA

Masa lalu berpawai sepanjang jalan
dari titian pertemuan ke bentangan kenangan
kerlip rindu meriap di rongga-rongga waktu
lemparkan serpihan pagi dalam iringan
nyanyian cinta yang rawan.

Masa lalu berpawai di sepanjang pikiran
menari dan berdendang dengan irama sumbang
menimang semesta, memeluk kesetiaan
membelai keabadian.

Dalam lingkaran tarian, juga nyanyian
kehampaan cintamu cuma kuraba.

Seusai pawai baju-baju kuyu di lemari pilu
kalung dan liontin menggantung sendu
seperti nasib dan takdir, tak bisa kutimang.

Oh, kehampaan yang agung, lebih dekatlah
dengan kerlip lilin pandangku dari liang gelap
kupujakan hidup sampai nyanyian tak sumbang dalam degup.

Menarilah, duhai cintaku, dalam iringan pawai waktu.

DI PARANGKUSUMA

Tersebab remuk tulang rusukkah merah bara berarak
dari helai rambut kekasih malammu, Parangkusuma?

Dingin sajadah lontar digelar di punggung anak-anak ombak
pun bulir-bulir keringat, berdenting dalam hening
basahi irama siulan para pelacur di ranjang pasirmu.

Tak terdengar tembang, juga rebana
hanya sayatan sangsai hati masaikan risau
di nyalang harap anak-anak dari balik bilik
dari sela jari puisi-puisiku yang tak kunjung jadi
memetik rembulan, menggalah bintang

Tapi, di sini tak terdengar tembang, juga rebana  
gerbang dan pintu sekolah yang terkunci
tak izinkan anak-anak ombakmu
duduk semajelis sedini.

Petiklah ini pelangi, sungging senyum menawan
Rebut dan dekaplah tubuhku, sintal dan rawan
Napasku membubung dalam dupa persembahan
Desahku desau kembang setaman dalam perjamuan
Para pembesar, yang jadikan tegak langkahmu
Benteng bagi pertahanan rapuh dan kuyu.

Perahumukah yang datang dari kelam harapan,
seberangi jantung perih permohonanmu, Parangkusuma?

Mari, kujahit layar sebelum getir terkembang
dengan buntalan kusut nelon dari sobekan kelambu
yang kau rentangkan sebelum pasanggarahan
tempat menyandarkan getir cerlang mataku
rubuh, juga kekasih malammu luluh
Diterbangkan angin pupuh sang penembang
Dalam barisan para abdi, restu semata ingin ditandu.

Tapi aku kekasihmu, jelmaan kembang setaman Mataram!

Aku ratu bermahkota duka bagi selir,
berdesir di setiap ketiak orang-orang hantaran
enggan ketuk pintu restu Gusti,
Dalam hening pencarian, dan bening pemintaan.

Kaukah yang duduk di tungku kuyu
Membakar batok hati, menyeduh lasak pandangan
Dalam pahit kopi abdi, di buih nasib, di nampan lontar?

KE TIMUR JAWA

Bijih-bijih rinduku manik-manik selendang penari
lentingkanm mata menembus batas nyeri
di haru pilu masa lalu berpawai
susuri gandrung di rongga api: 

Kaukah akar rambatan pohon surgawi
di timur Jawa lengah kucari
di sulur hutan hening Banyuwangi

Di jalan berkelok menuju pelukanmu
panas suci senandung guru mengaji
hikmat menggigil dalam ciuman takdir
mencari diri dengan tuduhan keji
pasukan senyap bersayap rayap.

Kaukah pohon tegak lurus dengan langit itu
teduh payungi madah hening mantra
tersesap manis air kembang tujuh rupa
gandrung dan osing hanyut di dada.

Jakarta, Mei 2020

Catatan: Tegak Lurus dengan Langit dikutip dari cerpen Iwan Simatupang, Tegak Lurus dengan Langit.

doc/ arsippenyairmadura
Mahwi Air Tawar, lahir di pesisir Sumenep, Madura, 28 Oktober 1983. Sejumlah cerpen dan puisinya dipublikasikan di Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Bali Post, Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Sajak, dan lain-lain. Cerpen dan puisinya juga termuat di sejumlah antologi bersama, di antaranya 3 Penyair Timur (2006, puisi), Herbarium (2006, puisi), Medan Puisi, Sampena the 1  International Poetry (2006, puisi), IBUMI: Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi (2008, puisi), Sepasang Bekicot Muda (2006, cerpen), dan Robingah, Cintailah Aku (2007, cerpen). Salah satu cerpennya yang berjudul Pulung terpilih sebagai cerpen terbaik dalam lomba yang digelar oleh STAIN Purwokerto dan terkumpul dalam buku  Rendezvouz di Tepi Serayu (2008-2009), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II, cerpen), Ujung Laut Pulau Marwah (TSI III, cerpen), Tuah Tara No Ate (TSI III, cerpen), Perayaan Kematian (2011, cerpen). Kumpulan cerpen pertamanya, Mata Blater (2010), mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, 2011. Ia aktif mengelola komunitas sastra Poetika dan Kalèlès, Kelompok Kajian Seni Budaya Madura, di Yogyakarta. Buku cerpennya yang terbaru adalah Karapan Laut (2014), dan buku puisinya yang sudah terbit; “Taneyan”, “Lima Guru Kelana ke Lubuk Jiwa” dan “Tanah Air Puisi Air Tanah Puisi”.


Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment