Header Ads

Puisi-Puisi Subaidi Pratama di Radar Surabaya Minggu, 2 November 2014





Dini Hari

Dini hari, air hujan jatuh kembali
Menggenangi sunyi dalam diri
Tubuhnya yang runcing
Menusuk-nusuk daun yang kering
Membasah di ranting pikiranku
yang kosong
Dan mataku terbangun
ketika sebuah dingin
Terdampar di halaman kontrakan
Sayap-sayap ingatan terbang
Tentang sebuah kenangan yang
pernah hilang
Di telapak tangan
Dari malam ke malam
Kurasakan senyap dan petang
Gigil pun menari-nari dalam
bayang-bayang
Serupa anak hujan yang
bergoyang dini hari
Dalam sebuah panggung mimpi


Aksi Di Hari Sumpah Pemuda

Ratusan pemuda itu melangkah
mengitari balai kota
Setelah pagi meranggas di dadanya
Matahari berpijar, mengikuti langkahlangkah
para pemuda
Kali ini hatinya membara,
nyaris terbakar
Teriakan-teriakannya menggugurkan
kelopak bunga yang mekar

Aku yang duduk di beranda,
jadi bertanya, ada apa,?
Kenapa suara itu bagai warna
darah pertama
Yang baru keluar dari rahim Hawa
Para pemuda itu pikirannya
kian terbakar
Jiwa-jiwanya membesar,
mungkin gusar
Semoga tidak kesasar; batinku kembali
ke masa lalu.

Langit kini memeram
mendung seketika
Matahari kehilangan cahaya
Dan mata api hanya tinggal warna
Suara pun kehabisan makna.

Kemudian para pemuda itu merangkak
Ingin kembali ke
dalam jiwanya sejenak
Dengan sehimpun sajak-sajak


Gerimis Pertama

Gerimis pertama jatuh di kerling mataku
Di saat langit tak lagi biru

Kali ini tak ada guntur tak ada petir
Semua hanya tinggal isak secangkir,

Ketika debu tak lagi bersahabat
dengan bumi
Semenjak ruh ditinggal hati yang sunyi

:jiwaku berselimut sedih


Pesan Sajak Setelah
Bensin Naik

Kami hanya sajak
Yang tak punyak suara
Tetapi bisa teriak

Di lorong-lorong kami sering nongkrong
Tidak kenal malam petang
atau pun siang bolong

Kami pun senang naik becak,
jalan-jalan bersama bapak
Kami tak suka mobil atau motor
yang memakai mesin
Sebab kami takut terbakar,
bila tak ada bensin yang dijuwal

Kami hanya sajak
Yang tak bisa bergaya ke mana-mana
Tetapi kami punyak daya yang mampu
menghancurkan telinga

Setiap waktu, kami berdengung selalu
Tidak dengan mesin;
melainkan dengan perasaan
Yang dilajukan pikiran
Kami hanya sajak

Jangan salahkan bila tidak berjalan
Di lorong atau di atas angin yang dingin
Namun, merangkak di semak-semak
Kembali ke jaman anak-anak

Malang, 2014


Sajak Untuk Penyair Yang Sakit
Kepada Umbu

Sajak ini terkulai lemah di atas bukit
Ketika mendengar kau sedang sakit
Kata-katanya cemas
Tak henti tidur pulas

Lalu berdoa untuk kesembuhanmu
Dengan bahasa yang bisu
Umbu, Umbu; kata sajak itu
;telanlah aku, biar kau lekas sembuh

Amin, semoga!, dalam batinku yang rindu


Sopir Angkot

Dengan lajunya yang cepat
Ia kelihatan gemar menarik angkot
Penumpangnya begitu banyak
Hingga punggung mejanya sesak

Kini jalan sudah merasa menjadi miliknya
Tikungan demi tikungan ia lalui dengan
roda nasibnya
Begitu ia ngantuk menabrak tubuh pohon
Ia sadar; betapa berat menanggung
banyak beban


Musim Wisuda

Kini aku masih mahasiswa
Besok sudah akan wisuda
Teman-temanku senyum semuanya

Sebab nasib telah terlukis dalam
doa dan airmata

Musim wisuda sudah sampai
Sedang skripsiku masih belum selesai
Akhirnya aku dipaksa menikah
Sebab orang tuaku ingin cucu
ketimbang ijazah


Lagu Air Mata Rindu
-untuk Teater Kopi

Setelah gerimis pertama
Jatuh dari langit matamu
memendar cahaya
Kau merunduk seketika
Dan aku semakin dalam menggali doa-doa

Aku ingin nyalakan lilin di matamu
Beserta lagu-lagu air mata rindu
Yang kelak akan menjelma matahari
Menjelma bintang-gemintang mendendang
dalam setiap sudut dimensi

Kuterpejam saat menghayati
Sebab rindu terputar kala bersamamu
“Selamat ulang tahun teater kopi”
Kau tak kan hilang dari kenangku

Di tengah malam yang pekat
Aku menyaksikanmu dari jarak jauh
miliaran waktu
Kau hadir di tengah kesenyapan mengantar
alamat
Aku jadi rindu pada malam-malammu
yang kian terbang serupa kupu-kupu
Mengitari ceruk perasaan bulu kudukku

Tuhan, adakah sejuk kebersamaan
yang lepas dari ingatanku
Jikalau api senyum tak mampu
padamkan kenangan masa lalu

Kulihat jejak kalender gugur seperti
detik-detik yang jatuh
Ke balik punggung gunung-gunung
yang teduh

Sebab setiap langkahmu terlempar
merenggut jerih
Menjalari tapak enggan menyerah
pada jarum letih

Kau entah seberani apa,
berdiam di gubuk sunyi dan sepi
Manakala akar-akar embun yang
menggigil mencekik segala gerakmu

Nyanyian-nyanyian kecemasan yang
sulit diobati, dikonstruksi
Diskusi-diskusi yang jadi kebiasaanmu
kini telah jauh dari ketelanjangan
buku-buku

Kutatap daun-daun bergetar, burungburung
kehilangan sangkar
Dan terbang dari ranting tahun-tahunmu,
menetas dalam rahim batu
Kau adalah rumah bagi kehilanganku

Pada suatu malam yang lain
Di tengah-tengah bisik angin
Di sudut-sudut sunyi dan kesepian
Aku kembali rindu, ingin bersamamu
sepanjang waktu

Setelah gerimis pertama
Ketika mata musim bertukar warna
dalam tubuh waktu yang purba
Kebersamaan adalah purnama yang
melukis ingatan
Kau adalah sketsa, ruang sekaligus
waktu mencari kebenaran

Kini kurasakan laju senja terlalu cepat
Laut kehilangan darat
Dan malam merangkak
Melenyapkan yang tanpak

“Selamat ulang tahun teater kopi”
Aku ingin potong kue di tubuhmu,
melalui pisau ketajaman rindu
Untuk kelahiran-kelahiran baru
Yang kelak akan tumbuh ranggas
dalam setiap ingatanku

Malang, 2014



Subaidi Pratama, lahir di Sumenep, 11 Juni 1992. Puisinya dimuat di banyak media. Dan terkumpul dalam antologi “Festival Bulan Purnama” Trowulan Mojokerto 2010, “Bersepeda KeBulan” Yayasan Haripuisi Indonesia 2014, “NUN” Yayasan Haripuisi Indonesia 2015 dan“Ketam Ladam Rumah Ingatan” Lembaga Seni & Sastra Reboeng 2016. Alumni PP. Annuqayah tahun 2010. Pendiri komunitas sastra Malam Reboan di kota Malang. Dan kini, menggerakkan Rumah Bahasa di MTs & SMA Tarbiyatus Shibyan Jadung, Dungkek, Sumenep.


 
Powered by Blogger.