Wednesday, 27 November 2019

PUISI PERTUNJUKAN: SEBUAH PRAKTIK YANG MUNGKIN DITEROBOS

0
Sumber gambar: g/ www.pexels.com
Oleh: Mahendra Cipta

***
Puisi, seperti seorang gadis seksi, yang selalu mengundang hasrat untuk terus diperebutkan. Baik hanya sebagai perbincangan atau sebagai kerja ladang perburuan. Oleh karenanya sampai sekarang puisi terus dituliskan dan dibicarakan. Ia seperti sumur tanpa dasar. Sumber inspirasi. Membayangkan kemolekannya kita seperti diseret ke dalam semesta mimpi-mimpi. Sebuah telaga hasrat yang menjanjikan mata air fatamorgana. Di sinilah, seperti kerja-kerja kesenian yang lain, laiknya sebuah ‘pukauan’. Sebuah mesin hasrat yang menyimpan kutub ‘ke luar’ dan ‘ke dalam’. Sebuah medan katarsis kesadaran, tempat leburnya kemanusiaan.
Saya menengarai ada tiga hal penting kenapa puisi bisa begitu; pertama puisi sebagai pencatatan perjalanan. Seberapa penting sebuah perjalanan dicatatkan, tentu setiap orang akan berbeda pandangan. Sebab di dalam kerja pencatatan itu, ‘pengalaman’ menjadi sebuah kunci bagi pengetahuan. “Pengalaman adalah guru yang paling baik” menunjukkan kerja pencatatan ini. Sehingga dalam pandangan-pengalaman pengetahuan seseorang menjadi sublim di dalam dirinya dan absolut sebagai proses pencarian. Perbedaan pengalaman hanya akan semakin menebalkan keyakinan kita bahwa sebuah pengalaman penting untuk dicatatkan—kemudian dipertentangkan. Sehingga dalam tegangan itu, setiap orang dapat mengambill pelajaran yang sangat penting akan proses hidup. Pengalaman dalam kerja proses menyimpan double effect sekaligus, pelaku dan apresian (pembaca dan penonton) dalam kerja seni. Oleh karenanya sejalan dengan seorang pemikir Rusia; “saya datang ke gedung-gedung pertunjukan, melihat pameran di galeri, mendengarkan puisi, menonton teater, atau kerja membaca laporan perjalanan, tidak dalam maksud apa-apa, melainkan hanya ingin mengulang sebagai manusia, merasakan kembali bahagia, menangis dan penderitaan”, sebuah puisi dia hadirkan kembali. Kedua, jelas di dalam puisi menyimpan virtue (hikmah). Seperti banyak tokoh menuliskan, bahwa puisi adalah ilham. Maka ia datang kepada siapa yang dikehendakinya. Puisi yang memilih penyair bukan sebaliknya. Saya yakin puisi seperti nasib, seperti takdir kehidupan bagi pelakunya. Dalam nalar spontan semacam ini, maka puisi seperti ayat-ayat kebenaran dan menyimpan hikmah-hikmah yang dapat dijadikan pencerahan. Hikmah artinya menyimpan kebaikan-kebaikan, baik sebagai pelajaran atau sebagai pengalaman.
Oktavio Paz berkata “puisi adalah pengalaman batin seorang penyair”, apa yang bisa digali dari kerja batin yang samar selain hikmah. Sebuah kerja rahasia yang menyimpan banyak kemungkinan dan ketakterdugaan-ketakterdugaan.
Ketiga, sense of critic. Sebagaimana sense of critic sebagai urat nadi proses seni. Begitulah kerja puisi menjadi semangat kritis setiap orang. Sehingga dalam semangat itu kita saling mengkoreksi perjalanan kebudayaan yang lebih besar. Puisi membangkitkan keberanian untuk ‘berkata tidak’ kepada kenyataan. Semacam eksistensi Camus yang menganggap bahwa ‘memberontak’ adalah sebuah jalan menjadi manusia seutuhnya. Cita-cita setiap orang untuk sampai kepada insan kamilnya Iqbal atau Ubermenczsh-nya Nietzsche. Dan Rendra kemudian mengkongkritkan perjuangan melalui kata-kata “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”, ujarnya.
Pertanyaannya bagaimana sebuah puisi yang dituliskan hanya dari kamar saja?
***
Begitulah puisi, memukau sekaligus menggeser. Ia adalah rumah ada. Sebuah keberadaan yang disebut Al-Ghazali sebagai rumah keabadian. Puisi adalah ruang kehadiran dan menghadirkan kembali. “Puisi tidak mencari keabadian melainkan menghadirkan kembali”, Paz menambahi dalam sesi yang lain.
Seperti saya sebutkan di awal, bahwa puisi merupakan sebuah mesin hasrat yang terus memicu kegelisahan dan kecintaan orang-orang. Kehendak untuk menunjukkan dirinya sebagai eksistensi. Maka bagaimana puisi akan hadir, puisi (akan) bisa dihadirkan dari kerja lain dari puisi itu sendiri.
Puisi seperti ruang tanpa batas. Puisi menyimpan kesemestaan. Sehingga bisa didekati dengan berbagai cara, berbagai metode, berbagai keinginan. Di sinilah, justru puisi akhirnya membuka ruang kreatifitas yang lain. Sebuah kerja seni pertunjukan yang multi dimensi.
Maka orang-orang terus berupaya untuk menjadikan puisi. Menjadikannya sebagai ruang kesadaran bersama masyarakatnya (komunitasnya). Maka model kehadiran puisi juga menjadi kegelisahan yang lain. Dan ketika ‘puisi dibacakan’, puisi menjadi kompleks dan lebih terbuka, baik secara audio visual. Sebab di dalam pembacaan puisi (deklamasi puisi) seluruh unsur di dalam ruang itu harus dipekerjakan, pembaca-penonton dan puisi itu sendiri.
Pembacaan puisi (deklamasi puisi) pada hakikatnya –menurut saya— sebuah  seni pertunjukan. Oleh karenanya bagi seorang pembaca puisi, diperlukan berbagai hal untuk bisa menjadi pembaca puisi yang baik. Harus memahami, pe-lafal-an, jeda, intonasi, dan ekspresi. Maka latihan (eksplorasi) adalah harga mati. Lafal, bagaimana sebuah proses untuk menyampaikan bunyi bahasa, baik kata perkata (artikulasi), kalimat, frasa, yang sesuai dengan maksud dan jiwa puisi dalam pembacaan. Jeda, bagaimana memotong dan mengolah nafas dalam mengucapkan kata. Intonasi, ketepatan nada, penekanan tinggi rendah suara dan irama dalam pembacaan. Ada tiga hal penting di dalam intonasi; tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo.  Ekspresi, mimik wajah yang menunjukkan perasaan teks, dan gerak (pantomimik) dalam menunjukkan (senang, sedih, bahagia, marah dan seterusnya) di dalam puisi.
Faktor keempat ini adalah faktor di luar bahasa, sebuah kerja lain di luar teks puisi yang tidak kalah penting untuk menunjang kehadiran sebuah puisi sebagai seni pertunjukan; sikap, mimik dan gerak (pantomimik), volume suara, kelancaran dan ketepatan (hafalan).
Orang-orang terus berupaya menggali apa yang dikandung puisi. Bahwa di dalam puisi ada musikalitas, bahwa di dalam puisi ada manusia yang ikut tumbuh, bahwa ada sebuah kerja kebudayaan yang sedang berlangsung sebagai kenyataan yang terus bekerja.  Kerja kehadiran ini adalah rekayasa puisi sebagai sastra pertunjukan bisa berupa, musikalisasi puisi yang dipentaskan dalam bentuk; ilustrasi puisi, dengan cara puisinya dibacakan –baik individu, kelompok dan diiringi musik. Musik puisi, dengan menjadikan teks puisi sebagai lirik lagu. Dan puisi disajikan secara musikal-performence.
Tidak selesai di situ, tentu karena sebuah puisi adalah cita rasa yang lahir dari pengalaman batin. Menganalogikan bahwa sebuah puisi adalah kisah manusia, perjalanan hidup yang menyimpan banyak fragmen. Sehingga kemudian ada orang-orang yang menghadirkan puisi melalui seni pertunjukan teater yang utuh.
Bila puisi dipentaskan dengan memperhitungkan tata pentas seperti dalam teater, ada setting, blocking, tata rias, kostum, gerak tari dan musik, maka disebut teatrikalisasi puisi. Jika puisi dipentaskan dengan memilih puisi yang memuat karakter untuk dimainkan oleh beberapa orang yang memainkan karakter yang ada dalam puisi dan disertai elemen-elemen teater, maka ini disebut dramatisasi puisi.
***
Pada akhirnya sebuah puisi adalah pencarian terus menerus seorang manusia akan kebenaran (dirinya). Sejatining urip. Oleh karenanya maka menulis puisi seperti menjaga siklus dunia agar terus dijalankan dan digerakkan. Maka pencarian akan puisi dan bagaimana menghadirkannya sebagai kerja kebudayaan tiada batasnya. Dan setiap orang mempunyai metode dan ruang ekspresi-kreatifnya sendiri-sendiri. Eksplorasi dan eksperimentasi harus terus dipraktikkan. Dan kita tidak perlu takut untuk menggali dan mencoba. Jika kita menengok ke masa lalu, maka kita akan menjumpai bagaimana sebuah kerja sastra adalah (juga) kerja pertunjukan. Orang-orang tua kita dulu mempunyai tradisi seni pertunjukan puisi yang begitu dahsyat, melalui mantra dan ritus-ritus sastra pertunjukan, rokat misalnya. Kita bisa menyebut macopat (mamaca), pojjhian, dhammong, syi’iran, sandur, sintung dan banyak lagi khasanah tradisi sastra pertunjukan yang terus berlangsung sampai sekarang.
Pertanyaannya, sudahkah kita berpikir kenapa puisi butuh corong lain untuk kehadirannya? Kenapa hari ini banyak puisi dituliskan tetapi tidak banyak yang berbicara?
Jangan-janga seperti dugaan saya, justru ketika puisi meninggalkan folklore maka puisi hanya akan melahirkan penulis puisi saja.

Language Theatre, 2019

*) tulisan ini di sampaikan pada acara diskusi Maulid Puisi #3 di Gubuk Kata-Kata, Sampang dan terbit di Radar Madura 24 November 2019.


 

dco/ arsippenyairmadura.com
Mahendra, lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Sempat singgah di Yogyakarta dan menyelesaikan S1 pada jurusan Theology dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat pada aktivitas-aktivitas lingkungan hidup, sosial, budaya dan kesenian. Pernah bergiat di beberapa kelompok kesenian; Teater Eska Yogyakarta, Rumah Arus Community Yogyakarta, SPPY (Sindikat Penyair Pinggiran Yogyakarta), Krikil Freelance, Therminal Kuman Experimente De Arte. Di tengah kesibukannya membina sanggar-sanggar pesantren dan sekolah-sekolah dengan kekawan mencoba membangun jaringan kesenian dengan Taneanlanjhang Culture-Art Exebition. Selain sebagai pemulung (penyuka teater, tari dan musik), dia juga menulis naskah teater, essai, artikel dan puisi dan sebagai aktor dan sutradara dalam banyak pertunjukan. beberapa puisinya dimuat dalam antologi bersama; Ketika Pinggiran Menggugat (Yogya, 2003), Atjeh, Kesaksian Penyair (Yogya, 2005), Nemor Kara (Balai Bahasa Surabaya, 2006) dan antologi puisi mutakhir Jatim: Pasar yang Terjadi Malam Hari ( Dewan Sastra Sby, 2008). Antologi puisi Festival Bulan Purnama Majapahit (DK Mojokerto 2010), Dzikir Pengantin Taman Sare (Bawah Pohon Publishing 2010), dan Hijrah (Sanggar Bianglala, 2011). Diundang dalam TSI-4 Ternate Maluku Utara, dan terkumpul dalam antologi Tuah Tara No Ate (2011). Kini bersama kawan-kawannya mengelola Language Theatre Indonesia.

Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment