Wednesday, 22 January 2020

TANGLOK: SENI DAN PENYADARAN MASYARAKAT PESISIR

0
doc/ arsippenyairmadura
Oleh: Umar Fauzi Ballah

Begitu galeri pameran seni rupa dibuka, pengunjung dari berbagai elemen masyarakat yang terdiri dari kelompok seni di berbagai kota dan masyarakat sekitar, yakni masyarakat nelayan Tanglok, segera menikmati pemandangan berbagai karya  seni rupa: seni instalasi “Museum Kapal” karya Syamsul Arifin, lukisan karya Sulaiman Sanusi dan Hendri R. Sidik, puisi rupa karya saya sendiri, serta sketsa karya Hidayat Raharja.
Di tengah menikmati karya-karya seniman dari dan/atau asal Sampang, Syamsul Arifin masuk hanya dengan menggunakan sarung yang dililit mejadi celana. Pengunjung belum menyadari bahwa keberadaannya adalah bentuk performance. Kesadaran itu mucul ketika Syamsul mulai menunjukkan gestur artistik ketika membentangkan seutas tali dan meminta pengunjung menarik tali tersebut dari bentangan horisontal dan vertikal di tubuhnya sendiri. Itulah sepat, alat ukur tradisional yang digunakan untuk membuat kapal. Selanjutnya teaterikal semakin jelas dihadirkan yang dipuncaki adegan membentur-benturkan dua balok kayu yang melibatkan pengunjung.  Dua balok kayu yang dibenturkan itu satu sisinya berlubang dan satu sisinya dibuat timbul. Saat dibenturkan, ia akan masuk ke lubang tersebut. Itulah konsep yin dan yang atau lake ban bini.’
            Performance Syamsul atas seni instalasi yang dibuatnya merupakan pertunjukan perdana gelaran “Tanglok, Seni Rupa Pertunjukan” (TSRP) yang berlangsung pada 26—28 Desember 2019 di Sampang. Jika selama ini seni rupa: lukis dan instalasi merupakan bentuk seni “diam,” Syamsul yang sebetulnya tidak memiliki dasar seni rupa, menjadikan instlasinya bergerak dalam bentuk teaterikal sebagai dasar seni yang digelutinya.   Ia menyinergikan instlasi dengan teater. Karena itulah gelaran itu bertajuk “seni rupa pertujuan.”
            Secara keseluruhan, konsep TSRP memang menyajian seni rupa dan pertunjukan. Untuk seni pertunjukan, Syamsul, selaku penggagas program tersebut, mengundang berbagai seniman dari berbagai daerah: Sanggar Gaharu (Bangkalan),daul dug-dug Lanceng Ju’lanteng (sampang), Tuyul Dolanan Nuklir (Sidoarjo), Deni Noos (Sampang), dan Rifal Taufani (Bangkalan). Secara bahasa, frasa seni rupa pertunjukan bisa bermakna seni rupa dan pertunjukan.
            Sebetulnya, TSRP merupakan program presentasi Syamsul pascaresidensi kesenian dari Cemeti Institute Juni—Juli 2019 lalu di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Namun, dalam presentasi di Sampang, setelah presentasi di Yogyakarta, 17 Oktober 2019 lalu, Syamsul berinisiatif melibatkan seniman Sampang lintas generasi. Tujuannya, Syamsul ingin melihat isu pesisir dari sudut pandang kaum tua (Hidayat Raharja), kaum muda (Sanusi Kacong), dan pendatang (Hendri R.Sidik), dan Syamsul sendiri yang memperoleh berbagai sistem pengetahuan pesisir di Poliwali Mandar. Di sana dia fokus pada wilayah pesisiran. Bagi Syamsul, isu kelautan di Sampang dan Polewali Mandar tidak jauh berbeda.
            Syamsul adalah seniman teater Sampang, untuk tidak mengatakan satu-satunya, yang produktif dalam dua tahun terakhir. Ia hanya lulusan SMP. Teater, menurut pengakuannya, adalah dunia yang menyadarkannya dari kenalakan, yakni menjalani hidup tanpa makna. Ketertarikannya pada teater itulah yang membuat Syamsul gemar membaca dan belajar. Residensi adalah salah satu ikhtiar yang ia pilih. Hasilnya, tahun 2017, ia mewakili Madura di residensi yang dilakukan Garasi Performance Institute dan tahun ini dari Cemeti Institute, Yogyakarta.
            Salah satu pengalaman atau pengetahuan yang terbangun dalam benaknya tentang kesenian adalah managemen petunjukan dan managemen isu. TRSP adalah buah gagasannya yang saya katakan cukup berhasil. Ia paham bahwa produk seni bukan lahir dari kekosogan, melainkan ada kerja riset yang mendahuluinya. Riset tentang ekologi laut itulah yang sedang ia gali.

Ekologi Pesisir
Adalah sketsa Hidayat Raharja yang bisa dikatakan paling gamblang dimaknai oleh pengunjung. Sketsanya membangunkan kesadaran kolektif masyrakat Sampang tentang Tanglok era 80-an. Hal itu terbukti ketika masyarakat Tanglok dari golongan tua menguap ingatannya pada masa-masa Sampang di era tersebut.
Salah satu isu menarik yang diangkat adalah perubahan Pelabuhan Tanglok dan reklamasi di sepanjang pesisir Camplog sampai Sampang yang dulunya penuh dengan tumbuhan mangrove. Salah satu hasil riset yang pernah dilakukan Hidayat Raharja adalah munculnya pengakuan dari masyaraat yang bertempat tinggal di kawasan reklamasi adalah mudahnya perizinan membuka lahan di sepanjang pesisir.
Hidayat Rahaja juga melihat perubahan Pelabuhan Tanglok yang kini hanya menjadi sarana trasnportasi masyarakat Mandangin. Padahal, dulunya di sanalah tempat pelelangan ikan. Ada dua faktor yang disorot, yakni politik amis ikan dan keberadaan kilang minyak di tengah laut. Politik amis ikan adalah salah satu upaya pembodohan yang dilakukan kepada masyarakat pada jenis jukok caek (ikan lemuru). Ikan ini dianggap sebagai ikan yang amis. Padahal, dalam industri makanan cepat saji, ikan ini menjadi sarden yang telah diolah sedemikian rupa memiliki nilai jual yang tinggi. Dengan politik ikan amis ini, dulu, jukok caek bahkan dibuang-buang karena dianggap ikan yang tidak enak.  Selain itu, menurunnya populasi jukok caek saat ini, ditengarai karena faktor kilang minyak yang membunuh ekosistem laut.
Sanusi Kacong dalam karyanya berjudul “Terkenang” memvisualisasikan ikan asin secara surealis dalam rangka mengingat masa-masa ikan asin menjadi primadona. Ia menangkap kegelisahan ikan asin yang saat ini menjadi lauk yang tidak begitu diminati masyarakat. Sementara itu, Hendri R. Sidik, melakukan pembacaan tema TSRP ke dalam diri. Lima buah lukisannya adalah perjalanan waktu mencari jati diri yang tersimpulkan dalam judul “Introspeksi Diri."
Syamsul melalui “Museum Kapal,” sedang melakukan sinergi sistem pengetahuan tentang kapal di Polewali Mandar yang menurutnya berbeda dengan proses pembuatan kapal di Tanglok. Bagi masyarakat Polewali Mandar, yang disebut kapal adalah benda pada pahatan pertama. Syamsul melihat kapal tidak jauh berbeda dengan anatonomi tubuh manusia, seperti tulang punggung, tulang rusuk, dan kelamin. Teaterikal yang ia lakukan adalah bentuk gugatan pada teknologi ketika kapal dengan mudah mengalami kerusakan karena membentur tanggul penahan air laut.
Tidak mudah membaca pertunjukan Syamsul, apalagi bagi masyarakat sekitar. Namun, pertunjukannya menjadi tontonan dan teror bagi pengunjung ketika membenturkan dua balok kayu yang merupakan simbol tulang punggung, sekaligus benturan dua dimensi: modernisme dan tradisional. Pertunjukannya terlalu minimalis baik waktu pertunjukan maupun instalasi yang ditampilkan untuk membangun kesadaran masyarakat nelayan. Padahal, sebagai tontonan, terornya cukup berhasil.
Syamsul memilih isu pesisiran dan menempatkan acaranya di kampung nelayan adalah upayanya menghidupkan kesadaran masyarakat dalam bentuk seni kontemporer. Ia mampu menghidupkan gudang bekas penginapan pekerja pabrik tahu sebagai ruang pertunjukan dan pameran. Sesuatu yang mungkin dalam banyak pandangan, bahkan oleh masyarakat awam sekalipun, tidak estetis. Namun, dengan konsep yang matang, gudang tua itu menjelma teks lain selama tiga hari gelaran TSRP. Pementasan yang syarat dengan teror seperti karya Syamsul dan Tuyul Dolanan Nuklir menjadikan nuansa pertunjukannya menyatu. Di satu sisi, kita juga disuguhkan musik-musik yang lebih harmonis untuk dinikmati khalayak sehingga ruang gelaran menjadi lebih syahdu.



Umar Fauzi Ballah, lahir di Sampang 2 Juli 1986. Menulis puisi sejak kelas 1 MAN Sampang. Ketertarikan itu dilanjutkan dengan memilih kuliah Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya lulus 2009. Di Surabaya ia mengalami pergesekan dengan banyak penulis. Ia kemudian tergabung di Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Teater Institut sembari nyantri di ponpes (mahasiswa) Sabilillah Lidah Wetan Surabaya. Di kampus ia menjadi redaktur  Majalah SESASI FBS UNESA. Tulisannya berupa puisi, cerpen, dan esai pernah menghiasi berbagai media seperti Majalah Kidung, Harian Duta Masyarakat, Suara Karya, Sumut Pos, dan Surabaya Post, dll. Puisinya berjudul “Ayat-Ayat Isroil” meraih juara II puisi untuk Peksiminas Selekda Jatim dan juara pertama puisi berjudul “Rumah Sumpah Sie Kong Liong” pada lomba cipta puisi Sumpah Pemuda 2008 yang diadakan oleh Himpunan Indonesia-Tionghoa. Puisinya tercantum dalam beberapa Antologi bersama, seperti Manifesto Illusionisme (Dewan Kesenian Jawa Timur 2009), PestaPenyair (DKJT, 2010), Duka Muara (KRS, 2008), Ponari For President (Bable Publishing Malang, 2009). Ia juga sering mengikuti berbagai event diskusi sastra seperti Pesta Penyair Nusantara Kediri 2008, Halte Sastra Surabaya 2009, Temu Sastra Jawa Timur 2009 berlanjut di Temu Sastra Nusantara di Solo 2009. Sekarang menetap di Sampang Madura.
Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment