Header Ads

Puisi-Puisi Sabaruddin Firdaus di NUSANTARANEWS.CO antara 9 Oktober dan 4 Desember 2016


Realistic yet abstract paintings by Eduardo Mata Icaza

Pada Jam 00

Sebelum pergi
Ia bergumam lirih padaku,
“Segera temukan dirimu.
Dan jangan tanya siapa waktu sebenarnya?”

Ke masa lalu ia berpulang
Tapi kita menyebutnya kenangan.

Malam ini udara lembap
Hujan turun mewarnai pesta.
Angin membaca nama-nama
Yang timbul dan tenggelam di sepanjang jalan
Gencatan kembang api di angkasa
Membocorkan rahasia langit
Mengharap bintang keberuntungan jatuh ke garis nasib.

“Selamat tahun baru!” serunya.

“Untuk apa?” sesekali kau bertanya.

Dalam hitungan detik, ia segera hilang
Tapi, ia meninggalkan pesan pendek padaku:

Tulislah aku.

Pedak Baru, Januari, 2016


Sebelum Kutulis Puisi

Sebelum kutulis puisi
Aku mendatangi keramaian pasar
Setelah itu aku pergi ke tempat yang paling sunyi
Hujan turun pada daun-daun pikiranku
Malam memberkatiku dengan kemegahannya
Aku melihatmu di sana, ringan bagai hantu
Terbang dari ranting ke ranting pikiranku.

Kau berada diantara
Dulu dan kini
Bagai dongeng
           

Sebelum kutulis puisi
Kutaklukkan seluruh bentuk wujudmu
                                    Dunia
Melebur halus dalam kata-kataku.

Aku memasukimu
Hanya rupa-rupa kosong

Sebelum kutulis puisi
Kupastikan aku menuliskanmu

Gowok, 19 November 2014


Tentang Perempuan Tua

Di atas rel kereta
Ia langkahkan kakinya yang bengkok
Menembus pagi.
Di pundaknya karung penuh tumpukan cemas
Dan ia menggendongnya dan dengan terhuyung-huyung

Tak ada wajah penyesalan yang dinyanyikan
Tapi ia kehilangan alamat rumahnya
Dan anak-anaknya.
Kemudian ia berhenti di warung makanan
Menghibur diri
Betapa ia bersandar diri pada pada harapan.

Pinggir Rel, 2013


Kepada yang Kalah

Becermin hanyalah ketakutan
Menenggelamkanmu
Pada masa tuamu

Kau ingin kembali ke masa kanak
Belajar berdiri kekar
Berjalan tidak terpeleset,
Agar hidup tak hanya sebatas bayang-bayang

Di rumahmu tak ada anak-anak menghiburmu
Hanya pohon-pohon sepi memagari penderitaanmu
Lalu kau memilih tidur pulas dalam gelap kamarmu
Meski para tamu lelah mengetuk pintu

Angkringan Pendowo, 2013


Biarlah dalam Diri Aku Berdiam

Tak mampu aku mencintaimu lebih dalam
O, dunia yang tidak jernih lagi
Biarlah dalam diri aku berdiam
Karena di luar ketegangan berkobar
Dan ketakutan menyelinap bagai cahaya

Aku dan kau semakin dekat pada kehampaan
Kita seolah ada, tapi tidak dapat meraba

Aku tak bisa menyentuhmu
Cinta datang
Lepas dari kemurniannya

Aku tersesat dalam kesunyian hutan
Lagu-lagu derita mengikutiku
Dan pada keputusasaanku
Aku ingin menemukanmu

Yogyakarta, 2013


Puja-Puja Puncak Derita

Ketika alismu membangkitkan hasrat
Ketika parasmu menyusup sayup mengusap hati
Cinta mengalun panjang merumrum keterpencilan diri
Merengkuh tubuh di dasar harap.

Kau kupuja-puja di puncak derita
Mencambuk rindu yang bertahun-tahun
Menyimpan bara kesia-siaan
Lahir pilu dari jejak waktu sendiri

Tak dapat kausentuh dengan jemari hatimu
Tak dapat kaugenggam bara ini dengan parasaanmu
Betapa namamu kunyanyikan ke dalam gelanggang senyap
Lalu pikiran terbang ke udara gelap
Melewati malam kelam
Melewati sepi menikam-nikam.

Kini, harap mengendap dalam desah
Mengurai mimpi ke suatu entah.

Desember 2012-Februari 2013   



Sabaruddin Firdaus, pengkhusyuk sastra, penata dan pengelola kopi, tinggal di Yogyakarta.


Powered by Blogger.