Header Ads

Puisi-Puisi Sengat Ibrahim: Media Indonesia, 10 Februari 2019

Sumber gambar: g/ jackson-pollock.org
YANG KUSEBUT MALAM

di malam minggu
aku berjalan memakai sepatu
berjalan dari ringroat uatara
menuju ringroat selatan.

sepatu di kakiku
membawa ketuk pintu—satu-satu
bergantian tanpa rebutan
macam udara ngatur kehidupan di hidungku.

jogja membangun toko:
menjual hantu yang terbuat dari rindu.

di kulitku dingin bangkit
membawa ingin yang terbuat dari angin
nyenyat gerogoti seluruhku
jadilah kau sarang kebutuhanku.

lampu-lampu jalan
ngusir malam di mataku—
aku berjalanlurus-berjalanterus
sampai kakiku bengkak
sampai kehendakku mangkrak
sampai aku sadar bahwa
sepanjang  jalan ringkoat utara
sampai ringkoat selatan:

yang  malam tinggal alisku, idepku,
ketekku, tahi lalat di atas bibir kiriku, 
jembutku, rambutku yang sebahu,
iris mataku, sepatu kiri-kananku,
terakhir kenangan di kampung halaman
semasih aku memiliki jam tidur malam.

Jogjakarta, 2018

HIMNE MAHAYU

setelah pertemuan
di malam yang hanya membutuhkan
satu jam kurang seperempat menit lagi untuk menjadi hari selasa,
di sebuah kafe yang belum bisa memutar musik sesuai selera kita:

aku tak tahu kenapa perasaan begitu mudah menciptamu dalam diriku.
seperti seekor angsa, aku berenang di matamu yang berwarna malam.
cinta yang tak sengaja mengutukku menjadi angkasa

setelah itu, aku menemukan hari libur menjadi manusia:
manusia yang masih percaya bahwa surga dan neraka
adalah dua pabrik yang (sengaja dibangun kedua orang tua)
bisa memproduksi tuhan di kehidupan kita.

Jogjakarta, 2018

PEKASIH

sebelum lahir
aku tak tahu dunia terbuat dari apa saja
seperti ketidak-tahuanku kenapa aku tercipta.

setelah aku dilahirkan
kedua orang tuaku memasang tuhan pada segala aktivitasku tapi tidak di pikiran
seolah tuhan adalah teman bermain sekaligus benda yang bisa kupermainkan.

setelah mengenalmu
aku hanya pengin menerbangkan doa pada-apa-pun yang bisa kupercaya:
semoga kau bukan alasan tuhan ‘berani’ menciptakan aku di dunia.

Jogjakarta, 2018

MEMORANDUM

setelah aku gagal
menjadi pendusta dan pencinta
orang-orang memanggilku penyair.

setelah itu, aku menyusun bahasa di luar cahaya
samabil mengusir makna dari pikiran manusia.

Jogjakarta, 2018

BELAJAR MENGINGAT

ayah meninggal sejak aku berumur enam tahun
di pekarangan orang-orang menggali lubang
di kamar ibu sibuk menyembunyikan kesedihan.

aku tersenyum pada mereka.  orang-orang
terlihat takut melihat wajahku yang sedang
riang gembira. aku merayakan hari bahagia

hanya sendiri saja, dengan tubuh telanjang
dengan keramaian-keramaian, tetapi sayang
aku hanyalah satu-satunya anak kecil di sana.

di beranda tubuh ayah dimandikan oleh banyak
orang. ayah terlihat menjadi bocah kembali
seperti diriku yang tak mau mandi sendiri.

ayah juga tak bisa memasang baju terakhirnya
sebuah baju kebanggaan berupa kain kapan. dan
saat ayah digiring ke lubang galian, aku bertanya:

“ayah mau ke mana?”
“aku mau ditanam” sahutnya
setelah itu aku lupa menjadi dewasa.

Jogjakarta, 2018

07:25

rabu pagi
persis di jam yang kutulis menjadi judul puisi ini
loper koran langgananku datang dan tersenyum padaku
aku membalas senyuman itu.

senyuman yang menyatukanku dengan masa lalu:
senyum seorang ayah di pagi hari saat minum kopi
sebelum berangkat ke sawah.

dulu ayah sering bilang: inti dari hidup adalah menanam
sementara akhir dari hidup hanyalah pertemuan
dengan semua jenis harapan.

Jogjakarta, 2018

SEJAK PERTAMA KALI

sejak pertama kali aku menatap langit
langit tetap menjaga keluasannya.

sejak pertama kali aku menginjak tanah
tanah tetap memelihara kerendahannya.

sejak pertama kali aku mencintai kau
kau tetap sembunyikan pengertiannya.

sejak pertama kali aku menulis kau
kau tetap bahan bagi tulisan selanjutnya.

Jogjakarta, 2018

REKAMAN MASA KINI

agama sedang cerewet
cinta ikut cerewet
kota makin cerewet
desa sudah cerewet
pasar pasti cerewet
warung kopi cerewet
sepi belajar cerewet
ilmu pengetahuan cerewet
aparatur negara cerewet
ponsel menampung cerewet
manusia maha cerewet.

apakah tuhan bisa cerewet?

Jogjakarta, 2018

Sengat Ibrahim, lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa (2018) merupakan buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Jogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub. Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Merapi, Solo Pos, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra, Lombok Post, Medan Ekspres, Padang Ekspres, Harian Sumbar, Majalah Simalaba, dan Basabasi.Co, Berdikaribook.red, Malangvoice, Litera.Co, LiniFiksi.Com. PoCer.Co.

No comments

Powered by Blogger.