Saturday, 28 September 2019

Puisi-Puisi M Helmy Prasetya di Kampoeng Jerami 21 September 2019

0

Sumber Lukisan: pelajariindo.com


Setelah 929 Masehi

Mautmu yang dipenggal
panglima sejajar, ada kala terpikir
bahwa ia tak sepenuhnya nista

Tak sepenuhnya juga tata cara
Tetapi ia Madura yang terlempar
biji derita cuaca keajaiban jiwa

Setelah 929 Masehi
gunung-gunung meletuskan
aksara tahta ke tengah-tengah
dunia tanpa cinta

Berteriak Medang,
menjeritkan Menang, untuk suatu
pertikaian yang melumpuhkan
kekeluargaan

“Leluhurku Medangkamulan…”
teriaknya lagi

Sangka yang buruk, taman hutan,
mimpi bulan, hubungan patih, dan
rakit-rakit letih pun disiapkan

Gegap melayari beban seluruh
korban pualam ke sepanjang sungai
yang hanya patuh untuk berderai

“Ke mana aku dihanyutkan, Rapuh,
selain kepada jauh?”

Sisikmu yang bisik, hatimu yang
menarik, bawalah ke arah yang lebih
tangkas

Sebab pada setiap ikan-ikan buas
yang hendak memangsamu luas-luas,
mereka hanya bangsa-bangsa yang
tercipta dari cangkang nelangsa

Cangkang yang tak sesungguhnya
berlabuh kecuali susut, kalut, dan
semrawut

Jadi bergegaslah berlayar,
berkabarlah kepada setiap inci
gambar pugar segala yang di luar

Seperti pagar-pagar mawar yang tak
sudi dilamar ular-ular yang bisanya
hanya memutar gentar di atas tikar

“Bantinglah! Bantinglah ular
kembar itu hingga jemu!”

Pasir pun menderu
Juga penyendirianmu yang tampak
bagai menelan langit biru

Nyanyikan saja tentang ambang
layaknya maskumambang

Lahirkan semua yang bisa mahir
Cegah mengalir menuju seluruh hilir
Sampai jauh derita menandang

Rasa khawatir, yang paling akhir
dari ombak samudra dalam dada
biar selanjutnya mata dan mati
yang memaknai
Agar jati dan diri tak lari berkelahi,

demi kalbu yang tak sanggup mengelabui
sekuntum senja di ujung gema sunyi
untuk kebangkitkan bayang-bayang
putramu, nama putramu, putra
kebanggaanmu, kebanggaan
bagi seluruh umatmu

yang kelak berperahu ke muara hulu
dan berkayuh kaki jantan dan biru

Bangkalan, 2017


Ajunan: Restu Perang

Mengusap keagungan, izinkan
kelak putramu itu pergi berperang
hingga ke depan karang

Cikalkan bakal restu
yang lebih ajaib dari gaib

Sebab kelabu adalah magrib
Dan ia tak berayah apalagi
berdarah

Jika pintu ragumu pun bernanah
dan menjadi kian tak terarah,
injak kakimu untuk memanggil
setiap candu yang berlalu

Panggillah hantu delima,
buah simalakama, sejauh segitiga
api neraka. Biar mereka juga
tersiksa

Cium mereka seerat hakikat
Pikat benda-benda menyatu
ke dalam getah pertama

Tanamkan sejarah,
buat semakin merah, sebagai
balasan arwah setiap kenang
untuk selusin tiang punah—
setajam panah

Dan dari akarnya
yang penuh kunang-kunang
akan termaktub liang-liang
penunjang raga: raga padmi,
raga ambami

Maka ragamulah yang bisa
meraksasa mengusir segala pinta
bencana yang datang di setiap
malam purnama

Di saat-saat ganggu menyerbu
nama-nama ratu, menggugat abu,
menyelat tipu dan pulau-pulau ibu

Dan pohon-pohon musuh
akan menumbangkan dirinya sendiri
hingga jadilah mereka ranting
tak terpuji

Hanya pada dirimu daun akan memuji,
karena engkau tak memungkari sari-sari
gelombang semanggi

Untukmu, waktu sudi menyembah
dan tak berkekah

Dan jika Cina datang untuk kesekian kali
dan mereka menantang perang kembali
berdoalah engkau setegas pukau

Bawakan senjata yang lebih tajam
dari terkam

Jika tak ada suara kau iri, sebutlah
berulang-ulang bahwa di setaman jiwa
yang Jawa, ada Segara yang akan
menempa hampa

Hampa suci, suci bunyi, bunyi budi,
budi halusinasi, halusinasi harga diri
seperti terpeluknya teluk seribu jari
oleh kemudi

Oleh jajahmu, oleh biri-birimu,
oleh takdir yang menggugurkanmu
ke arah pukau-pukau yang menyebutmu
tugu empat angin penjuru

Kepada sanubari, undang
setiap pembakaran yang tak berbaik
kepada cahaya

Ajak singgah kapal-kapal yang
berhafal, tanpa saksi pujangga

Cincin nakal, anting cekal, prasangka
akal, usir mereka hingga terjungkal
ke secarik tabik taktik
yang tak menyukai hardik

Pusaka yang kau punya,
adalah bukti-bukti bahwa setiap bukit
di alam semesta hanya tanda
tentang siapa pun dapat berkuasa

Begitupun kuasamu, Cinta
Dalam perutmu, dalam denyutmu,
bangsa-bangsa gagah perkara
akan tiba memintal damba

Damba yang tak pernah bisa tiada,
kecuali engkau meniada, dan tak
melaksanakan ritual kura-kura
seperti kisah adu domba tentang
siapa saja yang bakal menghuni
surga pecah suara

Bangkalan, 2017


Seorang Permaisuri di Malam Sinting

Di suatu malam
kalam permaisuri itu karam
Lantaran lupa dongeng ayah
yang sebenar-benarnya berkisah
laki-laki perang yang gagah dan
terpandang

Ayahnya menyuratkan,
menyampaikan itulah dengung
yang bukan simpul agung

Sebab juga ayahnya rakyat,
berkulit kualat, yang berhasil
dibinasa oleh tingkap derita
kuning langsat istana

Apalagi istana telah dikenalnya
foya-foya. Sedang permaisurinya
cuma pemuja cara-cara Jawa yang
tetap sansekerta dalam iktikad
sekaligus berkhianat

Maka, di sudut waktu terbaru
Ketika ketat tubuh permaisuri itu
ditumbuhi ingatan bersatu, ia pun
melepas baju

Paru demi paru. Karena tentu kalah
ragu, juga karena ngiang ayah yang
memburu

Malam itu, ketika ia tak memakai
gincu, perlahan ia tatap juntai lantai
wiracana yang berdahan

Meraba perutnya
yang punah senggama: miring,
bunting, anting

Tak ia sebutkan semua pada sejenak
suara. Namun sesal makin beranak:
sejak terjal menyenyak gema kelak
di jendela, tempat ia menggantung
sajak-sajak cintanya yang selalu
disangka pura-pura

“Rahib, Rahib…
Kenapa kau sunting aku dengan
cara yang begini purba?” bisiknya
kepada patung anggur merah muda,
tempat suaminya bertelanjang dada
menikmati bibir dan matanya
yang sinting

Dari sana menujulah permaisuri itu
kemudian. Ke pintu lama, pintu yang
kerap juga membuatnya bertanya:
kenapa keraguan amat akurat ada
untuk dimasukkan ke dalam kitab-
kitab kemesraan manusia

Karenanya ia ambil rindu di sebatang
windu. Pada pemilik dagu ia pun terharu
Ia lalu lukis putri nafsu berwajah tandu,
dengan tinta persuntingan selimut yang
pernah membikinnya tergelitik cantik

Semakin ungulah rindu itu berpekik
Mengubah pintu ratu jadi jin kayu
Dan berbau kupu-kupu yang hinggap
pada kulit palma yang bisu

“Ajak aku tertawa sebagaimana
bagusnya percandaan Kanwa, atau
Gusti Prasena yang benar-benar tak
bermaksud melukai Amba”

Begitulah pintanya ketika purnama
tak ada. Begitulah angan-angannya
kepada angka seribu usia milik
ayahnya

Di luar, dunia gemetar menggambar
segala yang terumbar

2018



M. Helmy Prasetya, lahir di Bangkalan pada tanggal 28 November 1977. Pendiri Pusat Sastra dan Rumah 1000 Puisi “Arus Barat Madura”. Mendirikan Komunitas Masyarakat Lumpur tahun 2004 dan meraih Komunitas Seni Terbaik Jawa Timur tahun 2014. Karya puisi tunggalnya, antara lain Laki-Laki Senja (2001), Antologi Cinta (2003), Sajak Tuhan (2005), Ollessia (2007), Sepasang Mata Ayu (2008), Palsu Maduara (2013), Aku Menulis dengan Tangan Kanan dan Tangan Kiri (2014), Tamasya Celurit Minor (2015), Mendapat Pelajaran dari Buku (2016), Mata yang Baik (2016), Antropologi Hilang (2016), Luka  (2016), Bagaimana Aku Menunggumu dengan Setia (2016), dan MaduraBat (2016).










Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment