Header Ads

Soneta Selendang Sulaiman - Kedaulatan Rakyat, 29 Maret 2015.



Sulaiman Sang Nabi

ceritakan padaku tentang siksa :
rayap-rayap kian gigih menyusun istana
demi semedi sepanjang musim binatang tanah
demi tubuh bertakdir sayap di lubang maut

seorang rahib berkabar padaku usai hujan reda:
di zaman antah berantah ada yang mengerti
bahasa binatang di seantero dunia manusia
Sulaiman sang Nabi, empunya ilmu pengetahuan

juga kebijaksanaan!
lantas adakah siksa dunia
dari puncak gunung yang paling gunung?

lihatlah di arah sumber sinar keemasan itu
srigala bangkit memanggil ratu purnama
yang mengusir ratusan kelelawar di wajahnya

Oktober 2013-2015
 
Kidung Jagad Raya

misteri cinta tenggelam ke lubuk bumi dan cakrawala
menguras mata air dengan paruh burung di sangkar
hujan turun, sungai mengalir deras, lalu muara
menampung rahasia kidung jagad raya

kemudian benih cinta tumbuh di dasar kolam
yang dicipta di tepi danau tanpa bunga setaman
siapa terapung di atas daun talas yang licin?
matanya merekah, bersenggama dengan matahari

wahai pemilik segala rahasi langit dan bumi
tempat rahasia dicipta dan misterinya cinta
tiupkanlah wewangian surga-neraka di dada ini

tetes hujan bersenandung di atas payung
menyanyikan lagu-lagu semesta
yang tak tertulis di kitab-kitab para nabi

2013/2014

Milik yang Azali

kusederhanakan kehendak rasa
dan daya cipta pada setiap jelmaanmu
yang teduh demi sinar bahagia
ketentramanmu-kedamaianku

kusederhanakan jua kata-kata
tanpa bulan dan kristal-kristal angkasa
tanpa bunga-bunga ladang dan hutan
tanpa penggalan firman-firman Tuhan

tetapi memang habis sudah
bahasa indah untuk hadirmu
kecuali keindahan itu sendiri_

milikku yang tak termiliki
atas milikmu yang tak memiliki
kepermilikian sifat-sifat azali

2013/2014

Selendang Sulaiman, Lahir di Sumenep, Madura 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa, seperti; Seputar Indonesia, Indopos, Suara karya, Minggu Pagi, Riau Pos, Merapi, Padang Ekspres, Lampung Post, Radar Surabaya, Majalah Sagang, dll. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), dlsb. Antologi Tunggulnya: Hymne Asmaraloka (Bitred Digital Book 2014).

Catatan dari Si Tukang Arsip: puisi-puisi suneta ini dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada 29 Maret 2015.
Powered by Blogger.