Header Ads

Puisi Muhammad Ali Fakih - Majalah Horison, edisi Februari 2013




Senja Susut Dari Ufuk Matanya yang Sembab

senja susut dari ufuk matanya yang sembab
sementara sisa hujan siang tadi masih menggantung di pucuk-pucuk daun yang sesekali digoyang-goyangkan angin, seperti nasibnya

ia tak berharap ingin melupakan segalanya
dan ia tak ingin menangis lagi
petang yang mengendap di rimbun pohon bambu, menjilati hatinya yang pilu

bebunyian hewan-hewan kecil riuh menyambut malam
seperti riuh waktu di dadanya berdebam, menyambut yang tak ingin disebutnya kenangan

ia tahu siang terlepas, hujan tertahan di pucuk-pucuk daun
tetapi ia pun tahu petang kian mempertegas hatinya yang pilu

Dasuk, 2011


Sebatang Pohon

sebatang pohon terbakar oleh kemarau yang kita tiup dari tanah ini, dada ini
sesaat langit melemparkan kita ke sebuah ruang yang terpencil dari cuaca

tetapi sebatang pohon menjulur-julur ke langit
dan kita yang sendiri hibuk mencakar-cakar sepi

Jogja, 2011


Ia Tak Ingin Melepas Pagi

ia tak ingin melepas pagi begitu cepat dari beranda ini, dari hati yang remuk ini
tetapi hujan yang datang tiba-tiba membuatnya tak bisa menahan kenangan yang deras memukul-mukul matanya

ia dipaksa tercenung sendiri di beranda ini
tanpa sempat menangkap isyarat dari bunga-bunga yang bermekaran di halaman
tanpa sempat menanyakan kembali: sejak kapan hujan telah mencekik pagi sesengit ini?
sejak kapan seseorang mesti merasa terasing dengan keadaan?

ia bayangkan, seandainya hujan reda dan pagi telah menggulung rumbai-rumbainya, mungkin tak akan dikenalnya lagi malam yang melesap ke dalam tanah dan menghembus beranda ini, hati yang remuk ini

Dasuk, 2011

MUHAMMAD ALI FAKIH, lahir di Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura, 08 Maret 1988. Kini sedang belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).


Powered by Blogger.