Arsip Puisi Penyair Madura (Se)-Indonesia

Full width home advertisement

PUISI INDONESIA

PUISI MADURA (SANJA')

Post Page Advertisement [Top]




DUNIA KEDAI BIR
– omar khayyam

dunia lahir dari tanda tanya
dan tumbuh di kedai bir, sebelum dewasa;
peta bintang di matamu meneteskan api
membakarku di abad ini

jalan-jalan bercabang, bagai hologram
di dalam pikiran:
tempat di mana cinta terhapus dari ensiklopedia
tempat kau menatah putih jadi pelangi
tempat gelisah menggali diri

kau mengembara dari barat ke timur
di antara phytagoras dan al-ghazali
kau berteriak, tanpa hipokrisi
dalam pelukan puisi

apa yang belum kau buru?
mutiara jamshid dan mahkota bahram
telah membuka pandanganmu akan dunia
sebagai penginapan tua

dan di puncak waktu pun
kau tepis otak kaikobad dalam mata parviz
kau lempar kenangan, sebelum tiba ajal
untuk mabuk di kedai bir tuhan

krapyak, 2012


SEBUAH PIALA
            – karangan bunga untuk alm. siska

sebuah piala
kugenggam dalam hati
dan pemiliknya
rebah di hati yang lain

sebuah piala
tanda cinta pertama
abadi dalam hati
mendiang di hati yang lain

krapyak, 2012


SENGILNUNGNGIL

kubah-kubah angkasa berpacak dalam kebingunganku
kubah-kubah dari dunia yang pecah
di balik mata dan batin

kubangun kenyataan dari serpihan metafora
dari butiran-butiran simbol
yang kulebur dalam darahku
jadi mental, jadi nasib, jadi gambar tentang fakih
dan aku menolaknya

bagaimana malam terlihat sebagai siang
dan siang terlihat sebagai malam?
bagaimana ruang dan waktu
kupeluk dalam kebinasaan?

makna-makna berputar bagai planet-planet berputar
mengitari matahari yang padam dalam permenunganku;
laut filsafat, sains dan puisi menguap
jadi mendung gelap di mana kilat dan guntur
menghablurkan isi kepala dan dadaku

kutuang anggur hakikat ke dalam mulutku yang fana
hingga aku mabuk, dan dalam kemabukan
aku kehilangan cinta dan kerinduan;
aku pun jatuh terperosok ke jurang duka cita
dan terlepas dari tangkai manusia

kenyataan adalah sebuah tafsir:
aku bangun sebagai fakih
dari ranjang pikiranku sendiri

kini, ingin kubakar dunia
dan bunuh diri
di titik pusat asal mula

krapyak, 2012


MATA KEMATIAN
            – nom hadis

mata kematian: mata senja
jendela di mana kita menatap
ketakterhinggaan di luar
dan keterbatasan di dalam

kematian: birahi fatamorgana
jurang pembuangan orang-orang sakit
yang tak tahu atau memang tak pernah ingin tahu
jalan ke puncak diri

ruang waktu, raksasa bebal itu
mencari harta karunnya di hati kita
dan membangun dunia
dari retakan-retakan cermin
hingga mata kita lamur
yang semestinya riang di kala senja
jadi murung

kematian, pada mulanya
hanya sebuah lelucon
yang tak ada
di tengah-tengah dunia
yang tak ada

krapyak, 2012


KAU TUANG KEGILAAN DAN AMARAH

kau tuang kegilaan dan amarah
ke dalam cangkir mimpi
dan kau menenggaknya

kau tidur di relung mata semua orang
dan bermimpi: kau berdiri di ujung tombak bahasa

dunia tumbuh dari rasa ngeri
air mata mengalir sepanjang hayal
dan kau melangkah ke tengah hari
bagai melangkah ke medan perang

tapi di manakah suaramu? di mana?

senyum yang kau genggam, buktikanlah
kelak akan jadi pisau
yang kau gunakan
untuk menggorok nasibmu sendiri

gedong kuning, 2012


DI MANA SAJA

sumur-sumur hakikat
bisa digali di mana saja
bir dan air mata
bisa tenggak di mana saja
tak perlu masjid, wc atau diskotik
tuhan dapat dijumpai di mana saja
filsafat, sains dan puisi
tirai-tirai kenyataan
bisa dirobek di mana saja

krapyak, 2012


KAU BOLEH MELAHAP APA SAJA

kau boleh melahap apa saja:
bunga, pisau atau puisi
kenyataan toh hanya sebuah tafsir

kau boleh menangis dan tertawa
waktu toh akan bertepuk tangan
sambil memandang sinis
pada kau yang sibuk membanting kenangan

kau kira jalan akan membentang
dari kesia-siaan ke pulau impian
dan pikiran dan renungan
mengapa kau begitu yakin
akan mengantarmu ke dasar hati?

apa kau lupa atau memang tak pernah tahu
dunia adalah cermin yang retak
dan kebenaran adalah kau yang berdiri di depannya
yang tak pernah mampu menyelesaikan solek dan duka cita

pedak baru, 2012


MUHAMMAD ALI FAKIH, lahir di Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura, 08 Maret 1988. Kini sedang belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Catatan dari Si Tukang  Arsip: puisi ini pertama kali dipublikasikan oleh Radio Nada FM Madura, pada 10 Agustus 2014 di nadafm.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Blogger Templates - Designed by Colorlib