Header Ads

Puisi-Puisi Norrahman Alif, di Suara Merdeka 05 Agustus 2018

Sumber gambar: http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2017/09/home-daftar-isi-daftar-arsip-contact.html

MENONTON LUDRUK

Tampaknya orang-orang kampung butuh tertawa
sekedar menggulung tikar merah air mata
atas kesedihan padi-padi berbuah petaka
atau atas rasa asin hidup luntang-lantung
mencari nafkah dari sebongkah tanah.

Namun, mereka butuh kebahagian yang sederhana
dari sebuah hiburan yang mengocok perut anak muda
sampai tua bangka. Mereka pun korbankan rasa kantuk
pada gigitan angin malam, demi sepucuk bahagia
yang tak bisa dibeli dengan uang.

Seperti menonton Ludruk malam ini, kata orang-orang
kampung Nyabakan. Semua orang miskin dan kaya berbaur
dihadapan panggung, menyaksikan manusia melawak
mementaskan kekonyolan hidup yang pura-pura
yang ditertawakan orang-orang kampung: haus kebahagiaan.

Dan mereka tak pernah resah dan rugi, walau duduk dan berdiri
berjam-jam menonton. Sebab, semua di sana membagi keuntungan:
dari yang menjual kacang sampai dari mereka yang membeli kacang.

Sedang, para pelawak terkekeh dibelakang layar, karena
hatinya telah mendapat upah kebahagiaan, melihat
orang-orang terhibur, seakan menertawakan duka lara
yang bertahun-tahun berbunga di taman hati mereka.

Jurang Ara,2018

Ketidakwarasan Masa Kecil

Dari gema mulut ke mulut lainnya
kenagan menjadi piala bergilir
dalam gelanggang cerita malam ini.
malam ini, di  kursi-kursi waktu
segelas cerita purba kita seruput
sambil menghisap sepuntung kenangan
masa kecil yang tak sempat tercatat
ibu sejarah.

Sesekali kita menjadi orang gila baru
malam ini: tertawa sendiri dan malu sendiri.
Ketika sepasang mata ingatan
menyaksikan sandiwara ketidakwarasan
masa kecil kita dalam televisi masa silam.

Seperti yang selalu kuingat sampai kini
adalah kenangan tentang pertikaian kita
yang tak masuk akal. Paginya bertengkar
bagai kucing dan tikus dan malamnya kita
saling berjabat tangan berangkat ngaji
sambil menertawakan sedetik pertengkaran
yang telah dikenang waktu.

Alangkah manisnya hidup di rumah kenangan
dan alangkah muaknnya hidup dalam tempurung
masa sekarang. Barangkali kegembiraan hanya milik
masa kecil bukan milik masa kini dan masa depan.

Sebab seperti kita saksikan di luar jendela kenangan
tahun ini. Dendam dan kebencian adalah sepasang
bunga keabadian dalam hati perdaban waktu, yang
menyebarkan aroma darah permusuhan dan kematian
menganyam sejarah air mata dalam kehidupan, hanya
demi tahta, harta dan kekuasaan kekal di panggung
kehidupan.

Jurang Ara, 2018

Bersama Kata: Waktu Bercahaya,
Hidupku Kembali Jaya

Tanpa kata: hidupku rapuh kemudian patah
menjadi kayu-kayu bakar dalam
tungku ibu menanak nasik jagung.
Mungkin hanya kata yang abadi
jika di luar kata: taman kehidupan
tak berbunga dalam sejarah.

Karena bersama kata: waktu bercahaya
dan hidupku kembali jaya setelah kematian
mengibarkan bendera air mata pada kehidupan.

Barangkali manusia tak berkawan kata-kata
adalah mati setelah itu tak berarti dan dilupakan.
Sebab kata adalah kotak ajaib yang menyimpan
kerikil-kerilki atau mawar-mawar hati,
yang dibaca dan dikenang waktu dan kehidupan.

Jurang Ara,2018

Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura 01 Mei 1995. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Tempo, Banjarmasin Post dll.

Powered by Blogger.