Wednesday, 25 December 2019

SEBUAH PROLOG EDY FIRMANSYAH DALAM "FESTIVAL AKSARA MANIFESCO 2019"

0
doc/ arsippenyairmadura.com

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hari ini, di musim penghujan dan penuh becek ini, saya diminta menyampaikan sekadar kata pengantar untuk peluncuran buku antologi puisi penyair terpilih “Festival Aksara Manifesco 2019.” Dengan kata lain, saya diminta untuk berbasa-basi. Padahal basa-basi tak pernah bisa menghibur banyak orang. Basa-basi tak akan pernah bisa menghibur debt collector yang menggedor pintu rumah. Basi-basi tak bisa menghibur batu kali. Jadi, saya akan singkat saja.

Begini, saya ditunjuk menjadi kurator oleh Royyan Julian sebagai perwakilan dari panitia. Herannya, ketua panitia festival yang juga pengelola kafe Manifesco setuju dengan penunjukan itu. Saya bisa menolak Royyan dengan alasan yang dibuat-buat. Saya suka membuat alasan apapun agar tidak ditimpa nasib buruk. Bisa sakit panu, kudis, kurap, atau ketombe. Berbagai penyakit yang tentu saja jauh dari kematian. Tetapi, saya tidak bisa menolak Ketua Panitia. Pengelola kafe ini adalah sahabat saya. Kami berteman sejak SMP. Saya sering meminjam uangnya ketika sekolah. Dan dia selalu datang ke rumah untuk menagihnya ketika masuk tenggat waktu. Tanpa basa-basi. Saya takut dengannya. Saya tidak takut dengan Royyan. Hanya sungkan saja. Dia penulisyang baik hati.

Tapi saya tak mau memikul nasib buruk sendirian. Malah kalau bisa saya ingin menghindar dari semua nasib buruk. Tapi tak bisa. Karena itu ada dua orang yang saya pikirkan untuk saya libatkan memikul nasib buruk ini. Dua orang itu: Y. Thendra BP dan Malkan Junaidi. Alasannya saya kenal keduanya. Mudah bekerja sama dengan orang yang saya kenal. Saya cukup akrab dengan penyair kelahiran Bangkinang, Sumatera itu. Sedangkan Malkan Junaidi sendiri sebenarnya saya tak pernah bertemu muka dengannya. Kami sering berbincang di inbox facebook. Pada 2013 kalau tak salah ingat, dia pernah mengajak saya membuat grup fesbuk pengadilan puisi. Dan tentu saja saya menolaknya. Menjadi hakim, pengacara atau jaksa bagi puisi-puisi yang akan disidangkan di pengadilan bentukan Malkan Junaidi itu bagi saya adalah nasib buruk. Saya sendiri heran mengapa dia mengajak saya untuk terlibat dalam proyeknya itu? Penyair dari Blitar itu memang suka aneh-aneh. Tapi Saya rasa dia cukup serius memikirkan puisi. Tidak seperti saya yang menggelinding seperti sebiji kedelai yang jatuh dari nampan sayur di pasar. Belum kena injak pengunjung pasar atau dilindas troli sudah untung.

Untuk kepentingan Antologi Puisi Festival Aksara Manifesco, saya mula-mula menghubungi Malkan dan ternyata di setiap nasib buruk selalu ada nasib baik. Saya bersyukur dia mau membantu proses kurasi antologi ini.

Tugas kami, sebagaimana disampaikan panitia, bukan memilih sekian karya terbaik, melainkan sekian penulis masing-masing dengan sekian karya terbaik. Sejak pengumuman antologi festival ini disebarkan hingga penutupan, ada sekitar 100 peserta yang mengirim. Masing-masing peserta mengirimkan 10 puisi. Jadi ada sekitar 1000 puisi yang harus kami baca. Dari 100 peserta tersebut kami memilih 10 pernyair dan tiap-tiap penyair dipilih 5 puisi terbaiknya.

Sepintas tampak sederhana. Namun sesungguhnya implikasinya jauh berbeda. Untuk memilih 50 puisi terbaik kami bisa mengambil 1 hingga 10 judul setiap penyair. Yakni kuota 50 itu bisa kami penuhi dari baik 50 atau 5 peserta. Adapun untuk memilih hanya 10 penyair dengan masing-masing 5 judul, mau tak mau kami harus main hitung-hitungan. Misal dua penyair, A dan B. Dalam pembacaan kami, A menghasilkan 3 karya kuat, sedang B hanya 2 karya. Mudah memutuskan bila kekuatan kelima karya itu terhitung relatif setara. Tapi bagaimana bila 2 milik B dinilai lebih kuat dibanding 3 milik A? Memilih B berarti menyertakan 3 karya lemah, memilih A berarti menyertakan hanya 2.

Selain itu pengarang asal Madura yang tinggal di luar Madura adalah kriteria lainnya yang ditetapkan oleh panitia. Berdasarkan kriteria itu kami melakukan pemetaan berdasarkan jenis kelamin, usia, asal daerah dan profesi dengan basis data biografi peserta yang dikirimkan bersama karyanya. hasilnya adalah sebagai berikut:

Berdasarkan jenis kelamin:
-          Laki-laki                     : 7
-          Perempuan                  : 29
-          Tidakdiketahui           : 2

Berdasarkan usia:
-          10 sampai 19 tahun    : 18
-          20 sampai 29 tahun    : 21
-          30 sampai 39 tahun    : 7
-          40 tahun keatas          : 2
-          Tidak diungkapkan    : 48

Berdasarkan asal daerah:
-          Sumenep                     : 59
-          Pamekasan                  : 20
-          Sampang                     : 9
-          Bangkalan                  : 2

     Berdasarkan latar profesi/pendidikan:
-          Siswa aktif                 : 12
-          Mahasiswa aktif         : 27
-          Santri aktif                 : 14
-          Aktivis literasi            : 12
-          Guru/dosen aktif        : 14
-          Lainnya                      : 23

Saya bias saja menambahkan pemetaan yang dilakukan Malkan dengan menambahkan zodiak, shio, golongan darah atau ukuran sepatu. Tapi urung saya lakukan. Tidak terlalu penting juga. Jadi langsung saja pada kriteria. Kami menerapkan kriteria yang lazim digunakan di berbagai lomba cipta puisi. Antara lain; kebaruan gaya pengucapan, kepaduan gagasan, hingga hal-hal elementer menyangkut logika kalimat dan teknis penulisan. Namun dengan latar situasi sebagaimana telah kami jelaskan di muka, kami terpaksa menerapkannya tidak secara ketat. Pun mengingat rencana panitia menerbitkan puisi terpilih dalam format buku antologi, kami mempertimbangkan ihwal keragaman, berusaha agar penulis yang lolos satu dengan yang lain memiliki spektrum karya berbeda. Hal-hal teknis mengenai ini akan dijelaskan secara lebih rinci oleh Malkan Junaidi pada sesi terakhir acara Festival Aksara Manifesco pada 21 Desember mendatang.

Tentu saja semua kriteria itu tak akan ada gunanya kalau tidak ada peserta yang mengirim. Atau para peserta mengirim karya-karya yang buruk. Terima kasih pada semua peserta antologi puisi Festival Aksara Manifesco. Kalian semua keren. Berkat semua peserta yang terlibat, akhirnya dapat dipilih 10 penyair yang termuat dalam buku antologi puisi Festival Aksara Manifesco. Sebuah antologi puisi bersama dalam sebuah festival sastra sebesar apapun tak akan ada gunanya jika tak ada penyair yang mengirimkan karya-karya terbaiknya. Semoga kalian semua diberi kelimpahan dan energi yang tak habis-habis untuk terus menjadi bagian dan memperbaiki sastra Indonesia. Selamat pada para penyair terpilih.

Saya akhiri basa basi saya. Seperti kebodohan, nasib buruk itu juga menular. Saya tidak ingin menulari banyak orang dengan terus mengatakan hal-hal tak penting. Tapi sebelum saya akhiri saya akan kutip denganserampanganpernyataan salah satu penyair Amerika Serikat, Charles Bukowki. “Hidup kita boleh kacau, dikejar utang, diburu pembunuh bayaran, terancam bercerai atau terjangkit HIV, Diabetes, stroke atau kutu air. Tapi selama masih punya nyawa, kita masih punya kesempatan mencipta karyaseni lebih baik dari yang pernah ada.”

Sekali lagi terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment