Header Ads

Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin, diambil dari buku Antologi “Puisi Mazhab Kutub” terbitan PUstaka puJAngga, 2010.


Lukisan Abstrak karya Dario Campanile. Sumber:

Sebuah Kota Tua
– Derek Walcott

Sebuah kota tua, memiliki kisah masa lalu,
sejarah bedil dan senapan, kereta kencana yang karat.
Tahukah engkau, setiap sore di museum sebelah timur taman bunga itu,
ada suara-suara berteriak bagai roh gentayangan yang berdesakan,
lelaki dan perempuan pucat, matanya lembab seribu bulan,
menunggu hari pembalasan yang dijanjikan.

Sebuah kota tua, di bawahnya air sungai mengalir
dan buah-buah dusta dipetik dari pohon bidara yang berduri.
Tahukah engkau, kenangan gugur ke bawah pohon pisang yang bersusun,
jadilah ia firman suci nabi-nabi, bersumpah demi beredarnya bintang-bintang,
demi malaikat yang membagikan air hangat, teh poci dan kopi robusta,
demi sebatang rokok yang ditanam sendiri di hari muda.

Sebuah kota tua, kota yang hampir hancur lebur,
para tukang sihir menyulapnya menjadi kandang babi,
merubah pikiran mereka untuk melupakan kisah pahit
prajurit-prajurit. Dan tahukah engkau,
orang-orang di kota ini menjadi gila,
sampai badai membuatnya terjaga.


Yogyakarta/Tang Lebun, 2007-2008


Kuda-Kuda Meringkik Di Kepalaku

Kuda-kuda meringkik di kepalaku
menaiki bukit-bukit.
Dan bukit-bukit itu saling merebut bulan
di malam keempat yang asing.
Dua orang lelaki membawa pelana-pelana
dipasang sebelum keberangkatan tiba:
kuda putih yang tinggi, kendalinya berwarna tembaga
ditunggangi lelaki bermata rahasia,
kuda hitam yang kurus dan ganas,
ditunggangi lelaki pucat dan penakut.

Penunggang kuda merebut bulan
dari bukit-bukit, di tangan kanannya sebilah celurit
dan di tangan kirinya temali kendali.
Keduanya memacu kuda ke puncak,
kemudian turun ke lembah
menaiki bukit yang lebih tinggi lagi.

Dan kuda-kuda itu masih meringkik di kepalaku
sampai fajar menaruh shalnya di bukit batu,
sampai terang tanah jejak sepatu lenyap di tanahmu.

Kediri-Yogyakarta, Agustus 2008


Ayat Hutan

Di hutan, sebelah selatan tempat kelahiranmu
lima puluh kilo meter dari perlintasan kota,
cuaca jin yang dingin membuat bibirmu gemetar.
Engkau, bagai tukang kayu yang berdusta
menyalakan api merah mawar, asapnya melindap
ke gunung-gunung.

Kembang-kembang yang memberkati puisi,
kering dan berguguran di bawah pohon delima,
malaikat yang sangsi pada kata, menjadi muram wajahnya.
Engkau, berdiri bagai pemburu, melesatkan anak panah
pada hewan-hewan yang terkutuk.

Seperti ada pandangan yang mengancam
bersembunyi di balik jalan yang lurus,
di balik pohon-pohon keabadian.
Engkau, meniupkan sengkakala kebangkitan
di hari hutan berkabung membangun berhalanya sendiri-sendiri.

Yogyakarta/Tang Lebun, 2007-2008


Malam Rabu Yang Aneh
– di gunung kelud

Malam rabu yang aneh,
kudapati perapian menjadi cahaya yang hidup.
Begitu ramai, kuda-kuda meringkik,
prajurit-prajurit berlari tanpa rasa takut,
darah mengucur dingin
: demi Majapahit.
Seorang panglima, dikelilingi arwah-arwah yang menangis
bibirnya bergetar menyebutkan nama-nama asing,
kata-kata pucat bagai mantra dalam kitab tua.

Inilah malam rabu keempat
perempuan telah menjadi patung
rohnya melampaui bukit dan lembah-lembah,
gentayangan di antara pohon-pohon cengkeh,
bagai hantu-hantu kedinginan
: di kali Brantas.

Sebuah malam kesaksian
seorang raja yang diikat, mulutnya tertutup,
lalu tangannya, kakinya, matanya, hidungnya,
telinganya berkisah tentang perang dan keangkuhan.
Sumpah-sumpah yang disangsikan,
nyawa-nyawa melayang tanpa alasan
bangkit lagi di malam yang sengsara.

Kediri/Kelud, Mie-Juli 2008


Di Hari Ulang Tahunku
– 24

Sebuah temali panjang mengambang di atas air laut
sang maut berbaris di ujungnya, aku semakin bergairah
menariknya : rumput-rumput laut hijau lumut,
ikan-ikan memakan bulan, sirip-sirip berkepak tak tentu arah.
O, sisa umurku yang jelita, keheningan yang agung,
kupersembahkan jalan lurus ke matahari.

Engkau, perempuan pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun,
menjadikanku berhala yang hidup. Dan lilin-lilin yang dinyalakan
menemukanku hari ini, dalam puisi-puisi.
24 tahun berlalu, aroma kembang jagung membesarkanku,
terus membesarkanku hingga umur sirna dan rohku
kembali pada muasalnya.

Yogyakarta/Tang Lebun, Agustus 2008


Malam Seribu Bulan

Inilah malam, langit ditumbuhi seribu bulan
bagai biji-bijian surga yang retak, lalu cahayanya berpendar
menerangi wajah-wajah kusut.
Aku, lelaki yang menjanjikan malapetaka,
menunduk pelan-pelan bagai seekor kucing yang malu.
Dan budak-budak yang melupakan tanah kelahirannya
bersandar pada pohon kelapa yang kering.

Sebelas bintang yang redup menceritakan sumpah malam:
demi tikus jantan di antara plastik yang becek
demi sampah-sampah yang berserak
demi bau pesing kencing kaum gelandangan
demi pedang pembunuh bayang-bayang
demi jiwa-jiwa yang diasingkan.
Malam ini, kitab-kitab tua dibacakan,
sang penyaksi menarik kain sutera ke selatan
melampaui usia dan amal perbuatan.

Dua belas burung keong berkepak di udara,
menyerupai malaikat yang bersayap, berpencar di atas air surga
menemui kubur anaknya di atas bukit.
Aha! Tak ada yang dapat menyangsikannya
kecuali aku, lelaki penjaga malam,
yang meniup wajah-wajah yang redup.

Yogyakarta/Tang Lebun, Agustus 2006-2008 




Ahmad Muchlish Amrin Lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya telah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan lain-lain.Bulan Oktober 2009, ia diundang untuk presentasi dan membacakan karyanya di Festival International Ubud Writers & Readers di Ubud, Bali. Kini mengelola Komunitas Tang Lebun di Yogyakarta.




Powered by Blogger.