Saturday, 4 January 2020

PUISI DAN RUANG: MENAJA WAJAH MURUNG MADURA

0

Oleh: Ahmad Kekal Hamdani

Pendahuluan

Lumrah dipahami bahwa ruang puisi adalah ruang sunyi—untuk tidak dikatakan asing dan eksklusif. Puisi berada dalam territorial yang intim dan bernegasi dari hiruk pikuk dunia sehari-hari yang sibuk dan gaduh. Puisi telah mengalami mistifikasi sedemikian rupa sejak angkatan pertama dari generasi kepenyairan di Indonesia. Seperti memasuki suatu ruang yang sengaja dibikin remang, gelap, jauh dan dingin, puisi kerap diperlakukan sebagai suatu pengambilan jarak dari kebanyakan fenomena keseharian yang artifisial.

Momen puitik sebagai pijar kreatifitas dikonstruk sebagai sesuatu yang tak sosiologis. Khas indivudu. Subjektif. Iklim sastra sendiri melegalkan hal ini dengan mengabsahkan bahwa setiap penyair mesti memiliki sikapnya yang khas dan unik—dalam arti memiliki sifat batin. Itu sebabnya sudah menjadi agama (yang tak terlembagakan) bahwa puisi mesti ingkar dan menjauh dari keumuman dan pengulangan. 

Tidak hanya dalam strategi literer, puisi sebagai suatu pertunjukan pun kerap kali didesain demikian. Resitasi sastra memiliki bilik sendiri yang angker dengan tata ruang yang temaram dan hening. Hal yang demikian semakin mengental sekitar tahun 1970-an ketika lembaga-lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian dan Taman Budaya yang hampir terdapat di seluruh daerah di Indonesia menciptakan laboratorium semacam Taman Ismail Marzuki di Jakarta.

Lukisan karya Hidayat Raharja.
Orang-orang liar dalam lingkaran pergaulan kesenian akhirnya ditundukkan dan dipelihara dalam suatu ruang darurat di mana mereka yang menyempal ditundukkan. Diberi gengsi layaknya kelas sosial borjuis lengkap dengan gaya hidupnya. Mereka dipersilahkan merayakan dan berbicara perihal kesunyian dan pengalaman mistik di buku-buku dan ruang teathre tempat mereka dapat menjual tangisan dan aksi badut lewat semburan kata-kata. Tapi secara bersamaan dijauhkan—bahkan menjauhkan diri—dari sandiwara sebenarnya yang berlangsung di bawah aktor tunggal kapitalisme dan hipermodernitas yang telah menjadikan politik dan represi negara sebagai alat terbaiknya.

Jadi tidaklah mengherankan bila “iklim sastra” hanya dikuasai dan dinikmati sendiri oleh lingkaran sastra itu sendiri. Hal ini sudah merupakan anugerah yang tidak terkira bagi kita yang telah membiasakan diri dengannya: semacam iman bersama dalam lingkungan kerja kesenian bahwa seni tinggi itu tak bisa dilampaui oleh setiap orang dan kalangan. Penyair tenpenjara di dalam ruangan yang paling nyaman untuk ia tinggali yakni imajinasi dan superioritas palsu. Gejala laten ini merupakan fenomena umum yang sebenarnya juga terjadi di banyak kalangan masyarakat lain.

Namun sejak menggelembungnya kultur sosial-media, puisi telah mendapatkan sebuah wilayah baru yang tanpa batas. Puisi-puisi bertebaran layaknya sampah yang mudah saja dicampakkan—sekaligus dipungut—ke sidang pembaca. Lewat status Facebook, ocehan di Twitter, dan ruang maya lainnya yang serupa. Kenyataannya memang “sampah” tidak lagi dimaknai sebagai hal negatif—setidaknya bagi sebagian orang—karena di negara ini tak sedikit yang memang bertahan dan melangsungkan hidupnya dengan mengais sampah. Memelihara yang tersisa dan memungut yang dianggap tak penting.

Sastra kini tampaknya memang berada dalam suatu atmosfir yang sangat kompleks. Ia sebenarnya tak dapat kita sempitkan sebagai politik literer yang termaktub dalam teks-teks bisu di atas kertas yang dicetak dan dijilid dalam mesin produksi besar-besaran. Karena teks tak demikian saja dapat hadir sendiri ke tangan pembaca. Ia melewati suatu arus rumit dari lingkungan budaya di mana nilai-nilai dan aktifitas sosial bergerak dari ruang ke ruang, dari personal ke kolektifitas pencercapan suatu masyarakat yang “tak bersih”—meminjam istilah Afrizal Malna. Sastra dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bergerak tidak hanya dengan satu cara. Lingkungan teks—yang tak terbatas secara pemaknaan—tak dapat sepenuhnya melakukan kontrol-kontrol politis untuk menggiring pemahaman pembaca tanpa faktor-faktor yang bergerak di luar teks.

Itu sebabnya catatan kecil ini berupaya melakukan refleksi atas kondisi-kondisi di mana sastra dapat dilihat dari hubungannya dengan faktor-fator di luar dirinya. Mempertanyakan kembali bagaimana laku dan sikap pelaku sastra (puisi) melakukan upaya-upaya konstruktif bagi sastra itu sendiri dan dunia di sekitarnya. Dalam hal ini saya mencoba mengambil satu dua contoh kasus bagaimana hal ini dapat kita gali bersama melalui puisi-puisi yang ditulis oleh M. Fauzi dalam karya mutakhirnya “Migrasi Hujan” dan Benazir Nafilah dalam “Madura: Aku dan Rindu”.

Kuasa Imaji dan Imaji Kuasa

Imajinasi tentang Indonesia—sejak awal dikibarkan upaya-upaya revolusi kemerdekaan—dibayangkan sebagai suatu perasaan sepenanggungan (yang seakan-akan) dapat melampaui kenyataan riil yang dihadapi oleh kompleksitas kultural-politik daerah-daerah jajahan. Para Founding Fathers barangkali menyadari bahwa upaya deklarasi kemerdekaan hakikatnya hanyalah gerbang awal memasuki Indonesia sebagai suatu “persoalan” bersama.

Suatu negara dibangun untuk mengikat imajinasi ini dalam suatu komitmen dan keterlibatan bersama. Setiap individu—dengan sadar ataupun tidak—ditarik dari “pribadi” lantas dilibatkan dalam kepentingan umum untuk bersiaga dari luar diri mereka sendiri. Konstruk ini mendapatkan ledakannya dari represi dan “rasa sakit” yang sama atas upaya-upaya kolonialisme mengeruk kekayaan mental dan materiil daerah-daerah di Nusantara.  Kejumudan maupun rasa sakit dari masa lalu dan imajinasi tentang masa depan dihadirkan secara serentak dalam tubuh hari ini dalam perwujudan (yang dibayangkan) cita-cita milik bersama.

Dalam memandang masa depan dan arah tujuan yang dipercaya sebagai cita-cita bersama inilah Indonesia lantas lahir dari rahim jadah idealitas negara-negara kolonial. Dalam Orientalism (1979) Edward Said menjelaskan bagaimana Barat secara intelektual telah menciptakan dunia Timur (negara-negara pascakolonial). Sejalan dengan banyak sarjana beranggapan bahwa negara-negara pascakolonial dalam struktur, konsep kebijaksanaan dan ideologinya merupakan fotokopi negara-negara kolonial.

Lewat upaya-upaya kanonik ilmu-ilmu oriental, Nusantara dibentuk dalam gambaran-gambaran moei indie (Hindia Molek). Indonesia tak ubahnya seperti lukisan Moei Indie yang berarti ‘Hindia Molek’, yang tak hanya secara visual memiliki bentuk indah, permai, dan damai. Tetapi lebih dari itu, secara konsep dan muatan di dalamnya ia memiliki misteri yang mengancam, sebuah kegelapan apokaliptik dari abad yang menyembunyikan “keliaran dan kebuasan” adabnya di balik kecantikan.[1]

Lewat gambaran kecil narasi-narasi seperti di ataslah sebuah masyarakat baru dibentuk. Politik, ilmu pengetahuan dan kesenian memberikan peranan yang hampir serempak dan resiprokal dalam membentuk kesadaran bersama, merebut ruang-ruang publik, dan menanamkan belantara kesadaran ke tiap individu yang dilepaskan dari dirinya untuk mengambil imajinasi (pembayangan sepenanggungan) serta komitmen dari sebuah ikatan territorial politik—maupun kepentingan. Komitmen ini lantas dibangun di atas fondasi-fondasi ideologis di mana struktur-struktur kepentingan dibangun di atasnya.

Sayangnya, banyak kalangan (termasuk sastrawan) beranggapan bahwa imajinasi bersama ini telah final dibentuk bersamaan tercapainya proklamasi politik bangsa Indonesia. Ilmu pengetahuan dan kesenian akhirnya datang dan diserap sebagai sesuatu yang objektif; lepas dari ikatannya secara kontekstual zaman dan ruangnya. Revolusi kemerdekaan dan politik dipahami sebagai hasil akhir dari sebuah upaya dari integrasi sosial-budaya yang hingga kini bergulir.   

Kosmologi Murung dan Madura sebagai Wajah Politik

Tiap-tiap kita di dalam suatu lingkungan geografis tertentu selalu memilki cara untuk bertahan, beradaptasi serta menghayati lingkungan di mana ia tinggal. Lingkungan geografis sebagai suatu biografi tubuh masyarakatnya memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk pandangan hidup juga produksi-produksi nilai di dalamnya.

Telah lama sekali kita mencoba memberikan arti dan hubungan yang erat dengan alam di mana kita tinggal. Mengenalinya, memberi makna padanya, mengolah dan mendaya-gunakan faktor-faktor material alam untuk kepentingan keberlangsungan hidup mereka. Sejak jaman batu hingga teknologi industri alam telah memberikan ilham kepada kita membangun peradaban. Tiap-tiap peradaban melihat alam dengan kosmologi yang berbeda-beda namun tak satu pun di antaranya yang dapat melepaskan diri dari faktor alam maupun kosmos tersebut.

Ikatan kita dengan alam telah dimulai sejak agama-agama dan mitologi purba terlahir. Kepercayaan dan mitologi ini menjembatani bagaimana manusia melihat alam sebagai gambaran dari wajah Tuhan. Penghayatan terhadap alam mengantarkan manusia ke tangga-tangga spiritual menuju yang Maha. Nabi Ibrahim (Bapak para nabi) terlebih dahulu menyembah—merenungkan—alam sebelum akhirnya menjumpai Allah sebagai Tuhan satu-satunya pemelihara yang paling mungkin dan mengatasi segala sesuatu.

Peradaban mesin bangkit dengan mempelajari sifat-sifat alam dalam labotorium modern. Membangun gedung-gedung pencakar menggantikan keindahan gunung dan bebukitan. Jembatan-jembatan  dibangun menghubungkan pulau-pulau dan menggarisi selat-selat. Menghubungkan aktifitas perdagangan ke dalam suatu agenda industri dan gaya hidup konsumtif yang mengerikan. Sekolah-sekolah bertingkat dibangun untuk menciptakan budak bagi hasrat menundukkan alam dan mengasapi ambisi manusia akan kejayaan--sebelum akhirnya memasuki bilik-bilik alienasi. Manusia menjadi mesin pengeruk yang berlipstik, Raksasha dalam wujudnya yang paling cantik.

Kesadaran ruang ini tak hanya menimbulkan suatu keinsafan manusia sebagai bagian dari alam akan tetapi (cita-cita konyol) sebagai penakluk dari kenyataan material di sekitarnya. Potensi alam semesta sebagai penyedia sumber daya dipandang sebagai sesuatu yang disemenakan dalam memenuhi ambisi-ambisi material yang ada. Kita lantas tidak cukup mengetahui—lantas menguasai—tapi juga mengeluarkan seluruh ambisi eksploitatif atas ruang dan yang terdapat di dalamnya. Superioritas inilah yang kemudian berlanjut atas usaha-usaha rasionalisasi atas tindakan-tindakan timpang, ekspansif dan eksploitatif: baik atas nama individu, nasionalisme bahkan agama.

Kegilisahan-kegelisahan di atas tampaknya juga menjadi suatu latar bagi beberapa penyair Madura generasi mutakhir dalam melakukan penghayatannya dalam satuan geografis “kecil” alam lokalitas Madura. Meski sangat minim kesadaran di atas ditransferensikan ke dalam puisi-puisi yang merasuk ke dalam wilayah sosial-ekonomi dan politik. Sebagian besar merupakan kosmologi yang dibentuk dari penghayatan-penghayatan teologi-sufistik khas pesantren. Hal ini tentu bukan tanpa alasan—walau hal ini merupakan fragmentasi dari realitas riil yang sejatinya subordinasi dari budaya yang lebih holistik—karena Pesantren merupakan suatu pendidikan “kultural” yang dominan di Madura.

Hal ini terlihat jelas dari diksi-diksi alam yang sangat pekat dan mengental dalam strategi-strategi penggarapannya. M. Faizi yang menggarap kosmos dan simbolisme alam semesta dalam anggitan religiusitas (lihat Permaisuri Malamku, Diva Press 2011). Hidayat Raharja dengan lirisisme romantiknya. Timur Budi Raja tampak seperti mengemas Madura dalam suatu ransel dan melakukan sublimisasi akan alam Madura yang hilang dalam perjalanan aku lirik-biografisnya (lihat Opus 154, AkarHujan Press 2012). M. Fauzi yang merekam peristiwa dramatik dalam lalu lintas diksi urban dan alam Madura. Madura yang curiga dan skeptik. Dua terakhir sama-sama menggunakan diksi benda-benda artifisial dan istilah dari abad hyper-modern meski dalam perilaku dan visi yang berbeda.

Dalam beberapa puisi Hidayat Raharja—terutama yang ditulis antara tahun 2011 sampai 2014—tampak menandai akhir dari romantika alam yang perawan dan murni dalam menjelaskan gejala alam Madura yang gemulai seperti dalam puisi-puisi D. Zawawi Imron. Puisi-puisi D. Zawawi Imron tampaknya merangkak dalam binar mata kanak yang takjub memandang dunia (baca Refrein di Sudut Dam, Bentang Budaya 2003). Hidayat Raharja setia terhadap lirisisme-romantik namun mencoba membangun jembatan yang melihat alam Madura sebagai gejala dari lungkrahnya struktur dan nilai lama.

Migrasi Realitas ke Bahasa dan Bahasa ke Realitas (Tentang Puisi M. Fauzi di Migrasi Hujan)

Konsekuensi dari respon aku lirik dalam puisi yang ditulis oleh penyair-penyair Madura terhadap kesadaran akan ruang dan waktu yang menghidupinya memang beragam. Namun dalam banyak kesempatan saya kerap mengatakan bahwa setidaknya terdapat dua pola besar dari penyair Madura dalam memandang ke-Maduraannya. Pertama, mereka yang melihat Madura sebagai idealitas murni. Yakni mereka yang berdekat-dekat dengan lirisisme alam luar—yang masih murni dan melambai—dan alam dalam dirinya sendiri. Kedua, mereka yang melihat Madura sebagai problematika. Madura yang terancam. Madura yang bocor dan terbelah. Madura yang menyambut apa-apa yang dari luar dirinya, baik konstruktif maupun sebaliknya.

Saya melihat M. Fauzi sebagai bagian kedua. Hal ini semakin menajam jika kita menelisik puisi-puisi M. Fauzi sebagai suatu karikatur yang nyiyir. Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang cenderung memiliki struktur yang simple dan kokoh. M. Fauzi menarik tubuh kreol dari benturan nilai antara yang tradisional dan modern juga sebagai strategi tipografisnya. Memang sangat mudah kita terjerembab dalam rasa capai dalam memasuki struktur puisinya yang barangkali aneh—untuk tidak dikatakan mengada-ada. Mungkin hal ini adalah suatu sikap kesadaran yang lain, di mana bahasa yang paten juga mewakili Madura yang stagnan. Bukan ketentraman dan kesederhanaan daya ucap barangkali yang ditujunya, tapi harmonisasi dari yang amburadul pada apa-apa yang dirancang dalam diksi-diksi yang dipilihnya.

Dari Rahim Madura (Tentang Puisi Benazir Nafila dalam Madura: Aku dan Rindu)

Dalam banyak kasus kita barangkali akan sangat mudah untuk menuduh bahwa jika seorang istri menulis puisi dan rupa-rupanya suaminya nota-bene seorang penyair pula, intersubjektifitas dan saling keterpengaruhan pasti terjadi. Tentu pandangan semacam ini rentan berada dalam suatu paradigma patriarkis jika dipandang dari posisi gender, serta potensial terjadi jika kita lihat dari keterpengaruhan pergumulan yang intens gagasan maupun laku dalam suatu pola hubungan yang intens. Tentu sangat debatable.

Tapi dalam kasus karya-karya Benazir Nafilah—terutama dalam antologi puisi tunggalnya yang pertama; Benazir, Memberi dan Hutan— saya meyakini hal ini terjadi. Kita bisa melihatnya dari keintiman dan keseragaman pola-pola metaforik yang ditulisnya sangat berdekatan dengan karya-karya M. Fauzi. Namun saya tak melihat ini sebagai sesuatu yang problematis. Saya menginsafinya sebagai suatu bagian dari suatu proses puitik yang paling penting; jujur dan sederhana. Kesahajaan.

Berkat kesetiaan dan ketekunannya terhadap kesederhanaan itulah barangkali, Benazir sampai dalam perwujudan karyanya yang seperti kini. Terdapat tema-tema penting yang bisa kita catat dalam puisi-puisi Benazir, dan itu semua ia mulai dari sebuah ruang paling intim yakni keluarga. Aku lirik yang dihadirkan mewakili beberapa peran yang memang tak jauh dari dirinya sendiri; Perempuan, Kekasih (Istri), Ibu, bahkan dalam satu dua puisi ia membayangkan dirinya sebagai yang di luar “Perempuan”.[2] Ia seperti sebuah dentuman lembut yang menghambur kepada persoalan-persoalan di sekitarnya.

Sangat langka kita mendapati penyair perempuan asal Madura, baik yang di perantauan maupun yang bermukim di kampung halamannya. Benazir adalah contoh dari pengecualian hal ini. Tak tanggung-tanggung Benazir menggarap tema-tema lokal—yang meski di banyak sisi belum menyentuh dan menghadirkan persoalan faktual—dengan kepiawaian puitik yang saya kira cukup mengejutkan. Saya menemukannya di dalam puisi-puisinya, seperti: Tembakau, Singkong, Suramadu, Cuaca Madura, Jika, dll.

Bagian Awal dari Sebuah Penutup

Barangkali puisi menjadi suatu refren dan pembendaharaan yang paling kaya secara kuantitas dalam melakukan rekaman kenyataan (kontekstualisasi) alam Madura dibanding catatan-catatan etnografis yang ada. Hanya saja kesadaran puisi sebagai suatu catatan historis maupun pustaka intelektualitas masihlah sangat minim dalam proses reproduksi nilai yang ada. Hal ini tidak hanya rentan menimbulkan miskinnya kajian serta minimnya interpretasi atas gejala-gejala sosial budaya yang ada, tetapi juga—secara otokritis—laten mendudukkan puisi sebatas berkedudukan sebagai seni untuk seni.

Apa yang ingin saya tunjukkan—melalui pembacaan kecil saya—dari tiap-tiap bagian dari tulisan ini adalah kenyataan bahwa puisi (dan mungkin juga penyair) menempati sebuah ruang yang tanpa batas di mana segala hal baik yang sifatnya fundamental maupun yang berbasis material (struktur) selalu berada dalam ketegangan untuk saling mempengaruhi. Pertanyaan yang lebih penting dari kesadaran yang demikian bahwa bukan lagi bagaimana sebuah puisi hidup (indah) dan menghidupi dirinya sendiri, akan tetapi bagaimanakah puisi menjadi berarti—khususnya dalam mempengaruhi dan memberikan timbal balik yang signifikan bagi persoalan riil dan spesifik di luar dirinya? Pertanyaan ini bagi para aktifis dan pegiat sastra akan mudah percaya bahwa bukan “puisi” yang penting, tapi bagaimana kita menciptakan suatu kondisi puisi bisa dimungkinkan lahir dan meresap ke dalam persoalan bersama untuk mengawal perubahan yang dibutuhkan. Terima kasih. []

Yogyakarta, 2015 

Ahmad Kekal Hamdani, penyair berdarah Madura ini lahir di sebuah panti Katolik di kota Jember 5 Agustus 1987. Tahun 2000 hingga 2008 menghabiskan waktunya belajar di beberapa pesantren di Madura, sebelum akhirnya hijrah ke Yogyakarta. Menulis puisi dan esai sastra-budaya. Tulisannya tersiar si media massa lokal dan nasional seperti Horison, Basis, Suara Medeka, Jawa Pos, Minggu Pagi, Bali Post, Majalah GONG, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, dll. Puisinya termasuk dalam antologi Pedas Lada Pasir Kuarsa (TSI Bangka-Belitung, 2009), Antologi Puisi Musibah Gempa Padang (Kuala Lumpur, 2009), Pesta Penyair Jawa Timur (Dewan Kesenian Jatm, 2010), Narasi Tembuni (KSI, 2012), dll. Sejak akhir 2008 bersama kawan-kawan membangun komunitas-Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta. Selain menulis, aktivitas senggangnya adalah melukis, kini mukim di Pamekasan. Buku puisinya Rembulan di Taman Kabaret (Kendi Aksara) dan Gembala Tidur (Indie Book Corener). Kini menetap di Pamekasan, Madura.




[1] Dalam sejarah seni rupa modern misalnya, kita mengenal sosok Raden Saleh yang beberapa kalangan terutama di masa-masa awal revolusi menganggap karyanya sama sekali bukanlah cerminan dari semangat nasionalisme. Teknik dan konsepsi yang ia pelajari di dunia Eropa dalam perlindungan dan pengayoman Kerajaan Belanda diakui oleh dunia adalah sebentuk penyelewengan—kontra revolusi. Tapi jika kita melihat sekali lagi karyanya yang menggambarkan peristiwa ditangkapnya Pangeran Diponegoro kita dapat menyaksikan bagaimana Raden Saleh melakukan konstruksi kesadaran dengan menggambarkan Pangeran Diponegoro sebagai sosok yang teguh dan kokoh pada detik-detik terakhir ia ditangkap.

[2] Lihat puisinya yang berjudul “Selamat Pagi Madura” ia menulis: Sebatang rokok aku hisap dari tanah madura, hlm. 82. Lihat juga “Jalan-jalan Ke Surga”, hlm. 41.
Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment