Header Ads

Puisi-Puisi Kurliyadi di Fajar Sumatera, 19 Juni 2015




Kampung Kombang

begitulah kisah kampung ini sekarang
tentang tanah subur dan gembur
lagu-lagu ombak pengantar nelayan
supaya aku tahu,
hidup begitu bernafas dari keringat
airmata

tembang-tembang nemor*
nyanyian dadali bersarang di jantung nadimu
perjalanan tidak berhenti di sini saja
begitu melihat ke laut
di atas gelombang dan penuh badai
ada seorang laki-laki: ayah dari
anak-anak yang berlarian di ujung pesisir
sedang bertaruh nyawa demi serumpun senyum
yang sedang mereka istimewakan saat senja
bertandang
di rumah tamu dan mimpi
yang menetas jadi rembulan

2013


Seperti Abu dan Hujan

Seperti abu dan hujan
hidupmu diterbangkan angin dan
lahir ditentukan musim

entah berapa lama kau di sini kekasihku
kau ciptakan embun lalu dari embun
kau lahirkan basah, daun-daun juga tanah
yang semalam kau curamkan jadi puisi
sedangkan di alismu yang syahwat aku termangu meminum
kenangan

seperti abu dan hujan
aku lelaki yang dipenjarakan namamu
kemudian setangkai bunga tumbuh di
antara puisimu yang tak boleh aku baca

: belum puas kau seperti abu dan hujan
september pergi ke akar januari
tiba-tiba kau masuk dalam mataku
membangun menara dengan bayanganmu sendiri
sebab hanya pada abu dan hujan
aku  mencintaimu dengan sederhana

2013


Perempuan Madura

Perempuan dalam nadiku
Seperti hujan pamit
Menjengkal arah cintaku
Menjemput rembulan sabit

Padamu perempuan Madura
Darahku tempat berteduh
Dari kuburan dukalara
Hingga dermaga terteduh

Senja pergi menjumpaimu
Mengulur waktu matamu
Menjumlah arah pulaumu
Desir ombak lautmu

Perempuan Madura dulu
Adalah ibuku cinta
Semerbak bunga qulhu
Derai suatu kata-kata

Meminanngmu dari tembakau
Menyelami asin garam
Melamarmu aku terpukau
Menikahimu aku temaram

Senja telah rampung
Menampung hujan senandung
Mengerami rindu serumpun
Dalam hati yang unggun

Pulang kepadamu : musim
Tempat berteduh dari hening
Suara langit beriring
Mengantar pesan yang muhrim

Pada suatu waktu
Memandangmu dari jauh
Wangi rambut alastu
Getar rasa tak keluh

Pintu rumahmu terbuka
Untukku yang puasa
Dari timur pulau cinta
Sampai qoda’ kuasa

Perempuan Madura : kamu
Hanyalah potongan tubuhku
Yang datang untukku
Sebagai hawa harimku.

Perempuan dalam puisi
Mencintaimu sampai puisi
Menulismu dari puisi
Meminangmu dengan puisi

Istana puisi 2014



Kuradi, lahir di kepulauan Giligenting, Sumenep, Madura. Alumnus Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Pengarangan, Sumenep. Karya sastranya berupa puisi, cerpen, novel, roman, pantun dan esai dalam bahasa Indonesia dan Madura. Beberapa karyanya dimuat diberbagai media massa dan antologi bersama.
Powered by Blogger.