Header Ads

Puisi-Puisi Muhammad Ali Fakih





Zhu Ni Sheng Ri Kuaile, Siocia!

[1]
Alam bisu, lembab dan lugu
Malam, dan segala yang bernama malam
menampung bahasa benda-benda langit
di mulutku yang gemetar dan kebak oleh cinta

Ucapkan! – seru mereka
Dan aku pun berteriak
kepada sosok yang kucipta dalam benak:
“Zhu ni sheng ri kuaile, Siocia!”

[2]
Cahaya lampu jalan terbaring
di daun-daun pohon palma
dan pulas di atas alunan instrumentalia

Sedang aku, mimpi yang tercipta dari namamu
bertanya kepada waktu: cukupkah usia
barkata banyak tentang dirimu?

Tetapi waktu, dengan wajah layu, hanya mendesah:
“Zhu ni sheng ri kuaile, Siocia!”

[3]
Samar-samar, musik memainkan udara
Dan ketika kuiringi ia dengan nyanyi
sesosok peri mengangkat suaraku
ke langit Jakarta, 27 tahun yang lalu

Tatkala sebuah tangis bayi pecah
dan ucapan dikirim dari segala arah:
“Zhu ni sheng ri kuaile, Siocia!”

[4]
Pada jam itu, saat segalanya terbaring
O kelahiran yang menatap surga
kau dengarkah nyanyiku berlayar
di danau air mata seorang perempuan?

Saat segalanya terbaring
tak kau dengarkah bedug masjid dan lonceng gereja
dipukul pada saat yang sama
untuk cinta yang memancar dari kalimat yang sama:
“Zhu ni sheng ri kuaile, Siocia!”

[5]
Aku bernyanyi dan kau tertawa
Sedang malaikat, mahluk yang tolol soal cinta itu
menitikkan air mata
ketika ia buka lembaran takdirmu
di mana tak terbubuh namaku

Tetapi aku akan terus bernyanyi
hingga kelak tak dapat kudengar suaramu lagi
dan hanya di hadapan fotomu aku dapat berkata:
“Zhu ni sheng ri kuaile, Siocia!”

Jogokariyan, April 2014

Dua Sajak Buat Faustina Bernadette Hanna Kesumajaya (Kwang Han Na):

Di Puncak Bukit Seruni

Di puncak bukit Seruni
aku berteriak memanggil namamu

Aku panggil namamu berkali-kali
Padahal kau sedang di sampingku
tertawa-tawa kecil dan berucap: gila!

Betapa jika kau tahu
Aku ingin suaraku membawa namamu
menembus gumpalan kabut di lembah-lembah
di pohon-pohon yang diselimuti hawa dingin
Menembus cakrawala
Menembus hasrat riang dan duka cita

Aku ingin suaraku dan namamu
sampai di masa depan dan bernyanyi
Bernyanyi untuk kedatangan kita
dengan cinta yang penuh

Tak akan ada lagi pertengkaran
atau rasa kesal atau kemarahan
memburu kita
Kita akan murni sebagai musik
yang mengalun dari dalam jiwa yang tunggal

Tetapi jika aku datang sendiri, aku akan berkata:
Jangan bersedih, o suara dan nama
Jiwanya ada dalam tubuhku
Sebab jika tidak, aku tak akan pernah ke mari
Aku tak akan pernah datang ke mari

Lihatlah ke dalam mataku
mimpi-mimpinya masih menyala
Matanya yang sipit saat tersenyum
lengannya yang lembut dan ingin kugigit
dan keseluruhan dirinya
masih tersimpan rapi
dalam ingatanku

Jangan menangis, o suara dan nama
Aku telah cukup bahagia bahwa nasib
pernah mempersembahkannya padaku
Bahwa semenjak dari puncak bukit Seruni
telah kuhadiahkan nafas dan usiaku
untuk seorang perempuan

Jangan bersedih, o suara dan nama
Sebab ia selalu berpesan: jangan bersedih
Jangan menangis, o suara dan nama
Sebab ia selalu berpesan: jangan menangis

Bogor-Yogyakarta, 2013-2014

Ceracau Si Gila
             
Dunia penuh mawar
dan aku ingin menciumnya sepanjang hari:
mencium bibirmu yang adalah kesedihanku

Cinta serupa musik yang memancar
dari kilatan pedang para pemabuk
Dan dari ujung pedang itu meneteslah
darahku dan darahmu

Saat daun-daun berlepasan dari rantingnya di musim kemarau
orang-orang berteriak,“Sungguh menyedihkan pohon ini!
Meski dicerai daun dan buahnya, akarnya makin mencengkeram bumi"
Han Na! O Han Na!
Kematian macam apa
yang tak akan menundukkan kepala
di hadapan mata si gila?

Sungguh menyenangkan usiaku lewat sia-sia
karena membayangkanmu
Tersenyum-senyum sendiri melihat wajahmu
meloncat dari satu benda ke benda lain
Menangis tersedu-sedu di hadapan apa dan siapa saja
ketika teringat kau dan aku tak mungkin bisa bersama

Agama kita beda, suku kita beda
Tapi langit toh mengabarkan keindahannya lewat awan
Hutan berbicara dalam cericit burung-burung

Mari berlayar bersamaku, Han Na
Hapus air matamu dan rebahlah ke pundakku
Prahara akan ditanggung oleh setiap perahu di laut mana pun
Prahara akan ditanggung oleh setiap perahu di laut mana pun

Jogokariyan, 2014


MUHAMMAD ALI FAKIH, lahir di Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura, 08 Maret 1988. Kini sedang belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Catatan dari Si Tukang  Arsip: puisi Zhu Ni Sheng Ri Kuaile, Siocia! pertama kali dipublikasikan oleh si penyair di catatan Akun Fb-nya. Begitu pula dengan puisi Dua Sajak Buat Faustina Bernadette Hanna Kesumajaya (Kwang Han Na): Dipuncak Bukit Seruni & Ceracau Si Gila, juga dipublikasikan oleh si pengarang yang tengah diliputi candu asmara, di catatan fb-nya pada 7 Februari 2014.
Powered by Blogger.