Header Ads

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman di Radar Surabaya Minggu, 19 Oktober 2014




Ciumlah Bibirku

Kujalani siang dengan secangkir empedu
sampai malam tak habis diminum waktu
dengan seduh paling kecup
kutemui kamu di bawah bulan redup

Jika tiba-tiba langit memerah
memuntahkan bara batu-batu angkasa
ciumlah padam merah bibirku
sebelum cinta dan kekuasaan
membunuhmu

Atau berlindunglah ke jantung kehidupan
hulu penciptaan murni yang dikultuskan
di sana tak ada angkara dan percintaan

Hanya ketenangan paling hening
hanya kemenangan paling bening
masukilah rumah kebijaksanaan diri.


Mulut Merapi

Ia tiba di mulut merapi
ditatapnya nganga bermagma
sambil berucap pada kabut
: hadir dan raibmu isyarat mata angin

Ia gagahi si hijau julang penjaga
sumber urip tanah mataram
dan bersedia janji jadi saksi
tragedi malam berseri bunga api

Ia pun pergi ke lubuk bumi
bersama puing-puing kebun salak
demi sejagat arti di cakrawala
Purna sudah ia mengabdi
menebar missi suci para pertapa
di jantung-jantung mawar dan melati


Panggung Kefanaan

Jika samudra hitam menguap ke langit
hujan membadai dan angin mengamuk
pintu-pintu tertutup lalu jalanan buntu
pun dosa-dosa masa lalu muncul memburu

Biar lenyap kegusaran pada badan
kemungkinan musnah ke lubuk bumi
air mata berhenti sebagai takdir
:siapa berjaya di panggung kefanaan?

Malaikat maut derdiri
sifat-sifatnya menjelma api
membakar kitab-kitab pada nabi

Teriakan maha ghaib berdentum-dentum
dari lubang rahasia melineuman tahun
menerkam setiap kita dan segala ciptaan


Membaca Dunia L. Agusta

Membacanya berulang-ulang
mendengarnya berulang-ulang
bersulang cium aroma dunia
selezat terasi cinta

Mari membaca dunia
mendengarkan ayat sucinya
sambil menegak anggur surga
yang membanjiri semesta manusia

Rasakan getarnya
nikmati segarnya

Sampai di pusat gema
sampai kedamaian tercipta
bumi dan langit berjumpa
di telapak sang maha


Malam Paku Alaman

Bersandar di tiang lampu mercury
di bawah separuh bulan sepi
aku menatap langit sendiri

Pada dingin lembut
aku bicara pada maut
sambil menggerai rambut

Pada akar gantung beringin
hidupku berputar dalam ingin
kenyataan memuai di atas angin


Meminjam Pejam

Luh, gusarku lahir cerita terasing
jika ia sampai kepadamu
rebah di haribaanmu
ampunilah aku, demi kemurnian puisi

Dadaku tembus berlubang
tertusuk binal cinta
pinjamilah aku pejam tidurmu
demi sekejap istirah darah

Di awal pejam lukaku
suaramu segar menderu
sampai subuh terbit, minggu itu

Mendung merayap di langit
dadaku menunggu fajar di ufuk
terkenanglah lukaku padamu


Perayaan Kata-kata (1)

Bahkan hanya kata-kata bunga kemasan
tersisa di benak sebagai keyakinan
berjalan menuju kastil abadi
terseok di trotoar matahari

Usiamu terpahat sempurna
di gerbang pelepas ayah bunda
waktu pun berlari ke kota puisi
yang tiada sampai kau temui

Lihatlah, dunia tengah dilipat-lipat
ruang menyempit setiap malam rahasia
ke dalam otak abstrakmu yang
kerap berontak

Kini usiamu menuntut perjalanan terulang
sebab sesal dan siksa telah megkristal
dengan kerangkamu yang diam di tempat


Perayaan Kata-kata (2)

Malam lembut diam-diam
membawamu pelan-pelan
pada perihnya sajak cinta
yang merambati sekubur dusta

Nalurimu meleleh di pusara
pada keterasingan wajah kota
menyusur kasar tanah desa
jelang persta perayaan kata-kata

Daya cipta beku dalam cerita
yang meriwayatkan langkah kelana
yang jauh dari kembara sang kawindra

: maka di langitlah
bintang pikiran bercahaya
saat matamu terendam ke kolam bulan


Perayaan Kata-kata (3)

Upacara kelahiran digelar
tubuh terbakar api lilin
nafas tak cukup panjang meniup
api menjilat-jilat segala

Menelan kue tar kata-kata
pandangan hangus di mata
suara-suara pemecah doa
telah mengunci cakrawala

Wahai betapa susah
upaya menyelamatkan nasib
sampai tiada lagi pelarian

Bagi jiwa dan raga
yang saling berpaling
yang nyata-nyata ada


Selendang Sulaiman, Lahir di Sumenep, Madura 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa lokal dan nasional. Juga dalam antologi Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), dan lain-lain.
 
Powered by Blogger.