Header Ads

Puisi-Puisi Anwar Sadat dalam Kumpulan Puisi Tunggalnya: "Tanah Garam".



 
Mencintai Bapak 1
(Perkenalan dengan tanah)


Aku; tercipta dari lebur tanah garam
tempat bapak mengurai bara api, menempa besi
sekian hari aku tumbuh menjadi hatimu
sambil menikmati lantunan palu
yang kau mampatkan berkali-kali di ujung pagi

dari tanganmu aku banyak membaca kisah-kisah
tentang orang-orang yang selalu datang
dan kau katakan “Mereka bernasib sama sepertiku”
mereka datang sekadar bernyanyi dan menuntaskan
pagi. Bercerita tentang sejarah celurit yang kau
ciptakan. Juga sejarah mereka semua
di masa lalu

kini tak terdengar suara-suara perih dan indah itu
siapakah nanti yang akhirnya mengenangmu
sedang, orang-orang yang mulai akrab,
satu-persatu memburu waktu. Pergi ke arah langit
sisanya berwajah sangat asing
selalu mengatakan; kau tengah bermimpi

dan aku mulai mengerti tanah ini.


Bangkalan, 2016


Mencintai Bapak 2
(Dengan Penjual Arang)


Kau, salah satu warna tanahku
datang dari arah matahari lahir
menempuh arus perjalanan jauh
sambil mengurai waktu yang kian lelah

selamat datang lelaki tua
sandarkan tubuhmu sejenak
sulut sebatang rokok
sekadar sembunyikan nafasmu yang berhamburan
biar aku semakin kenal bentuk wajahmu
yang sama seperti wajahku sendiri

bapakku paling setia menunggu kau tiba
di kampung jelaga ini,
berbagi rahasia yang tak orang lain punya
tentang cara memilih arang

Ini warisan dariku, hanya untukmu saja. Simpan
di hati anakmu.

Sebab itu bapak mengajakku menemuinya
bersama memotret beban di matanya, sepadat batu
pukuli punuk berkali-kali, ribuan kali
lelah memanggul riwayat pohon-pohon
terus menerus lebur dalam perut bumi kita
menjadi abu
menjadi wajahnya.

Bangkalan, 2016


Mencintai Bapak 3
(Dengan Pencari Kepiting)


Pak, aku akan punya anak
nanti kuceritakan kepadanya
tentang negeri yang kau ciptakan
lewat lentingan suara besi yang kau tempa
sambil mengunyah pagi di masa laluku
yang terdengar perih kini

aku ingat, saat kau berikan hadiah seikat kepiting
dari seorang kakek yang berwajah surut
saban hari selasa berkunjung ke tempat kau bekerja
membawa celurit dan cangkul tumpul
berisi harapan; tajam kembali setia adanya

kau mengabulkan inginnya
kakek itu memberi upah seikat kepiting
untuk munyulut senyumku

selasa mulai kucinta, tapi
sewindu sudah kakek tak kunjung tiba
tak ada hadiah lagi yang aku tunggu
di hari berikutnya

aku terus mengucilkan senyum
tapi bapak pintar mengurai sedih

kau ciptakan celurit mainan untukku
yang mampu melukai kulit pohon pisang
memotong tali pancingan
mengiris kuku menjelang sore
membantu emak mengorek malam di lantai usai
membatik,
dan
kepiting itu terus mengalir di tubuhku.


Bangkalan, 2016


Mencintai Bapak 4
(Belajar Membuat Celurit)


- apakah umurku sudah cukup untuk ciptakan lengkung
bulan?
- sudah aku tanam dalam detak jantungmu, jika nanti kau
mampu mengubah wujud bulan di langit sana, aku akan
bercerita tentang perjalanan mimpi-mimpi bapak, dari
sekian hari menunggumu tumbuh lebih tinggi dari pohon
murbei yang kita tanam di dekat pagar rumah. Sekarang
rebahlah di samping tubuhku, lihat kembali arah langit
itu, ke mana dia akan mengusir lilitan pekat awan. Bulan
itu tidak tajam. Namun menyakitkan jika hilang dari
tatapan kita.

- apakah orang-orang yang ada di dekat kita juga
merasakan hal sama?
- tidak, mereka ingin anaknya pergi berlayar
mengenal tanah yang lain, dan juga wajah-wajah asing.

- aku harus menatap bulan itu?
- bapak pernah bermimpi, bulan itu menguning
mengubah wujudnya menjadi darah dan amarah
tumbuh duri-duri

- untuk apa bapak melukis lengkung bulan di dadaku?
- kenal dan peluklah. Dia tak melukaimu.


Bangkalan, 2016

  

Anwar Sadat Lahir di Bangkalan, 18 juli 1982. Alamat, Jl. KH. Achmad Marzuki no. 32 Pangeranan, Bangkalan, Madura. Saat ini masih aktif dalam menulis naskah drama, cerpen, artikel seni dan budaya lokal  Madura, dan aktif berkesenian di Bangkalan. Pernah bekerja sebagai pengisi karikatur di koran lokal Kabar Madura selama satu tahun. Karya puisinya pernah dimuat dalam Antologi puisi Sastrawan Muda Mutakhir Jawa Timur Pasar Yang Terjadi Pada Malam Hari 2008. Antologi bersama Nobel Buat Adinda 2007. Antologi puisi “Malsasa” Surabaya 2007. Antologi puisi dua kota 2009. Antologi puisi Hujan Sayang. Antologi puisi Madura “Kampong Careta”. Antologi puisi tunggal Aku dan Tuhan 2014. Antologi cerpen Anak Kertas 2015. Pernah menggelar Pameran duet Seni rupa dan instalasi bersama Yudi teman baikku Detak Pertama 2007. Menjabat sebagai Ketua umum di Komunitas Masyarakat Lumpur tahun 2007. Pembina teater Asmaradaya di SMP Arosbaya. karya yang lain diantaranya Film Puisi Manusia tahun 2007, Film Edukasi Derita Pak Tani tahun 2007. Film Edukasi Menari di Atas Pela-ngi 2008. Dan film yang dapat penghargaan nominasi 10 terbaik Duniaku dalam Lipatan Buku Pesta Buku Bandung 2014. Aktivitas lainnya adalah mengajar seni budaya di SMP, SMA, dan mengajar lukis di TK. Email; s.anwarsadat@yahoo.com
Powered by Blogger.