Header Ads

Puisi Sipulan K. Langka Tentnag Korupsi | Jalan Ke Gapura | Burung Yang Bertengger Di Gapura | Notabene | Sajak Kedip Mata Sebelah | Rp.|




JALAN KE GAPURA

simpang tiga sebelum rumahmu membuat gagap
aku bertanya pada waktu yang menggelar tikar
di pinggir jalan –usia sejarah menanggal tembok-tembok
dan bata yang menyekap ceritamu
jangan ada hidung mencium bau busuk
atau suara yang mengajak kita jumpa
sama sekali?

(kami hanya mencium aroma daging panggang
mendengar suara serupa nyanyian..)

kerikil-kerikil kecil dengan aspal senja hari
langkah terseok menyingsing kaki, tak sampai
separuh jalan telah lewat
kini rumahmu berjarak kedipan mata
menakar mimpi, kelas harapan dan doa-doa.

Sumenep, 2008


BURUNG YANG BERTENGGER DI GAPURA

istriku sedang memasak entah apa ketika deru sebuah pesawat
melintas di atas rumah kami, pada kekhawatiran yang sama
aku mengajaknya ke lelap paling mampat. dan gerakan-
gerakan kecil yang tidak kami sadari membuatnya muntah
di hari-hari deru pesawat kian bising;
mungkin besok ada lagi kabar yang selalu akan membuat
aku dan istriku tercengang di meja makan.

malam tiba dan udara
pintu yang segera ingin ditutup masih berbau mistis sekian derit
aku merasa terpaksa menutup telinga dan membiarkan separuh malam
menembang sesal: bagaimana aku bisa mencintaimu sekedar
dengkur dan kebohongan yang disembunyikan selimut tebal.
ya, karena besok pagi sebelum beres sarapan, deru itu
pesawat lain kembali melintas di atas rumah kami
ketika kabar utama hari ini belum sempat aku baca dan istriku
meringis menahan sakit; tubuh yang hendak dikeluarkannya
sempat berbisik enggan.

entah mengapa kain bebat itu kian tampak kusam
entah karena terlalu lama dijemur dan matahari
atau kabar-kabar yang mengkarat dari deru pesawat
tapi itulah kenyataan, besok matanya sudah harus terbuka
sekedar mengingat sejarah masa-silam saat Negeri ini baru lahir
dan telanjang, dari Ibu-ibu yang juga kesakitan
dan burung-burung yang sempat bertengger di gapura
berkicau.

Bandung, 2010


NOTABENE

demam di kepalaku menunggu disembuhkan menjelang matahari
terbenam ke sudut-sudut paling sepi di Negeri ini. entah
tiba-tiba suara berganti bisik-bisik kecil yang dengung
tak mudah dipaham sekedar penjelasan –teka-teki
menawar harga mimpi orang-orang ditimang-sabar.

perut diganjal karena lapar dan air mata mengganti hujan
ya, apalah makna subur tongkat kayu dan batu jadi tanaman
dan tanganmu atau tanganku bila saling enggan membalut
linang. di sini, angan dan lamunan serupa sakit jiwa
doa-doa tak tembus cakrawala oleh kesibukan mencipta
mendung tebal di langit-langit kepala yang penuh birahi
ambisi yang membuat malam datang lebih awal dan segera berlalu.

masihkah senyum hendak kumaknai kasih
atau cinta pada lambai dan gerak tangan ketika bicara?
hari ini mereka sedang diskusi. entah
apa yang sedang dinanti orang-orang tercenung di meja makan
atau berdiri kaku di ambang pintu menatap sebuh halaman
tiba-tiba bergolak setiap kali matahari terbenam
ke sudut-sudut paling sepi di Negeri ini dan hatinya sendiri.

dan demam di kepalaku masih menunggu disembuhkan
bila diskusi tinggallah teka-teki
bisik-bisik makin rahasia,
lapar kami tak selesai, air mata kami telah bosan
berlinang.

Bandung, 2011


Catatan :
tongkat kayu dan batu jadi tanaman, lirik lagu KOLAM SUSU dipopulerkan oleh Koes Plus



SAJAK KEDIP MATA SEBELAH

terlalu absur kumaknai gambarmu,
matamu yang sebelah itu mengedip ke arah siapa
bertandang ketegangan sekian rencana malu-malu diucap pelan
entah lalu apa yang terjadi begitu singkat –jabat-tanganmu intim
menimbul curiga di hati yang penuh tanya.

segera, anjing pelacak tua pura-pura mengendus bau sakumu
salak-menyalak dimana-mana
pada malam diambang larut kebencian yang merata
sebab mimpi tak lagi indah. dan besok pagi
bila bangun, menu sarapan adalah surat kabar sama garang
dan membingungkan.
tapi matamu tetap kedip-asik di gambar itu.

gambarmu, bila aku seorang remaja dirundung asmara
sebab kedip matamu runtuhlah hatiku. hahha…
tapi bukankah memang telah tumbang segala yang malang
Negeri yang ditimang-sayang dipaksa bangga
dengan cacat dan derita dari lincah-kedip mata sebelah.

Bandung, 2011

Rp.

sambil menggigit jari dan hatinya sendiri
anakku nangis; sekedar permen yang ia pingin
tak sanggup kubeli tawa paling sederhana
wajah riang dijajal begitu mahal di pasaran.

ia masih menangis bahkan setelah kujanji bulan dan bintang
nanti malam, bahkan setelah kurayu-gombal Ibunya
tengah pergi ke pasar.

lalu, di halaman kulirik Tuhan sedang apa?
aduh sayang mataku terhalang awan membentuk sketsa
wajah-wajah entah siapa makan begitu lahap
di atas meja sebelah tumpukan kertas dan agenda.
sekali lagi kulirik Tuhan dan tiba-tiba langit gelap
aku hanya bisa meraba nasib kian kabur.

tak bisa kubayang lagi sekedar kincir angin berputar
-asin garam?
dan sekedar permen yang diangan sepanjang hari,
tak sanggup kuredam tangis anakku dan
aku, juga tawamu setelah kenyang dan sidang.

Bandung, 2011


Sipulan K. Langka. Kelahiran Sumenep Madura. Selama 12 tahun ia tempuh pendidikannya sebagai santri di Pondok Pesantren NASA dan Al-In’am di kota kelahirannya. Alumnus Pondok Budaya Parenduan Sumenep dan saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa di Jur. Teater STSI Bandung. Pimpinan Teater Kalangka Madura. Beberapa tahun terakhir ini bergiat di sejumlah komunitas dan teater di Bandung. Selain puisi, ia juga menulis cerpen, prosa, naskah drama dan skenareo film. Taretthep adalah Antologi puisi tunggalnya yang pertama (2007).


Puisi-puisi ini telah dipublikasikan sendiri oleh si penyair dalam Akun Pribadinya di Media Sastra, 23 Februari 2011.
Powered by Blogger.