Arsip Puisi Penyair Madura (Se)-Indonesia

Full width home advertisement

PUISI INDONESIA

PUISI MADURA (SANJA')

Post Page Advertisement [Top]



 
7 Bidadari dan Jaka Tarub - Heno Airlangga, 142,5cm x 101cm, Acrylic on canvas, 2016
Dalam Bungkaman Rumah yang Sudah Lama Padam Bulannya

kesah tentang utang begitu kental di telinga kirinya
sementara ia hanyalah kekasih gelap rumah
ditawan kursi dan meja
dipaksa menyelami sepi puisi tanpa
menoleh ataupun melirik kepada angan
yang lebih menyiksa
bahkan nyaris membunuh

namun tetap tidak ingin ia biarkan
pangeran katonnya diombak-ombakkan takdir
yang melulu anyir
sesegera mungkin ia mau menancapkan
bendera hitam di ubun-ubun mereka
lantas meneriakkan semerbak kemerdekaan
di dahan-dahan usia

tapi tak kuasa melawan apalagi
menghanguskan kejam duri-duri bumi
tiada jurus tiada senjata
kecuali puisi-puisi itu sendiri
bersamanya tak lain bernakal-nakal dalam
lautan mendung khayalan
bermanja-manja di gelombang awang kebanggaan
mirisnya acap patah meraup kepuasan
sehingga selalu dihantui kata-kata bersimbah
darah mendidih bernanah perih
seperti saat ini

Sumenep 2016


Sepanjang Siksa Perjalanan Saat Pulang dari Keterpaksaan

berkilo-kilo kelunglaian antara jakarta-madura
arus peluh menyusun rencana keji dalam
kebaikan jaket
jika ac diberi kebebasan
tentu badan makin merembah fitnya
siang keburu sore
sore keburu malam

bila malam merapat
entah angin dari celah mana menyergap
jalan napas yang mulai malap
padahal tiap lubang ac telah dijejali puluhan kejenuhan
di bawahnya 60% penumpang ragib berbagi
warna kehangatan sepasang-sepasang
barangkali sama-sama bermimpi dijatuhi bintang
cuma aku seorang yang gencar
ditampar-tampar makhluk halus bus
serupa penderita tifus
yang sangat menggelisahkan infus
magrib keburu isya
isya keburu subuh

duh! lepuh sungguh sekujur tubuh
lelap sekejap uak! menoleh samping uak!
kantong plastik menggantung lepai di jemari
mengandung muntahan benci akan perantauan
ingin lekas mengecup ruap
senyuman kampung halaman

manakala matahari kian ria menari
wajah bus menembus yang dinanti-nanti
ke sudut terminal berobat diri pada wangi sari-sari kopi
aroma tanah kelahiran menyengat nikmat sanubari

Sumenep 2016


Rasa Rahasia yang Minta Disajakkan Derita Perkawinanmu

kemiskinan memang sepadan
dengan kawanan semut im
mudah ditindih kuku atau diinjak-injak tumit
demikianlah kepalamu di bawah kakinya
membuat dadaku sesak oleh batu-batu
kecewa sekeras cemburu
kecewa atas terang-remang nur nuraninya
terhadap kepatuhanmu
patuh padanya lebih-lebih ayahmu
yang sama-sama rabun ditimbun debu permata
cemburu lantaran berkarung-karung kesetiaanmu
dipanggul batang keangkuhan

bukan aku sok perhatian im
ini bukti hakikat persaudaraan semata
saudara yang terpisah dari ruah pijar kalbu
yang kerap kudoakan agar
pulang meniduri rumah dahulu
yang kamarnya terpajang menawan
pigura-pigura kedamaian
tertata indah bunga-bunga percandaan
masih semoga demi semoga
kaulah keabadian asmaralokaku

Sumenep 2016


Membaca Nasib Dedek Sultan dengan Seribu Deru Keharuan

tiada pohon rela buahnya gerhana sayang
tapi siapa sanggup menepis kehendak maha bijak
sampai kini dua tahun lebih engkau belum
mampu berdiri menyusuri
masing arah halaman kebahagiaan
belum mampu menutup nganga luka mereka
yang hari ke bilur menyembur nanah kecemasan
meramal-ramal lembar masa depan
penuh kabut tebal membindam

ataukah masih tersimpan rekah purnama
di balik selaput awan yang menitah
untuk dahulu tabah?

ah! berbulan-bulan sudah
digerayangi entah dan entah
sembari mencari-cari sinar keajaiban
ke beberapa penjuru yang konon mustajab
menurut nasihat teduh angin
nihil! tak pun secuil menumbuh hasil
engkau tetap tergagap dalam mamma-babba
hanya bisa duduk tertawa di beranda jiwa
menerangi separuh doa

Sumenep 2016

Tawasul Pagi atas 1000 Hari Kembalinya Tanah ke Tanah

sahabat muslimin berdatangan
mengabulkan ruas-ruas harapan yang terukir
di antara ingatan tikar-pertikar
memilih kopi atau teh yang terbit terik
dari kelembutan jiwa dapur
sebagai pencerah suluk pikir
menuju lembah khusyuk zikir

seketika kepulan kemenyan
menyerang laut leluhur
komat-kamit lisan kiai menyuruk
menyerupai uap kembang ghaddhing ke sakral
ruh kanjeng nabi dan para wali
pun almarhumah yang hendak ditahlili
semakin birulah mentari dikepung sekampung
kupu-kupu yang menetas dari buih bibir kami

goyang kanan goyang kiri
bak ibadah dedaunan pada sang sesembahan
70.000 butir tasbih silir-mengalir
dalam riak kesyahduan
lailaha illallah lailaha illallah
mengapung di bubung udara
mengguncang kandungan surga dan neraka

Sumenep 2016

Keresahan Petani Mengaji Masa-masa yang Bakal Lebih Pekat

kilau mobil-mobil yang memanah alam suram kami
yang dulu hanya dapat kami decakkan di sinetron
kini menjelma mainan buyut kami sendiri
berkeliaran di tandus lorong perkampungan
mencipta kemacetan panjang
di pengap pelabuhan
sapi-sapi yang kami angkut
untuk dijual ke pasar harus sabar
menahan haus kesiangan

tak heran anak-anak mesin mereka
dininabobokan i-pad di samping kanannya
oh! di jamban manakah mayat
jaran pelepah pisang kesayangan kami dikuburkan?
oh! wajar saja android menjadi satu-satunya
kitab mujarab di sukma remaja kekinian
kitab yang mewahyukan banyak hal
kitab yang tak henti-henti
dicabuli apalagi ditinggal

kelak saat umur internet 50 ke atas
masihkah jagung dan buncis
bertukar-tukar pantun di tegal?
masihkah rumputan mengabdikan
sepenuh hijaunya pada sapi dan kambing?
masihkah senandung beburung bangkit
dari ufuk arit kami ini? oh!

Sumenep 2016

Takdir Tualangku di Bawah Bau Pantat Pengingkar Nikmat

saban hari aku
sepanas-panasnya dipacu
auman knalpotku mengirim
asap kegetiran ke dada penunggang lain
cercaan api cercaan berkobar-kobar
dari mulut suci mereka
tapi kuping pendekarku tetap
tak bosan dijilat-jilat setan pagar
sehingga tidak mendengar
atau pura-pura tidak mendengar

aku terus dipacu mengabaikan
bayangan maut yang
bergoyang di kiri-kanan jalan
sebab ia bukan pengecut yang mesti
mati di kandang sendiri
tak mau tenggelam
ditelan baiknya laut diam
harus memang harus menyerbu badai
laksana nelayan yang tak
pernah menyerah pada ombak sansai
sampai darah sudah saatnya dimuntahkan
sampai pengumpat-pengumpat itu
berucap hamdalah bersamaan

Sumenep 2016

Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa ini merupakan mantan Ketua Umum Sanggar Andalas, sekaligus aktivis beberapa komunitas teater dan sastra lainnya. Sebagian karyanya dipublikasikan di sejumlah buku antologi bersama serta media cetak dan online. Sesekali juga dinobatkan sebagai pemenang atau nominasi di antara sekian lomba cipta puisi, lokal maupun nasional. Berdomisili di Poteran Talango Sumenep, Madura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Blogger Templates - Designed by Colorlib