Header Ads

Puisi Hidayat Raharja | Sate Lalat | Kota | Laron | Mahoni | Srintil |



SATE LALAT

keratan hati yang mungil kusaji buat kalian. berubung tusukan doa yang sempat aku panggang di atas perapian luka. lampu-lampu mengintai di atas simpang kota. bau daging yang terbakar bau keringatmu yang terus terkuras dalam kerja keras sampai menguning. jika sempat kau kenyam rasakan darah kering di atas piring luka cinta paling setia. dan beribu-ribu keratan luka telah dipersembahkan ke hadapan dalam sebuah percakapan tentang puisi yang kurus atau soal politik yang merah.

selamat malam. sepiring luka telah hangus diemperan percakapan di bawah bulan yang mengangkang sembari menabarkan aroma malam yang lembab di antara jarum-jarum hujan melukai bumi. genangan darah hitam sambal kacang kegetiran yang tergilas berbaur pedas percakapan yang ranggas.



KOTA

kota yang angkuh, tiang-tiang menancap taman bunga dan lampu-lampu yang menipu dengan aneka cahaya yang membuat rupa dan lupa. kekar jam kota yang dentang menutup semua pintu. tokotoko dan pasar tak pernah tidur mengusik menara hijau yang kian pucat.
jalanan adalah selancar para kapital mendorong kereta hutang dan kredit yang licin memasuki ruang keluarga.sementara di ujung akaran tangan siap menerkam para pecundang meremas berahi. cafe merah di ujung gang menyediakan sup jantung dengan pisau dan garfu yang mengarah ke wajah. setangkai mawar di meja meregangkan mahkota dibawah remang lampu senadungkan lagu biru


LARON

Telah kurubuhkan rumah yang kau bangun dengan angkuh. Kayu-kayu nasib telah lumat dalam laknat. Musim hujan, tanah menangis dan langit mengamini. Saat berbiak tiba dan aku selesaikan sepasang sayap yang coklat bergambar kilang waktu yang menderu.

Telah aku tinggalkan dunia tanah basah dan kisah-kekasihmu yang rekah. Telur malam pecah di atas petarangan magrib yang temaram. Lihatlah tarian pulang di sekujur lampu-lampu yang tumbuh di matamu. Melukiskan kenangan terakhir yang sempat terekam di bibir sore.
 
Tubuh telanjangku kembali menyelami sela-sela waktu, sembunyi di balik batu takdir yang tersihir. Ruah-rumah gelap, dan kisah gerilya datang tiba-tiba, mengajakku kembali menepi di tepian sunyi meremahkan batu-batu nasib yang ganjil, ke dalam tepian malam takbir.
 
Lampu-lampu di dahimu memutar isi kepala bersama guguran sayap berebahan di halaman kelam.

MAHONI

Di tepian jalan waktu menyirami menumbuhkan tangan kaki dan mata yang beribu. Musim menyulam tulang dedaun nasib dalam selembar salam hijau yang tumbuh di dahiku. Riwayat matahari mengecupkan bibir yang terbakar dipunggung . Usia meretak di lipatan kulit tropika  dipenuhi tato batu dan gambut yang biru. Gambar sungai menjalari urat tubuh yang ungu dan  hamparan peta menunjuk ke kelokan bukitan biru dan lembah-lembah yang berlagu.

Kelelawar merah terbang dari rimbun dada yang dipenuhi putik dan benangsari hari. Penyerbukan burung yang berguguran meninggalkan nyanyian air dan tanah, lagu udara dan karbondioksida. Di kantung buah yang keras aku kandung pahit hidup pekat. Bebiji yang mengkristalkan bulan dan bintang,  yang  berjatuhan dari jantung malam. Jantung yang menggetarkan lampu-lampu dan meja makan yang berlemak dan bergula.

Di pecahan getir buah yang bersayap,  aku melayang menarikan matahari  menjalar di sekujur darahmu. Getah coklat yang melekatkan sayatan-sayatan luka, sibakan sakit dan sobekan bait di belahan tahun yang melingkar. Belahan-belahan yang berlapis menyusun gairah baru atau sebuah riwayat yang menukikkeujung jalan itu.

2012

SRINTIL

tegal dan bukit, hutan dan sumur yang selalu meumbuhkan cemburu di pematang lehermu. menuju hutan belantara tempat menggembala para penindas dan pendoa. adalah batu dan tembikar yang membuat wajah menjadi keras dan laki-laki menjadi pemimpi di ujung taji yang mengarah ke dahi. matahari senyummu telah merebahkan barisan pohon jati dan rerimbunan bunga tembelek. adalah malamyang selalu melayari bulan merenangi cahaya perak yang berjatuhan dari keringatmu. darah hitam para leluhur yang kebal matidan kutukan. Hanya bibir merahmu yang bersilang telah mencabangkan jalan ke kampung, ke tanah lapang tempat anak-anakbermain layang-layang dan talikekang. tapi di kota jauh dan dusun yang teduh matamu terbenam menenggelamkan sisa malam dan kegilaan,menidurkan anak-anak zaman yang kehilangan.

yang terbakar adalah rambut merahmu menerangi malam dan hutan. suara derap langkah dan lelaki dengan mata juling mengintai dari lubang tubuhmu yang beribu pintu.angin lapar dan kemiskinan  berebahan di antara reranting belukar yang rakus merimbuni dadamu.Dada waktu yang terus terburu.   masih kau ingat ketika lelaki itu menitipkan pohon dan sungai tetapi juga parang yang terkalung di leher. Tarian api, tarian malam,dan gelepar ngeri selalu bertumbuhan di penghujung dini saat-saat lelap menyelami sungai bintang.

matamu berasap, seperti mata nyonya yang tengah mabuk di rak belanja. mata yang mengusung troli di sebuah mall dan mata yang tengah mengukur hamparan tanah pertanian yang tengah memasuki masa tanam. musim pun beralih tetapi benang nasib yang basah selalu merambat ke kain kehidupan. kain yang dibatik dengan sulur ubi dan bunga kantil, molusca laut dan burung hong. mewarnai matamu yang berdarah.

2012

Hidayat Rahardja, lahir di Sampang, 14 Juli 1966. Lulus D III IKIP Surabaya. Tulisannya dipublikasikan di Karya Darma, Surabaya Post, Republika, Swadesi,Pikiran Rakyat, Singgalang, Horison, dll. Karyanya : Puisi PariwisataIndonesia (ap), Tanah Kepahiran (ap), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (ap), Songket  (ap), Negeri Banyang-Bayang (ap), Negeri Impian (ap), Memo Putih (ap, 2000), dll.

Catatan Si Tukang Arsip : Puisi ini diambil dari blog pribadi pengarang, yang diposting pada tanggal 28 Desember 2012. Biografi Penyair di ketik ulang dari : Korie Layun Rampan, Leksikon Susastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, ), hlm. 195-196
Powered by Blogger.