Tuesday, 30 June 2020

PUISI ACHMAD LUBAIDILLAH (HARIAN RAKYAT SULTRA, MINGGU 28 JUNI 2020)

0
Gambar: g/grid

PERKARA DI TENGAH PAGEBLUK

PUISI #1

Hampir beberapa pekan kepala berputar sendiri. Menimang kecemasan perihal jalan raya yang mulai sengsara. Disepikan dari perangkat rencana dan tujuan. Lampu merah cuma nyala senapas. Sedikit yang saling berkejaran. Dan kematian tidak panjang dibicarakan. Kembang-kembang mayat cuma bergelantung di pintu rumah sakit. Panggilannya lebih menyayat ketimbang bunyi klakson dari belakang. Takdir dan rencana hadir tanpa pos-pos pemberhentian. Sebagaimana menolak cinta dari yang ingin. Doa-doa di lampu kanan dan di lampu kiri sama terangnya. Melebihi ucapan pengamen yang sampai sore tidak menerima segar angin. Tatapan jadi karat karena sering lupa. Kamis disangka senin. Petani menangis karena gagal panen. Undangan dibatalkan dengan pemberitahuan yang berbeda. Sekelas nasib dari tayangan papan iklan di sudut kota. Tanpa ampunan  meski tidak tersiksa.

PUISI #2

Siswa-siswi libur sekolah. Jam pelajaran dipajang di rumah masing-masing. Selamat pagi tidak diucapkan di kelas. Mungkin kali ini jadi tempat paling teduh bagi laba-laba. Bangku kelas menjadi lahan pembuangan tai tokek. Sedang yang di rumah saja asyik bermain game online. Kabar kesehatan dan rindu belajar senyap. Berjajar pada batas riang dan kehati-hatian. Tersiksa. Mungkin iya. Seragamnya terlipat harum-mewangi. Saling berbisik antara kemeja dan celana, kemeja dan rok panjang. "Kapan kita bisa melihat pagi, dan menyerap bau keringat siang?"

PUISI #3

Sepasang kekasih saling berhadapan. Ada topi di dekatnya. Masih lembab keringat. Berjajar buku catatan penjualan. Keduanya sumringah. Meski lupa jadwal kencan ataupun berpantai kiranya laba penjualan cukup mengembirakan baginya. Di malam hari berkampanye dan di siang hari menerabas jalan raya, gang dan masuk ke kampung-kampung. Kantong kresek besar digendong berisi masker. Penawaran dimulai dengan harga paling tinggi. Setinggi mimpinya untuk berangkat naik haji. Orang-orang tua, anak-anak muda dipaksa karena ingin menolak luka. Sebab kematian adalah batas akhir untuk berkarir. Sementara waktu untuk bersenda-gurau serumah belum habis tawanya. Masker-masker menyayap ke berbagai beranda. Seperti memberi penyelamat meski penjualnya selalu tidak bisa mengucap selamat.

Surabaya, 2020

Achmad Lubaidillah, kelahiran Sumenep, Madura. Alumni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Menulis puisi dan skrip pertunjukan teater. Saat ini masih aktif di Komunitas Tikar Merah Surabaya. Surel lubetkarya@gmail.com

Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment