Header Ads

Puisi-Puisi Isbatul Haq di Antologi Serumpun Kenangan, Februari 2019

Sumber Foto: Penerbit Halaman Indonesia



Dzikir

Menyebut asmaMu
Tasbih tiada ujung
Setiap alunan napas
Membasuh nafsu hingga bersih putih

Larut dalam keheningan
Mengadu dosa bahasa air mata
Di atas sajadahmu
Kutuntaskan tangis

Pamekasan, 13 Desember 2017


Sepasang Kekasih
            -kepada Abi dan ummi di kampung

Wahai
Sepasang kekasih
Masih aku menatapnya
Keriput ladang yang bergelombang di wajah kalian
Memaknainya bersama waktu yang tak hentinya
Memasang deru napas setiap langkah anakmu
Langkah untuk mencari jati diri
Mengharap ridho Sang Ilahi Rabbi

Wahai
Sepasang kekasih
Yang berlaqob Abi dan Ummi
Kasih sayang yang kau pinang bersama
Untuk mengikat tali kebahagiaan keluarga

Wahai
Sepasang kekasih
Tak mampu membayar gundukan hutangku
Sepanjang waktu
Terhadap jasa-jasa kalian
Yang merawat, menumbuhkan
Membuahkan aku ilmu ranum dan manis rasanya

Pamekasan, 16  Desember 2017


Teratai

Di atas air
Mengapung, kembang bermekaran
Suara gemericik hujan menetas dalam sunyi
Satu, dua, dan banyak tetesnya
Tak dapat hinggap pada gaunnya
Ngelimis

Janji mengakar tanpa tanah
Ikan-ikan bergumul di bawahnya
Oh, sungguh
Tak bisa nalar di lembah akal

Pamekasan, 2 Januari  2018


Hidangan  Waktu
           
Sudah ibu sajikan sepiring senja
Ketika sore yang masih muda usianya.
Kali ini aku harus siap-siap
Menyulam bahagia pada wajah ibu

Di meja makan
Kami hanya berdua
Ibu menyuapi penuh kasih sayang
Setelah ayah pergi bersama cangkul doa-doa
Untuk menanam barzah pada sehektar sawah
Yang menjadi parfumnya saat ini

Barangkali kepulangan ayah mewariskan
Separuh bulan di dadanya
Hingga jika waktu nanti malam hadir
Walau tak pernah diundang
Warisan bulan tumbuh jadi purnama

Pamekasan, 10  Februari 2018


Sebuah Tragedi

Tragedi I

            Sewaktu saya membelah dada malam yang menua, sabit tercipta dari riuh doa-doa, secepatnya saya mengamini bintang-gemintang, sementara di ujung sana seorang membuka jendela rumahnya lalu menangis bertalu-talu, sepertinya ia tidak suka pada drama yang saya pentaskan bersama malaikat Rokib
            Tiba-tiba malam tergesa-gesa menjemput pagi melahirkan matahari yang saya cinta, semoga dia dan mendung yang tumbuh dari ubun-ubun laki-laki itu tidak dapat restu Tuhan untuk menuruni hujan
             Maka bahagialah saya sepanjang hari

Tragedi II

            Sewaktu saya berimajinasi di padang ingatan, menanam kata dalam lembaran tanah yang gersang, semakin hari bertambah, bibitnya menyembul rekah, dan saya masih sabar menunggu ia berubah lalu berbuah
            Rindu telah terlunasi, semua indah pada waktunya, saya petik buahnya, saya rasakan bermacam-macam rasa terkadang air mata mengembun saking nikmatnya.

Tragedi III

            Sewaktu siang memeras keringat saya, hingga tubuh berlumut kerontang dan berkarat, waktu itu saya menunggu sambil bekerja sebagai kuli kata, menumpuk sekian banyaknya saat menarik senja, semangat semakin berkobar untuk bekerja, tapi terkutuk saya menjadi air yang beku, membatu
            Waktu benar-benar menua dan menyesakkan dada, saya terperangah setelah nampak semua tiada.

Pamekasan, 10  Maret 2018


Isbatul Haq biasa di panggil Isbat atau bisa juga dengan nama laqobnya Difasya El Khan. Lahir di kampung Pakotan, Pasong-songan, Sumenep pada Sabtu pahing 21 Oktober 2000. Ia menulis puisi saat menginjak kelas 3 Madrasah Tsanawiyah dan men-cintai dunia puisi sejak bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Banyuanyar.
            Ia juga menggeluti program lesehan Gubuk Istana Kata di mana setiap penghuninya wajib menulis puisi sekaligus membacakannya setiap pertengahan malam. Selain itu ia juga pernah aktif menyelami berbagai organisasi di antara-nya (OSIS) MTs Istikmalunnajah, (REC) Radiant English Course, (BFEC) Branc of Fan of English Corse, (MJQ) Markas Jamiatul Qurro’, (K-One) Famili Santri pasongsongan (PERSADA) Persatuan Santri Darul Ulum Banyuanyar Wil. Kab. Sumenep. Saat ini ia mengabdi sebagai pustaka-wan di Perpustakaan Pusat Pesantren dan juga sebagai editor Orion, di situlah penulis bisa menjamah dunia dan tumbuh beriringan dengan perkembangan zaman.
            Penulis pernah meniti pendidikanya di MI Annajah, MTs Istikmalunnajah Pasongsongan. Pada tahun 2016 ia hijrah ke PP. Darul Ulum Banyuanyar. Sebelumnya ia pernah nyantri di PP. Al- Istikmal Pakotan Pasongsongan. Sekarang ia duduk di bangku Jurusan Bahasa kelas akhir XII, MA Darul Ulum Banyuanyar.
            Penulis juga pernah meraih prestasi di berbagai macam lomba kepenulisan, di antaranya Juara II lomba menulis cerpen (Madu Award), Juara III lomba menulis cerpen (GIA) Gebyar Idul Adha, Juara  I lomba menulis Puisi (DKTC ), dan beberapa karyanya telah di publikasikan di berbagai media online maupun media cetak, di antaranya majalah Al-ikhwan, On The Wall,  Adikarya, Shodaqo, Orion, dan media lainya. Penulis bisa di hubungi melalui:
Facebook         : Difasya El Khan
Whatsapp        : 085330250493

No comments

Powered by Blogger.