Header Ads

Puisi-Puisi Meisya Zahida di antologi "Jendela Tanpa Kaca" 2018




USAI

Bunga-bunga gugur dari kelopaknya
Saat senja menutup cahaya
Ia redam ribuan aroma
Pada retak tanah dan udara
Gelap mengekalkan pekat
Tabir-tabir tak tersingkap
Seperti bibirmu mengatup rapat
,
Kau garisi senyap dengan tanda tak bertempat
Aku kehilangan warna memipih hikayat
Dengan sumbu yang mulai tersumbat
Kunang-kunang memburu waktu
Wajah kita beku
,
Hingga akhir memutus takdir
Untuk ada tak lagi mungkin
Biarkan kita mengucap dusta
Sebab jendela sudah tak berkaca
Kita, hanya lubang kecil
Belajar sembunyi dari yang ganjil

Catatan, 19 Feb '16

DI SINI

"Ini masih panen pertama" katamu
"Jangan tumpulkan ingatan"

Ada yang terkubur di dinding waktu
Semut-semut liar mengarungi semu

"Telaga itu, rumah membersihkan abu
Mengais batu setelah permata gagal diburu"

Di sini, udara gegas dihempas cakrawala
Memainkan rambut yang diratakan di kening

"Mawarmu masih merah, di palungku"

Melibas kepekatan, bagai laju kendaraan
Mengucap selamat tinggal

Di sini ada yang mengulang perjanjian
Berputar menjadi segugus bintang
Saat diam dipenjarakan kecemasan,

Ruangmu kesepian yang dirindukan.

Catatan, 28 Februari 2016

SKETSA YANG TERTINGGAL

Kubiar sunyi menyepi; menunggu pagi
Ketika ruang tidurku tak berkelambu
Dan, tembok itu mencetak satu tanggal
Sebuah reuni dari sketsa tertinggal

Resah gelisah tercekam di jam dinding
Bertik-tak dalam ketukan jarum
Mengitari ubun-ubun malam
Seolah kepulangan sudah di depan.

Yang kaurisaukan masih seluas pandang?
Sementara, tubuh sudah menua
Mengerangka dalam cabikan nyeri
Tak sudah?

Ini kisah romansa,
Kita yang melupa?

Catatan, 21 februari '16

SETELAH SENJA INI

Bukan gerai angin menggugurkan ranting
Setiba rona jingga jatuh di atas pusara
daun kamboja menatap sayu menyambangi
Dalam hempas pasrah penuh kelu

Di bangku ini, kita saling memagari diri
percakapan dari huruf-huruf yang menulisi
Hijau daun dan tulang-tulangnya berduri
Kita semikan walau akarnya akan mati

Paruh waktu, tak sempat memberi tanda
Tak pernah mengabari alamat
Kerling camar menyisipkan risau betina
Gelap tiba sempurna, membawa kepakan
Ke peraduan angan

Senja ini akan hilang dalam perih tersimpan
Waktu mengerti tak mungkin mengakhiri

Catatan, 25 Februari 16

MASA LALU

Ini kisah terdahulu,
lampiran seribu dari abjad-abjad tak baku
nama-nama tak terang tertulis dengan tinta hitam
namamu terpajang di tumpukan koran
,
Satu-dua, kita hitung angka paling belakang
nol seperti kebeliaan kita mengeja masa depan
bukankah bekal sudah di tangan?
tangismu, rengekan manja anak rantau
,
Buku kesatu wajah kita yang dungu,
lugu dalam belaian ibu
Buku kesepuluh tapak-tapak waktu
merekam jejak bisu
Buku kelima puluh kita saling cemburu
apakah kulitmu sesegar dahulu
,
Ah, kita tutup saja
sejarah sudah tak di mata
bukan waktunya saling terpesona
,
Aku tak ingin memulai
sebab tintaku tak cair lagi

Catatan, 17 februari 2016

TUHAN (1)

Tuhan,
Dalam seribu kata
Tak cukup aku meminta
Seluruhku, nikmat penuh rindu

Tuhan,
Aku tenggelam
Dalam biduk pencarian
Lelah yang penuh noktah
Aku melarung dosa

Tuhan,
Hujan ini begitu biasa
Luruh di kantung mata
Samudra piluku bertamasya
Langit tanpa udara
Bumi, rel-rel patah
Tiada ujung
Aku hilang, tiada dalam ada

Tuhan,
Bagaimana aku memulangkan jiwa
kepada cinta yang mencintai-Mu
Kepada rindu yang menunggu-Mu
Kepada diriku yang memanggil nama-Mu

Tuhan,
Dalam diriku
Adakah bening kasih-Mu?

Catatan, 29 Februari 2016

BIARKAN AKU BICARA

Enggan bicara saat malam menidurkanmu
Sudut-sudut sunyi masih menyisakan tawa

Tentang musim yang akrab dengan cerita
Di ambang senja itu kita berbagi bahagia

Aku masih terjaga di dekatmu
Menggantung bayang purnama, kelak
Dinding langit mengurai sulaman luka

Di kepergianku telah terekam jarak;
Dapat ditempuh dengan mata batinmu

Sekali lagi, aku enggan bicara padamu
Saat kata-kata tertahan di ujung lidah

Di depanmu, aku meratapi pusara
Terbentang dingin penuhi ruang dada

Biarkan aku bicara
Di pejaman matamu

Biarkan aku

Catatan, 02 Maret 2016

YANG TERKENANG

sebuah perempatan penuh liku
serta kelokannya tak bertitik temu

menyisir desir angin di perkampungan
lebat rumput tak tersentuh kemarau

meramalkan jalan pertemuan
tak pernah paham arah pulang

orang-orang bicara tentang keadaan
apa Tuhan pengambil segala kenang?

Catatan, 06 Maret 2016

MIMPI DAN ANGIN

Aku belajar menjadi angin
daun-daun diterbangkan
gegas dalam pesan terlerai

Aku belajar menjadi mimpi
hutan-hutannya aku jelajahi
manjadi hujan, merimbun

Sumenep, 07 Maret 2016

KAU TAHU

Aku menyebutmu puisi
Ratusan sajak dari ribuan sunyi

Kau tahu, senja selalu datang
Sedihku kaupulangkan ke lautan

Kau tahu, alamat sudah kupalsukan
Sebab itu cara memanggil pelangi

Sumenep, 09 Maret 2016

PUCUK DAUN

Di pucuk daun, hijau sedap di pandang
Jalinan akar merambat sampai ke dahan
Disimpan aroma putik jadi isapan kumbang
Kupu-kupu melahirkan ribuan kepompong
Memanggil hujan bercerita tentang fajar

Di pucuk daun semi selalu mengembun
Bulir-bulir kristal di gulungan halimun
Erang burung malam yang lupa terbang
Dalam ritual, tak sempat dimantrakan

Bagai ucapan selamat jalan
Bagi kekasih yang ditinggalkan
Duka gembira bertautan

Di pucuk daun, namamu
lesap menjadi batang

Catatan, 14 Maret 2016

TAK LAGI TERANG

Mengukur jarak bumi dan bulan
Tak kutemukan tetes hujan
Perapian mencipta arang
Musim yang menahun

Tanggal tak tertera
Sunyi mengganti pagi

Desir angin berhenti di pucuk pohon
Melerai resah gembala di padang-padang
Menjadi situs bagi mataku

Dalam peta
Rumus-rumus jadi ramalan
Seperti rumah tua menyimpan misteri

Segala yang tak sadar
Tidur di remang-remang

Catatan 14 Maret 2016

PUISIMU

Buih di lautan lepas
Menjelma kabut-kabut
di jantungmu
Mengakari karang
Tajam bagai pedang

Pantai dan hutan bakau
Tersapu gelombang

Kita berlarian
Mengejar yang di depan
Di belakang
Rindu tenggelam

CINTA

Jika harus kutaklukkan luka
Lepaskan gelap dari hitamnya

Tak berakhir tangis hujani mata
Nyeri bernanah
Darah pun luah harumi tanah

Ketika kuterbangun
Bahwa mimpi berbandarnya cinta
Dari sekian senyap
Yang dibawa penghuninya

Catatan kelam, 24 Maret 2016


CERMIN

Dalam pantulan bayang
menyapu segala pandang
menerjemahkan kedipan

hidup, monumen perjalanan
menghayati ribuan peran
lakon dan takdir, dituliskan

Catatan 29 maret 2016

DENGAR NYANYIANKU, DIEN

Purnama terang di kotamu,
Lilin-lilin berayun dalam getar
Aroma bunga-bunga,

Sesak di pembaringan,
Memadati mataku
akrab menafsir matamu.

Hari belum terang, Dien!
Mendung membawa hujan,
Engkau di balik jendela itu?

Bertukar sepi dengan malam
Bukuku tak lagi berisi tulisan,
Saat tak bisa eja huruf Tuhan

Aku masih diriku, Dien.
Merangkul kenangan
Tak mengenal hujan.

Sumenep, 08 Maret 2016 

SEBELUM MATAHARI

(1)

Diam-diam aku diam
Sebentar lagi fajar datang

(2)

Tuhan, aku bermimpi
Sedang mengubur nyeri.

Catatan, 03 April 2016

SAJAK KENANGAN

Aku tinggalkan senyum di sini
dibingkai kaca tersimpan di almari

Tak ada setia yang abadi
sebab hidup akan berganti

Aku tinggalkan kenanganku di sini
di atas ubin-ubin juga kemejamu

Berbicaralah pelan saja,
Karena ingatan akan mati.

Catatan, 04 April 2016

YANG LEBIH DARI KESENDIRIAN

Apa yang paling sunyi dari kesendirian?

Jiwa terbungkus kegamangan
Merambah ilusi ketiadaan
Dipenjara dalam kurun kebebasan

Seakan ada yang coba dituntaskannya
Perhelatan musim memadati kenangan
Riwayat tak selesai dituliskan
Dongeng-dongeng menjadi sulaman nasib
Dari penat juga gairah tak terlupakan

Apa yang lebih tenteram dari kesendirian?

Segala gaduh senyap dalam diam
Kekosongan mengikuti ketukan jam
Debar yang kencang melemah
Emosi redam, istirah di pucuk-pucuk pasrah

Apa yang paling kekal dari kesendirian?

Hening menjadi lintas pengembaraan
Tak bisa tiba di titik sempurna
Jiwa mengeranda dalam penghambaan
Gelap menjadi trerang tiba-tiba
Diterbangkanlah doa-doa
Seperti tiupan ruh mencari pendermanya

Apa yang lebih indah dari kesendirian?

Adalah waktumu dan aku
Dipersatukan dalam wujud cinta
Kasih ke-Mahaan-Nya

Catatan, 07 April 2016

KIDUNG SUNYI

Pada suatu peristiwa yang mungkin kau mengingatnya
Saat semi telah jauh berkelana
Hujan berlalu dari kenang
Para gadis mengikat payung di jendela
Masihkah kau duduk di beranda
Menggambar sketsa bunga, perlambang kasih tak sirna

Aku telah meninggalkanmu
Seperti kidung senja yang sembunyi di titik kelu
Akan ada pergantian waktu
Menumbuhkan rindu dalam bait-bait sajak
Menderaskan air mataku

Tak pernah kusesalkan perjumpaan
Karena perpisahan simponi hidup, berlikunya perjalanan
Di sana, dalam kepingan nuansa yang selalu merekam tawa
Kemarau telah melemparmu pada lembah sunyi

Hanya aku, kekasihku
Hunian jiwa tak pernah lupa menandai lara
Hingga pelayaran tak berbandang
Mendekap nyeri dipeluk gelombang
Menasbih namamu lewat kalam-kalam Tuhan.

Sumenep, 090416

SURATMU (1)

Aku baca suratmu, sampul biru tinta ungu
Larik-larik nada tunggu seolah suaramu, memadati pendengaranku
Gairah tidurku tertahan
Menelisik kebekuan, memecah
keresahan

Suratmu, rahasia tangis nelayan
Saat sauh-sauh terlempar di gerus gelombang
Langit terbata, mengamini doa-doa
Sedang aku, rekah fajar masih berkolaborasi dengan hujan

Surat itu, aku selipkan di dua pintu
Sebagai persinggahan dari lelahmu
Supaya esok kau temukanku
Tapi kau terburu-buru
Menutup jendela samping rumahmu
Dan, tanganku menyentuh kuncinya
Aku terkesiap, memburu sepi yang kau riuhkan dari sunyi
Lupakah kau, suratmu masih lantang gaungkan pesan
Setelah keraguan kau adukan di lembah tak berawan
Nuansa senyap, lebih perih dari kesendirian

Dan, suratmu telah lekat di jantungku.

Catatan, 24022016

SURATMU (2)

Seperti kisah nawala para musafir
Suratmu tiba dengan pesan-pesan terlampir, kubaca
Setiap kali mengulangnya, kutemukan perbedaan
Entah sampulnya tak bergambar bunga mawar
Hanya seekor elang dengan satu sayap kanan
Kutimang dengan gejolak pertanyaan

Surat itu, bertuliskan namamu dan namaku
Di garis awal
Di tengah hanya sebaris kata-kata
"Aku baik-baik saja"
Tak ada kata penutup, hanya ungkapan salam

Pikiranku berkabut, sedang senja begitu fashih
Melafadhkan kidung petang
Mengantar dzikir anak-anak surau memuja kalam Tuhan
Adakah suratku tak pernah sampai?
surat yang kurangkum dengan bilangan kata
Berlembar-lembar dalam ejaan musim tak kenal cuaca

Suratmu, siulan burung bibis
Mengabur ditelan malam

Catatan, 20042016

AKUKAH BULAN

Masihkah engkau bulan?
Setelah cahaya diredupkan
Langit sudah tak berlambang

Raib pesan-pesan yang disimpan
Bagai nelayan kehilangan umpàn
Kail  tersangkut di belahan karang

Seribu nyanyian kekosongan
Pantai sudah tak di seberang
Jalan-jalan makin bercabang

Menafikan kelam tanpa bintang
Bianglala pecah jadi bayang
Perayaan luka sepantai

Catatan, 18042016

TUBUHMU
Adalah satu bukit yang hijau
Bertaburan biru rumputan
Ilalang dan segenap desir
Semesta selalu membawaku
Pada hamparan berburu temu
Seluruh malam purnama
Berlompatan dari jendela
Mencari ruang paling rindang
Dalam pelukan.

SENYUMMU

Adalah kelopak bunga mawar
Merekahkan wewangian
Meresap ke pembuluh darah
Dunia bagai dalam genggaman
Pada sungai yang berseberangan
Seluruh aliran mencipta bening
Serupa hulu dan muara
Saling mengatupkan percikan
Dalam debar

Catatan, 25042016

PENING

Berputar seperti gasing
dalam ritme bergelombang

atas, bawah
bukan tujuan

Menyelinap di urat nadi
hitam pekat

menjadi partikel
menghentak

jiwa mengambang
di udara
tiba-tiba membumi

Berlayar tanpa perahu
dikepung buih-buih

ikan-ikan berlomba
berlarian

datang
hilang

Pintu-pintu goyang
Jendela melambai

kertas berhamburan
mendesak ke luar

melayang
lalu--gempa

Catatan, 25-04-2016


Powered by Blogger.