Arsip Puisi Penyair Madura (Se)-Indonesia

Full width home advertisement

PUISI INDONESIA

PUISI MADURA (SANJA')

Post Page Advertisement [Top]

Source: Good News From Indonesia


Saifa Abidillah, lahir di Sumenep, 12 Januari 1993. Buku puisi tunggalnya Pada Sayap Kuda Terbang (Cantrik Pustaka, 2017). Saat ini berproses di Komunitas Kutub Yogjakarta, dan tercatat sebagai Alumni Studi Agama-Agama, UIN Sunan Kalijaga. Sejumlah puisinya ini telah tayang di Koran “Kedaulatan Rakyat“ edisi Minggu (akhir-pekan) 31 Maret 2019.  

 

PENGUNGSI

 

Aku mengungsi dari cuaca buruk di matamu.

Aku tidak ingin tinggal di rumahku sendiri.

 

Suaramu menjadi monster dan menakuti

seluruh penduduk pulau di mataku.

 

Keningmu berkabutódan lidahmu menjelma

ombak raksasa yang menelan ratusan nyawa.

 

Aku menghindar dari erupsi mulutmu

yang bergemuruh di tengah pulau Selat Sunda.

 

Kutub, 2018

 

KRAKAL

 

Krakal, pantai centil paling nakal

yang melucuti keindahan matamu tak terduga.

 

Desau angin tenggara yang membelai telinga

adalah desau suaramu yang mesra di malam manja.

 

Kusapu seluruh keindahan, warna biru

pada kanvas laut dan batu bukit yang berundak.

 

Tak ada yang tersisa dari ketakjuban.

Kuas ombak yang memutih sepanjang pantai yang gemulai

 

Menuntun mataku pada kata yang adalah sabda,

yang tak tercatat kitab suci seluruh agama di Dunia.

 

Kutub, 2018

 

INDRAYANTI

 

Setelah menempuh jalan begitu jauh.

Aku mesti mendaki undakan di keningmu

 

Dan berharap menikmati kedipan matamu.

Dan memotret bulu alismu yang berombak.

 

Aku berdiri disela-sela rambut pohonmu

yang teduh. Aku pangkas sepi di rambutku.

 

Aku ingin terjun di matamu, hanya di matamu.

Dan berenang di laut kata dengan ceria

 

Tanpa ada kata dusta, atau rasa bersalah

yang menjelma bukit ganas.

 

Yang bakal memangkas kesetiaanku padamu.

 

Kutub, 2018

 

HUTAN PINUS

 

Ketika matamu sibuk mencemaskan tempat ibadah.

Pohon-pohon di hutan ini, sedang sibuk beribadah.

 

Ia lebih tua dan lebih sunyi dari pertanyaan-pertanyaanmu

yang berbahaya. Ia lebih kukuh dari imanmu yang rapuh.

 

Di Mangunan, keindahan adalah tapa bisu pohon-pohon

anggun yang menawan.

 

Segala kata yang bergelayut di udara

adalah sabda tanpa buku, dan kitab suci.

 

Adalah rumah ibadah yang tegak dalam sunyata.

Adalahósegala jalan yang menanjak, dan meliuk indah

 

bagi kata-kata yang berayun

menyerupai doa dan misi orang-orang suci.

 

Kutub, 2018

 

PUNCAK BECICI

 

Meski matamu adalah kuburan kecil yang terpencil,

aku tetap ingin berkemah di matamu.

 

Aku mengemasi barangku dan ingin tinggal lebih lama.

Setelah membangun tenda, aku ingin menyalakan api unggun.

 

Hujan yang mencemaskan mataku, meruntuhkan

harapan-harapan dan mimpi kita yang basah oleh badai.

 

Baca juga:  Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (6)

Kita mesti mengungsi dari ketinggianómencari tempat teduh

yang jauh dari aduh atau sepuh angin kesepuluh.

 

Kutub, 2018

 

BUKIT BINTANG

 

Semoga dadamu selapang pandangan matamu

yang membelah rumah-rumah dan jalan raya.

 

Pagi yang mengantarmu pada banyak tempat,

pada akhirnya menyisihkan matamu

 

sebagai pengungsi sunyi, yang berlibur kesejumlah

keindahan alam raya:

 

”Pandanglah mataku sebagaimana kau memandang

dirimu sendiri,” katamu suatu waktu.

 

Kutub, 2018

 

Catatan Admin APPMI: Bagi para penyair yang keberatan puisi-puisinya diarsip, silahkan kirimkan permintaan untuk ditakedown, baik melalui kolom komentar, via email, atau melalui contact us. Tabik...

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Blogger Templates - Designed by Colorlib