Wednesday, 25 September 2019

Puisi-Puisi Sengat Ibrahim

0

Sumber: home.co.id



Sabda Hujan

kalau kamu dalam keadaan sendirian
maka siapkan rindu sebelum hujan
biar bisa bermain-main dengan kesepian yang disempurnakan.
kalau kamu sedang berduaan
maka siapkan payung sebelum hujan
biar bisa bermain-main dengan kehangatan yang direncanakan.

Jogjakarta, 2019



Hujan 1

terima kasih hujan engkau masih tahu jalan menuju bumi
terima kasih bumi engkau masih tabah memilih manusia sebagai isi.

Jogjakarta, 2019



Hujan 2

semua hujan yang turun dari langit selalu sama yaitu air
yang mencoba menghapus semua bekas kenangan di luar pikiran.

Jogjakarta, 2019



Hujan 3

dingin dan angin sedang berdiskusi alot dengan rindu
semoga saja mereka mendiskusikan aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019



Doa Menolak Tidur Malam

1
semoga dingin yang menyerang tubuhku
terbuat dari keinginanmu untuk memelukku.

2
semoga dingin yang memelukku semakin
memperpanjang kebutuhanku akan kehadiranmu.

3
semoga dingin yang bercampur dengan kenangan
bersamamu akan menjadikan aku—orang sempurna
yang tetap butuh disempurnakan olehmu.

4
semoga dingin yang membungkus kulitku
tidak sampai mengganggu keberadaanmu di dalam diriku.

5
semoga malammu yang penuh dengan diriku atau malamku
yang selalu berisi dirimu tidak menjadikan kita lupa bahwa
malam yang paling sempurna di dunia adalah malam
yang berisi aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019



Doa Sebelum Tidur Malam

dalam mimpi, semoga kita tidak pernah berketemu
sebab aku membutuhkan yang lebih nyata dari itu.

Jogjakarta, 2019



Doa Ketika Diserang Rindu

semoga dalam semua rindu yang datang padaku
selalu ada kamu di dalamnya.

Jogjakarta, 2019



Kangen

kangenku
sudah sampai pada puncak
di mana aku harus membiasakan diri
menjadi kehancuran.
maka kubiarkan
kangen yang menentukan sendiri
memilih kangen ke siapa
semoga saja kangenku menjadi kangenmu.

Jogjakarta, 2019



Tutorial Rindu

satu-satunya cara terbaik menikmati rindu, cuma satu:
menjauhlah hidup sebisa mungkin dariku.

Jogjakarta, 2019




Alangkah Malang Nasibku

sudah lebih dari dua jam
aku dikeroyok segerombolan rindu
hingga seluruh tubuhku babak belur.
aku berterik-teriak minta tolong tapi
tak ada satu pun orang yang mau menolongku.
alangkah malang nasibku.

Jogjakarta, 2019
(puisi-puisi di atas dimuat di ideide.id, 14 Agustus 2019)




melodramatik

terkadang secangkir kopi
jauh lebih mengerti daripada puisi
dalam hal memberi sepi padaku
memang sedari kecil sepi sudah aku kenakan
tetapi sepi macam apakah yang aku butuhkan?

mungkin kau belum sepenuhnya percaya
bahwa bagiku sepi adalah rezeki
barangkali bagimu sepi adalah makhluk terkutuk tak berbentuk
tapi bagiku sepi sama seperti matamu mengenal kantuk
dan bagiku kantuk adalah musuh paling abadi dalam hidup

sekarang dan beberapa saat sebelum menjadi sekarang
aku bernapas bersama mereka-meraka
yang lebih peduli meluangkan waktunya
dengan hal-hal yang berkaitan dengan perut

aku hidup bersama mereka-mereka
yang lebih banyak memikirkan hidup orang lain
daripada bagaimana menyusun hidupnya sendiri

dan aku masih berusaha keras menikmati hidup sendiri;
hidup bersama secangkir kopi
dan segerombolan makhluk bernama sepi
yang aku kira itulah puisi.

Senin malam, 04 September 2017, Yogyakarta



di kafe basabasi

di kafe basabasi aku mengenakan malam minggu
langit terasa segar bintang-bintang terlihat berpijar
aku datang tidak tepat waktu barangkali itu bagian
dari efek terlalu sering bermain-main dengan rindu

aku melihat sapardi lupa membikin hujan selain
hujan bulan juni, sementara telepon genggam jokpin
bordering nyaring mencoba menghardik; bawa sepi
dilarang keras memasuki seluruh ruangan kafe ini

“ini acara sastra mas, maka minumlah segala macam
petaka, minumlah segala macam sengsara, sebab kalau
dua hal tersebut mampu kau minum, maka segala sia-sia
dalam hidup tak akan pernah tercipta” katamu.

kemudian malam disuguhi riwayat-riwayat
pengarang hebat yang ditolak takdir hidup enak
kamu tertawa lebar padaku dan di matamu
kulihat doa-doa berlayar menjemput masa depanku

Rabu malam, 11 Oktober 2017, Yogyakarta



episode kutub 1

aku mau menjadi asing bagi matamu
sambil mengubah sisa hari dari seluruh hidupku
menjadi hari minggu, dua tahun sudah kita menjadi satu
bersama buku-buku dalam joglo itu
mungkin aku belum terlalu lama mengenalmu
kamu juga mungkin belum begitu dalam mengenalku
:aku pintu bagi semua ragu, kamu kunci bagi semua pintu



episode kutub 6

setelah kepergian itu, aku makin betah menjadi penghuni sepi
sambil mengatai-ngatai mimpi yang tercebur dalam secangkir kopi
sementara merokok masih menjadi upacara menyalakan imaji

maka berkatilah seluruh jarak antara aku dan kamu
antara ruang lalu dan ruang tunggu, antara raung ragu dan raung pilu
bahwa semua itu; jalan menuai rindu membawa segalanya menyatu



episode kutub 7


aku masih ingat tempat kebiasaanku merangkai kata
tempat luka meminta rupa, tempat lara menuang makna
pikiranku masih mampu menangkap ingatan itu semuanya
  
di daun-daun mangga, di genting bocor, di pakaian kumal,
di kamar pojok serampangan, juga di saat menyibak nyamuk nakal,
di semua itulah kata-kata biasanya kurangkai penuh pukau

Kamis siang, 05 Oktober 2017, Yogyakarta
(puisi-puisi di atas dimuat di basabasi.co, 06 Februari 2018)



Dramatik Kasih
—Radhika Rao & Vinay Sapru

saraswati
rinduku padamu
bangkit di musim gugur
mendarah-daging di tubuhku
bersama botol-botol anggur.

di akhir cerita
kita tak memilih apa-apa
selain budak bagi perasaan
yang di mata orang lain sebagai penyiiksa
sedang di dada kita penyempurna.

“cinta membawa pada kemenangan
dan kekalahan dalam satu keadaan”   

dunia seolah dibentangkan
bukan di bawah kibaran bendera
di taman anak-anak riang menghirup udara.

ruang-ruang berjalan tanpa diatur waktu
sepi adalah ibu bagi mereka yang riang merindu
bangkai-bangkai kenangan tumbuh menjadi mawar.

di luar kamar orang-orang tertawa
fikirannya ditumbuhi perasaan curiga
menyulap benda mati menjelma srigala
kemudian mencari mangsa dengan tergesa.

Cabean, Yogyakarta 2017



Dramatik Hidup
— Michael Damian

aku ingin mencari permainan
yang bisa menghindar dari keseriusan hidup
seperti memainkan lagu dengan biola di sebuah pagi

di sepanjang lorong kota atau di kedalaman sebuah desa
di mana kau dan aku pernah berjalan tanpa sedikitpun tergesa.

aku ingin selamanya memainkan biola
membuatmu faham kenapa orang sepertiku
harus tidak berhenti melagukan bahasa cinta

sambil asyik mebangun kastil dalam ruang-ruang imaji
di mana segala hal yang katamu mustahil dapat kunikmati.

aku hanya ingin bermain sekali lagi
tanpa merencanakan yang  bakal datang
atau menyesalkan sesuatu yang telah pergi.

Cabean, Yogyakarta 2017



Dramatik Bigulian

ia kenakan segenap luka
dari ujung rambut sampai kaki
ia ingin punya wajah mengembara
yang dilahirkan masa lalu dan masa kini.

suara-suara berbusa dimulutnya
mengemban derita yang ditanggung puisi
serupa al-kitab yang ditulis dengan bahasa purba
sedang pembaca mendapat kebenaran melalui ilusi.

ia mencoba mempertetemukan siang dan malam
tanpa sedikitpun memahami sebuah kegagalan
ia melihat dunia memang luas sekaligus datar
yang akan terus berada dalam satu ruang.

suluruh bahasa ia buru, seluruh cerita ia tiru
ia ingin membangun rumah tanpa  berpintu
memanjakan setiap tamunya penuh lagu
sedang ia belum mengerti hakikat rindu.

Cabean, Yogyakarta 2017



Dramatik Bacaan
—Brian Klugman & Lee Stemthal

barangkali benar aku sebatas bahasa
dari padakulah segalanya akan bermola.

barangkali benar aku sebatas abjad
dari padakulah segalanya terikat.

barangkali benar aku sebatas khuruf
dari padakulah segalanya hidup.

bagaimana mungkin kau menghindar
sedang Sang Pencipta saja memakai.

Cabean, Yogyakarta 2017



Dramatik Kenangan
 —John Carney

seterusnya,
aku
adalah
pecundang
yang
mengatakan
sayang
kepada
kuburan.

Cabean, Yogyakarta 2017
(puisi-puisi di atas dimuat di letera.com, 11 Oktober 2017)



Aku Bukan Tuhan

Aku bukan Tuhan yang ketika berbicara selalu menggunakan kebenaran.
Aku seorang pemuja mara-bahaya yang setiap saat mengunyah kerinduan.
Aku bukan Tuhan. Aku hanyalah pemilik sekaligus pemeluk kehancuran.

Jogjakarta, 2018



Kartu Tanda Penyair

Namaku                                   : Sengat Ibrahim
Tempat Tanggal Lahirku         : Sumenep, 22-05-1997
Jenis Kelaminku                      : Laki-Laki
Agamaku                                 : Islam
Kitab Suciku                           : Perempuan
Keyakinanku                           : Belum kutemukan

Jogjakarta, 2018



Doa Sepenggal

Jika pun Tuhan bisa tersenyum kepadaku
aku masih lebih puas menikmati senyumanmu.

Jogjakarta, 2018



Doa Sekadar

Tuhan aku jauh lebih percaya terhadap segala
sesuatu yang begitu mudah membuatku terluka.

Jogjakarta, 2018



Doa Tunggal

Tuhan, jika tujuan hidup di dunia hanya untuk bermain-main
aku mau menjadikanmu sebagai mainanku sepanjang waktu.

Jogjakarta, 2018



Doa Gagal

Sedari awal kau sudah tahu, aku ini lelaki jahat
tapi kau memilih semakin mendekat.

Maka rasakanlah segala bentuk kerusakan
yang kau yakini sebagai kerinduan.

 Jogjakarta, 2018




Doa Serius

Oh Tuhan yang berasal dari keraguan
Sempurnakanlah hambamu sebagai ciptaan.

Jogjakarta, 2018



Doa Serius

Tuhan lebih sering mencintaiku melalui kesedihan.

Jogjakarta, 2018



6 Memoar Mengenai Kau

1
Ketika aku mengenakan kerinduan
berarti aku sedang berjarak dengan kau.

2
Ketika sedang berjarak dengan kau
aku menyatu dengan segala kemungkinan.

3
Ketika aku diam berarti aku sedang mencari
sesuatu yang tak bisa kutemui melalui obrolan.

4
Ketika aku memasang obrolan dengan kau
berarti aku sedang muak dengan pikiran.

5
Ketika aku perlihatkan senyuman berarti
aku menggapai andai yang tak berkesudahan.

6
Ketika menggapai andai yang tak berkesudahan
berarti aku sedang menikamati segala urusan.

Jogjakarta, 2018



Menulis Matamu

Ketika kamarku berisi malam
kau mengirim gambar matamu
lewat WhatsApp untuk mengabarkan
keadaanmu yang tak mudah terlelap
saat kota-kota serentak melepaskan bunyi.

Aku tak bisa mengirim kantuk padamu
atau mencabut pikiranmu yang berisi aku
yang kau sebut rindu. Sebab rinduku padamu
tak pernah kusuuruh mengusik ketenanganmu.

Matamu ya matamu,
matamu sedang memata-mataiku
untuk memontohkan keindahanmu melalui mataku.
Kekasih, akan terbuat dari apakah tidurmu setelah itu?

Jogjakarta, 2018



Menanam Senyum di Matamu

Waktu itu aku melihat senyum di matamu
---senyum yang berasal dari bibirku---

senyum yang sengaja kuciptakan untukmu
tapi kau mengembalikannya padaku melalui matamu.

Jogjakarta, 2018
(puisi-puisi di atas dimuat di berdikaribook.red, 07 September 2018)



Kampung Halaman Bagi Lia

1/
Aku menikmati malam
Dengan secangkir kopi kopasus
Kerlap-kerlip lampu memancar
Di langit-langit warung pincuk
Di luar hujan dan malam menghapus
Semua jejak sampai bumi kembali kudus
Tetapi mampukah hujan dan malam
Menghapus segala kenangan dalam pikiran
Seperti menghapus nama tokoh-tokoh pahlawan
Dari sejarah perjuangan kemerdekaan
Sewaktu pribumi melawan japan?

2/
Aku menyalakan rokok
Sambil tertawa pada pikiranku sendiri
Menenggelamkan sepi pada puisi
Mengingat segala peristiwa yang terjadi
Maupun peristiwa yang gagal terjadi hari ini
Tiba-tiba dunia dalam ponsel berbunyi
Membawa suara Bryan Adam dalam lagu Heaven
Di layar ponsel tertera nama Lia
Aku menolak panggilan telepon darinya
Sebab berbicara di warung kopi
Belum menjadi peristiwa yang biasa di sini.

3/
Akhirnya kami mengobrol di ruangan Whatsapp
Lia memang pintar menyusun bahasa menjadi benda pusaka
Yang menyimapan kesaktian luar biasa
Seperti keris Koko-macan kepunyaan paman di Madura
Yang selalu diwarangi kembang tujuh rupa
Setiap malam jumat klewon
Beberapa saat setelah Lia tahu
Kalau bahasa cinta yang kukirim terasa kaku
Lia terus-menerus mengirimiku pesan icon kepala
Kepala yang bermulut hanya bisa dipakai untuk tertawa
Aku ikut tertawa pada icon kepala berwarna kuning itu
Dan membalas dengan pesan i love you.

4/
Pembicaraan kami terbuat dari segala peristiwa
Yang mudah menjadi penting juga genting, semisal:
Jawab dengan cepat apa saja
Yang Lia ketahui tentang kampung halaman?
Lia menjawab;
Segala sesuatu yang tak pernah selesai berbica dalam dada
Padahal dia tak pernah belajar bagaimana caranya berbicara
Atau segala jalan bercabang yang hanya menuju kata pulang
Seperti kepulangan Akang dari perantauan tapi entah kapan.
Lalu, Lia bertanya balik dengan pertanyaan yang sama
Aku menjawab dengan lebih ringkas dan cepat darinya;
Lia-lah kampung halaman bagi Akang.
Setelah itu percakapan kami
Menyusun tubuhnya dalam puisi
Seperti para pahlawan 45 menyusun ini negeri
Yang menjadi lumbung bagi segala macam korupsi.

Minggu malam, 26 November 2017, Yogyakarta



Surat Cinta Pertama

Lia, cinta adalah indentitas kedua bagi manusia setelah agama
Aku memilihmu sebagai penyempurna bagi keduanya.

Sabtu dini hari, 25 November 2017, Yogyakarta



Surat Cinta Kedua

Lia, aku suka melakukan pekerjaan
Yang tak pernah selesai seperti mencintaimu.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta



Surat Cinta Ketiga

Lia, setelah mengenalmu aku menjadi seseorang
Yang terlalu percaya pada kesedihan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta



Surat Cinta Keempat

Lia, aku masih takut pulang
Sebab orang-orang di rumah tidak pernah menanyakan
Apa yang telah kulakukan bersama puisi di kota perantauan
Itu bagiku sama saja dengan penghinaan
Lia, aku masih takut pulang sayang
Sebab takut adalah cara lelaki mencintai seseorang.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta



Surat Cinta Kelima

Lia, jika aku menulis puisi cinta
Kemudian kau baca berulang-ulang
Tapi tidak kunjung paham
Berarti kau bukan orang
Yang kumaksud dalam tulisan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta



Surat Cinta Keenam

Lia, kata-kata adalah sumpah juga sampah yang akan selalu gagal punah
Selama makhluk yang merasa punya perasaan tuhan ciptakan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta



Surat Cinta Ketujuh

Lia, seperti sebuah musik yang tak pernah lelah diputar
Aku menunggumu di tepi siang yang lengang
Di sebuah kota yang musimnya tak ditentukan
Hujan dan matahari tetapi oleh mesin
Aku berlindung pada sepi tapi sepi sudah tak tercipta lagi
Setelah kau tak di sini.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta
(puisi-puisi dimuat di malangvoice.com, 31 Desember 2017)



Sengat Ibrahim, Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek, tinggal di Yogyakarta. Buku puisinya yang telah terbit: Bertuhan pada Bahasa, (Penerbit Basabasi). Buku puisi terbarunya: Asmaragama, (Penerbit LiterISI, 2018). Sekarang sedang menyiapkan buku berikutnya bertajuk: Agamaku Adalah Rindu (yang diam-diam menciptamu dalam diriku). Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Merapi, Solo Pos, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra, Lombok Post, Medan Ekspres, Harian Sumbar, Majalah Simalaba, dan Malangvoice, Litera.Co, LiniFiksi.Com, PoCer.co, Basabasi.Co




Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment