Header Ads

Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin di Media Indonesia, 16 Agustus 2015



Gambar Karya: Suvi Wahdiyanto

Sajak Petani Garam

Kincir berputar di jantung,
dadaku menjadi tanah lapang
yang dialiri air asin.
Sedang di sini, dalam jiwaku
garam sudah tak terasa sebagai garam lagi
hanya diri
dalam kembara
yang terus teruji.

Sareman, 2015


Sepasang Sapi Merah
dari Taman Sare

1/
Sepasang sapi merah berlari bagai peluru api. Debudebu
berhamburan bagai asap yang menjalar dalam
jiwa. Hilanglah jejak, teranglah sajak. Tali kendali tak
henti ditarik. Sapi-sapi terus melesat sepanjang larik
sajak.

Kau dan aku adalah sapi merah dari Taman Sare.
Karapan bukan ingin menang, bukan pula takut
kalah. Tapi kau dan aku ingin meresapi kesakitan
dan menghapus jarak sajak.

2/
Demi tanah kelahiran yang ditinggikan. Demi
matahari kampung halaman. Demi bulan tanggal
enam. Jika kami menang, hanya karena selangkah
lebih cepat dari lawan. Jika kami kalah, hanya karena
kurang kompak dengan kawan.

O, sapi-sapi merah yang ditabuhi gendang. O, sapisapi
yang berlari. Matahari kita satu. Langkah kita
beribu ibu. Semakin dikejar, bayang-bayang semakin
jauh.

3/
Dari dalam diriku dan dirimu akan lahir kata-kata,
bagai sapi-sapi perkasa. Sapi-sapi dengan mata
hitam dan putih menyala. Dari dalam diriku dan
dirimu, kata-kata melompat dari masa ke masa. Ia
melampaui makna dan segala rahasianya.

Dan kelak kita akan melenguh dan bertakhta para
juara. Matahari dan bulan akan menunduk di tanduk
kanan-kiri kita. Lalu kita bahagia selamanya.

Sumenep-Yogyakarta, 2015


Jiwa Daging Sate

Aku adalah jiwa bagi daging yang diiris.
Gelap mata pisau seperti malam tanpa bulan
lalu bintang-bintang berkedip dan roh-roh menjerit
di setiap potongan.

Dalam jiwaku, ada gumpalan, muasal segala dendam;
kau tusuk aku dengan bambu, kau panggang aku di
atas tungku,
kau taburi aku bumbu: bawang, cabe, dan kacang.
Kau kunyah dan kau telan aku, kau habiskan aku
dengan pamer.

Aku adalah jiwa daging yang meringis dan geram
di bawah kegembiraanmu. Ingatlah, aku akan
mengintaimu
dengan sebilah tanda tanya dan tanda seru.
Biarlah urat-uratku tegang ke langit, menarik
nyawamu dengan kejam.

Singosaren, 2015


Kepada Istriku

Jiwamu, kata orang bagai hutan
belantara, setelah kumasuki tak terasa
sebagai hutan lagi.
O, hancurkan semua jalan. Biarlah aku
membuat jalan baru yang tembus
ke hatimu.

Telah kutemukan matahari terbit
dan beredar di aliran darahmu.
Sinarnya terang bagai rinduku.
Bila malam bertandang, bulan
menyerupai rasa kangen.
Cahayanya bertabur ke hutan-hutanku.

Kepadamu istriku,
kepadamu yang ingin menjadi burung
matahari. Sudah bertahun-tahun aku
bertekukur lewat puisi.

Yogyakarta, 2015




 Ahmad Muchlish Amrin, lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Pada 2009, diundang ke Ubud Writers and Readers Festival. Kini sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Jurusan Sosiologi Fisipol UGM Yogyakarta.
Powered by Blogger.