Header Ads

Puisi-Puisi Syam S. Tamoe diambil dari Antologi Perjaka Tua 2012

Perancang sampul: Tu-ngang Iskandar

SAJADAH SUNYI

retak wajah ini membusuk
dan hangus di pundak senja
kutusuk jantung dalam hari-Mu

“marhaban ya, ramadhan”

kusambut malam-Mu
di atas sajadah sunyi
bertafakur menjalin cinta
di balik malam tabula rasa

dalam hening kerinduan
zikir cinta mulai gemuruh
menggetarkan roh-roh renta
di tubuh insan semesta

“marhaban ya, ramadhan”

kuingin memeluk-Mu
selembut sutera
dan menatap-Mu setajam pisau
aku harap arasy-Mu di sini
sepanjang malam kerinduan

Jakarta, 2004

MADURA, AKU ANAK YATIMMU

pulang aku menyapamu
kembali aku untukmu
di sini ditanah kering kerontang

madura, aku anak yatimmu
merah aku dalam tubuhmu
bara aku dalam jiwamu
pahlawan aku dalam semangatmu
dan merdeka dalam merah putihmu

madura, aku anak yatimmu
menjerit menangis pilu
dan robek sukma di dalam cinta
kau terjerat di pundak waktu
kau terpenrangah di mulut bisu
kau terapung di perut semesta
dan terhempit tawa di mata zaman
perih, aku ternoda dialektika

madura, aku anak yatimmu
kau zikirku sepanjang masa
kau roh di tiap detak jantungku
kau sajak di tiap baitku
dan mutiara dalam genggamanku
madura, aku anak yatimmu
kau negeri tak ada duanya

Jakarta, 2005

BULAN SABIT

ada cuaca hening di matamu
raut yang akrab dengan laut
membawanya hanyut dalam suram
dan melambung di sudut awan

sejenak kau meruap sepi
dan melepas tubuh di bulan sabit
di pagar tembok berlapis duri
kau tegak tak bergeming

berlalulah
dalam heningmu yang parau
kau telusuri got-got kecil merintih
dengan peraga menuju persada

Jakarta, 2004

SAJAK KRITIK DI POJOK PAGI

“aku tak paham jalan pikiran kalian”
sepenggal sajak putih di pojok malam
bila rakyat bermata rakyat
kritik raykat akan merakyat
namun bila rakyat tak merakyat
kritik rakyat akan dirakyatkan

kritik rakyat, rakyat dikritik
mengkritik rakyat, rakyat kritik
siapa lagi kritik-mengkritik?

“aku tak paham jalan pikiran kalian”
mimpi sebuah boneka di almari kosong
peradaban telah biadab
idealisme terapung dosa
nasionalisme diam membatu
demokrasi penjajah sejati
stop! kritik-mengkritik
biar rakyat bodoh berdialektika

negeri ini negeri musibah
negeri ini negeri bencana
negeri ini negeri berdarah
tapi bukan negeri-negerian
pengagum indonesia telah gugur
bung karno tinggal sejarah
ki hajar dewantara lelah hidup
mas munir bosan merakyat
cak nurcholis madjid telah tiada
pak pramoedya ananta toer jenuh ber-tuhan
mereka menghilang bukan sakti
tapi ingin negeri ini jaya raya

“aku tak paham jalan pikiran kalian”
sebait sajak gelisah di trotoar bolong
negeri ini bosan berwacana
wajah rakyat diterjang bencana
dekontruksi anti reformasi
indonesia mengumbar sejuta janji
kritik-mengkritik pun lupa tersaji bukti

kita malu anak bangsa lugu
kita bingung anak negeri pintar
kita bangga anak indonesia ada
tapi sampai kapan kita mengkhayal
rakyat bukan teman permainan
pemerintah bukan dewa diagungkan
akhiri permainan politik licik
akhiri kritik-mengkritik picik
semua ingin indonesia jaya raya
seperti janji aparatur yang tertutur

“aku tak paham jalan pikiran kalian”
cuplikan tawa bayi di perut bumi
indonesia bangga punya bung karno
tapi kecewa hanya satu jummlahnya
akhiri sebuah sajak kritik di pojok pagi

Jakarta, 2005

MIMPI SANG ANAK

“pah, besok aku naik kelas
dan sebentar lagi menjadi seorang mahasiswa”
“wah hebat!
kau generasi masa depan bangsa anakku”
“ha,ha,ha, Bapak lucu
dan pintar menghibur hati”
“apa katamu?”
“sudahlah Pah, jangan sok mau diskusi
bangsa ini tidak butuh orang
yang hanya kerjaannya berdiskusi...”
“kamu generasi bangsa anakku
kamu harus pintar, cerdas dan pandai berdiskusi?”
“apa itu diskusi, Pah? apa itu pintar?
dan apa itu cerdas?
bangsa ini tak harus dipimpin orang pandai
berdiskusi
pintar dan cerdas, Pah
tapi cukup bagi yang punya jiwa pemimpin
dan mau dipimpin, Pah”
“lihat Bung Karno
beliau punya jiwa pemimpin  dan mau dipimpin
nasionalisme, ikhlas, cinta rakyat kecil dan mampu
membebaskan
kolonialisme, imperialisme di negeri ini
“itulah intelektualitas Bung Karno, Pah
sayang Bung Karno belum ada gantinya
kemiskinan melimpah-ruah
pengangguran tak terhitung jumlahnya
pengedar obat terlarang di mana-mana
tontonan bugil termurah di dunia
pemerkosaan dan pencabulan merajalela
banjir dan tanah longsor tak terelakkan
korupsi tak kenal basi
aduh, kasihan nasib bangsa ini, Pah”
“ya, sudahlah tenangkan dulu pikiranmu di kamar
besok bapak sampaikan salammu”
“lho, kenapa harus besok, Pah?
negeri ini dikejar kiamat
kiamat,kiamat,kiamat”
“subhanallah, aku mimpi toh”

Jakarta, 2004

INDONESIAKU

indonesiaku
rakyat di mana
dengarlah suara penyair
jakarta berbahasa
lampu merah berasap tawa

indonesiaku
kabarkan semua orang
bahwa di sini rawan asap:
asap kamar mandi, asap kamar ganti
asap kamar sepi, asap kamar serba jadi
bahkan asap kamar tak bertepi

indonesiaku
lihatlah berjuta-juta mata berpesta
dan siap menyapa siapa pun yang datang
tentu bulan depan, atau tahun akan datang
ada lagi tarian mata cinta
yang mendaftar untuk bercerita panjang
tentang lipstik, tentang cantik, tentang duit
bahkan tentang yang buncit

indonesiaku
izinkan kami pergi untuk bercerita
karena indonesia kami rindu harapan

Jakarta, 2005

LABA-LABA TUHAN

embun itu masih menguap di mataku
perasaan perih mencabik batinku
malam melirik jasadku
siang telanjangi rohku
aku mati tervonis laba-laba tuhan

dalam hati yang terpaut hina
aku lelap terhanyut buih lautan
di mana laba-laba itu bernostalgia
aku rindu walau kaku

ombak mencuak tinggi di kakiku
ke mana lari harus berlayar
panas membakar tanpa ampun
aku ingin lampaui hari-hari sendiri
di sana laba-laba Tuhan memuja keagungan
aku ingin pergi, relakan tubuh ini bercinta

Jakarta, 2005

TUAN

tuan hendak ke mana
jalan kota penuh pesawat tempur
polisi dan satpam masuk rumah sakit
tuan istirahat dulu
tante kesepian seorang diri

coba lihat, tuan
jendela kerajaan rapuh
kenapa pepohonan ditebang
kenapa orang-orang tanpa busana
kenapa orang-orang berteriak panas
tuan tahu kenapa?

hari ini
tuan kalah sebelum berperang
urungkan niat untuk keluar kota
lampu merah menyala sakti
kasihan para penumpang tak kunjung tiba

tuan pensiun menjadi tuan raja
biarkan satpam yang mengurusi istana
tuan pulang dulu
kasihan tante di rumah sakit

Jakarta, 2005

JAKARTA-MADURA

kau temani aku berlabuh
menempuh waktu di tebing-tebing tua
mengukur jejak di dinding-dinding hari
lepas kau terdiam keterasingan

di batas pulau samudera
kau kenang jakarta di ujung malam
lalu rindumu mengajakku pulang
saat badai menelanjangiku di pantai madura

jakarta-madura telah sampai
aku peluk erat-erat tubuhmu dalam hati
aku belai rambutmu dengan jiwa
aku kecup keningmu dengan mesra
di pulau ini kita tanam cinta
untuk hidup di atas sejuta asa

Jakarta, 2004

LEKAT DENGAN APA

lekat dengan apa
aku  pusta tanpa mesin kata
dan sekarat tujuh benua

lekat dengan apa
aku ditambat badai kejora
kejat, padat, rapat
ke hulu tanpa bintang
ke hilir ditinggal tepi

lekat dengan apa
aku sepi di jemari januari
dan tidur di matahari puisi
aku laut jadi belut
jadi patriot, jadi pesisir
dan jadi apa

lekat dengan apa
karena langit biru terharu
di wajah yang lugu
lekat dengan apa
karena lubang jadi gelombang
di laut gelisah pantaiku
lekat dengan apa

karena diam jadi batu
di panjang mimpiku
lekat dengan apa
belum apa-apa
aku tekstil kemarin di tenun
bukan setawar seperti bunga mawar

lekat dengan apa
jangan tukar pandang dengan awan
dengan sisa napas yang terpendam
dengan senyum wira pahlawan
dengan rentetan episode panjang
aku coba dengan apa

lekat dengan apa
aku tak mau diintrogasi
aku hanya tubuh pinjaman dari yang tak bertubuh
seperti kelip bintang tanpa ruang
seperti kalender mati tanpa tanggal
belum apa-apa

lekat dengan apa
hidup semakin lelap dalam gelap
gelak tak ada tawa
senyum tak ada pesona
aku tak bisa
dan belum apa-apa

lekat dengan apa
mati!

Jakarta, 2005

DIPANGKUAN SIANG

lentik bulu matamu di siang sunyi
di batas jendela yang tak berkaca
kau bertukar pandang dengan awan
lalu kau selipkan selendangmu di mata angin

di bawah naungan jendela
kau ajak sunyi memeluk gerimis malam
namun, waktu tak dapat diajak kompromi
dalam menyulap gelap
di sini, kau perlahan pejamkan mata lentikmu
saat awan tak mampu melawan terang

di pangkuan siang, kau hanya bernapas lepas
tunduk dan membisu dijarah mata waktu
kau kalah, namun tiada yang menang

Jakarta, 2006


Syam S. Tamoe adalah penyair, dan alumnus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama di Jakarta (2003-2008), telah mendirikan beberapa Sanggar Sastra diantaranya, Sanggar PADI, KOMSAK, Ya Maulay. Juga aktif mengajar cara baca-tulis Karya Puisi di berbagai Komunitas Sastra di Jakarta diantaranya, Komunitas Komka, Kosmik, Makar dan El-es Bamboe. “Wasiat Cinta Ibunda & Asbak” 2001-2003 adalah dua Kumpulan Karya Puisi. Dan “Sajak Virus” Kumpulan Puisi yang akan segera di bukukan. Selain aktif menulis Puisi, Cerpen dan Opini, sering kali diundang sebagai Dewan Juri Lomba Baca Puisi. Sekarang baru saja mendirikan Sanggar PECI di tanah kelahirannya.

 
Powered by Blogger.