Header Ads

Puisi-Puisi Rudi Santoso di Berita Pagi Palembang 20 Januari 2018

Lukisan ini diambil dari Yogyakarta sebuah melodia, Sebuah Kota dan Waktu yang Berlalu 2004


PEMUDA DJAMAN DAHOELOE DAN PEMUDA ZAMAN NOW

Teriakan dimana-mana
Pemuda adalah harapan bangsa
Pembawa perubahan untuk negeri tercinta
Rakyat kecil menitipkan nasib
Mengharap kabar baik dari darah birunya

Jangan lupa bahwa negeri indonesia merdeka
Tidak lepas dari jiwa seorang pemuda
Maju tak gentar sekalipun musuh memiliki senapan canggih dan bertubuh kekar

Ada seorang pemuda menangisi nasibnya di jalan
Tidak bisa melanjutkan pendidikan
Ingin menjadi terpelajar untuk negeri tercinta, Indonesia raya

Ada yang mengusik mata dan telingaku
Mereka yang terpelajar
Banyak membawa berita buruk pada negeri
Tawuran, pesta seks, pesta sabu-sabu
Para mahahasiswa sudah mulai apatis pada kodisi buruk di sekelilingnya
Kampus menjadi ajang fishion
Para lelaki di pojok-pojok kampus
Berkumpul bukan menbicarakan nasib negeri
Tapi membicarakan bokong besar para mahasiswi
Dan mahasiswi saling bercerita tentang para lelaki yang mendekatinya
Ataukah membaca, menulis, dan berkarya telah menjadi candu bagi pelajar, mahasiswa, dan pemuda.?

Pemuda djaman dahoeloe memegang bambu runcing
Sebagai senjata melawan para penjajah
Pemuda zaman now memegang gadget dengan buih status di media

Pemuda djaman dahoeloe berani mempertarukan nyawanya untuk negeri
Pemuda zaman now rela mati dengan gadis yang di cintai

Pemuda djaman dahoeloe berkumpul membuat stategi untuk mengalahkan musuhnya yang ingin merengkuh negeri
Pemuda zaman now berkumpul menikmati alunan musik di diskotik beserta minuman bir

Pemuda harapan bangsa bukanlah pemuda yang membuat rusuh dan apatis pada kondisi sosial di sekelilingnya
Pemuda harapan bangsa bukanlah yang pandai tawuran
Pumuda harapan bangsa adalah pemuda yang punya karya dan selalu berkarya
Pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang peduli pada ketidak adilan
Pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang siap berada di garda terdepan membela rakyat yang tertindas
Pemuda harapan bagsa adalah pemuda yang siap bertarung bila ada yang mengusik negeri Indonesia raya

Kaukah pemuda itu, yang kerap membawa berita buruk pada negeri.?
Ataukah engkau pemuda yang menjadi harapan bangsa sebenarnya.?

Jogja, 2017

MENGENANG LAGU POP

Sudah berjam-jam, kau berdiam
Dengan seteguk teh di tanganmu
Menatap bisu bunga-bunga di halaman rumah
Seperti orkesta menyanyikan lagu-lagu pop di acara pernikahan
Salah kaprah, menyalahai aturan
:kebingungan

Di dadaku banyak luka-luka
Yang belum dibalut dengan rupa malam
Buyarkan lamunanmu, masuklah ke dadaku
Ku memintamu untuk merawatnya
Tapi jangan kau minum air yang ada di hulu hatiku
Itu milik orkesta, obat penyeyak tidur

jika lukaku telah sembuh
Jangan beranjak pergi, kita menikmati
lagu-lagu pop terlebih dahulu
bersenangria, bergembira
agara kehidupanmu
tidak melulu tentang bayangan
yang dibiarkan begitu saja

hidup bukan tentang bayangan
Hidup untuk dijalankan dan diperjuangkan

Bunyikan seruling
Iramanya bertandang kepikiran
Yang kadang aneh

Jogja, 2017

KEPADA TUKANG BECAK

Ayunkan becakmu sampai menembus dinding harapan
Parkirlah becakmu
Jangan bergagas pulang lebih awal
Sebelum orang-orang melambaikan tangan
Hapuslah keringatmu
Karena hidup adalah perjuangan

Jogja, 2018

GOJEK

Kring
Kring
Saya pesan gojek
Bolok kiri
Pertigaan ambil kanan
Tepat di pinggir jalan
Saya berbaju merah
Celana hitam
Dengan rambut hitam yang tergurai
Si tukang gojek lalu bergegas
Dengan asa seorang anak dan istri di rumah

Di rumah
Anak dan istri menunggu kepulangannya
Dengan doa-doa yang dikirim lewat angin dan rindu

Jogja, 2018


Rudi Santoso, lahir di Sumenep Madura. Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga. Pendiri Kominitas Gerakan Gemar Membaca dan Menulis (K-G2M2) Nulul Hidayah. Berkat karya-karya puisinya terpilih sebagai mahasiswa yang mengispirasi 2016 dan 2017 FISHUM UIN SUKA. Nominasi 100 puisi terbaik tingkat asia tenggara oleh UNS 2017. Beberapa puisinya termaktub dalam,  Secangkir Kopi Untuk Masyarakat (2014), Sajak Kita (Gema Media 2015), Surat Untuk Kawanan Berdasi (2016),  Ketika Senja Mulai Redup (2016,) Moraturium Senja (2016), dan juga tersiar disurat kabar, Media Indoneisa, Kedaulatan Rakyat, Republika, Pikiran Rakyat, Haluan Padanng, Solo Pos, Minggu Pagi, Medan Bisnis, Jurnal Asia Medan, dll. Buku puisi tunggalnya “Kecamuk Kota” (Halaman Indonesia 2016)

Powered by Blogger.