Header Ads

Puisi Mahwi Air Tawar | Puisi Esai : Umbu Landu Paranggi




Umbu Landu Paranggi

Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali.
Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri.
Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk,
dan kamulah tembang laras Suluk itu.
Kau mengira aku pergi,
padahal aku mengembara di dalam dirimu1].

Dialun kidung tembang laras
Umbu berlagu di tapal batas
Sumba, Sabana, berselempang rindu
Bunda terkasih sandaran kalbu

Di tujuh pintu sebelas kidung
Tujuh ketukan menderas petang
Tujuh kelokan cinta dan gandrung
Anak, cucu, dan pilu menggenang.

Murung hati sang Bapak meradang
Ditinggal berpacu anak tersayang
Ke laga rimba, laga usia nan rawan
Menyeberang gelombang laut selatan[2].

Suar sajak bening dan pedih
Nestapa sunyi terburai berserpih
Di tubir malam di tubir pagi
Umbu, Umbu Landu Paranggi


Senyap harap terdedah perih
Persada ditimang puisi gamang
Sabana dipeluk mesra berkobar
Umbu menderu batin terbakar:

Tebarkan cahaya di menara waktu
Tembusi untung malang nasibmu[3].

Olideli! Olideli![4]  Kudaku Janggi
Umbu Sumba Landu Paranggi
Umbu menderu Umbu berlari
Di baris hening nyanyi puisi.

Kami anak-anak rantau
Disekap nasib ketat dan parau
Impian kami seremang angkring[5]
Peluh dan sunyi berteriak nyaring.

Kami pelbagai tanaman riuh
Sepanas secangkir minuman uwuh[6]
Semak ilalang dari imogiri
Menjadi segelas wayang sang resi.

Tuhan! Alangkah tak tertahankan
Ini tetek bengek kehidupan
Andai dari bentangan misteri
Kami tak Kau beri sebaris puisi!
Maka dengan puisi kami bertahan
Jalani ganas hari laut selatan.

Beliung bahasa menggali diri
Dalam meditasi serupa paderi
Babad dan abjad sepekat abu
Di Jogja, di Jogja segala termaktub
Menjelma saudara senadi serabu
dalam pelukan Persada Studi Klub.[7]

Ragil Suwarna Pragolapati![8]
Meniti nyeri jeruji puisi
Mendekap harap Pati menanti
Tempe, bayem, nasi, dan ubi
Bersama doa hangat tersaji
Di meja makan kesunyian abadi

Olideli! Olideli! Kudaku janggi
menghela sangsai Malioboro
Canting terbakar lilin puisi
Sepanjang tugu ke Kadipiro[9].

Kami orang-orang terusir dan demam
Di sepertiga jalan, di sepertiga malam
di sepertiga goresan kalam.

Kami orang-orang terusir
Di sepertiga malam, di sepertiga takdir
Di sepertiga jalan, nasib mendesir

Dengan segala daya dan lapar
Kami buru nasib menggelepar
Gairah tersirap di gang-gang senyap
Di labirin harap kami kepakkan sayap
Terbang! Terbang! hasrat meninggi
Puisi tak pernah enggan mencari.

Linus Suryadi AG [10] di bumi Mataram
Menjahit sobekan kelambu Pariyem[11]
Menggelinjang di ranjang Pakualaman
Diremuk syahwat Sang Abdi Dalem.

Gending bertalu, gendingku rahayu
Linus menembang mainkan wayang
Karawitan sumbang Pariyem Umbu
Dicumbu puisi langit berbayang.

Duka dan rasa Iman Budi Santosa
Meluku sejarah tanah Jawa
Kuda Sumba meringkik di dada
Madahkan syair rama dan sinta.

Penyair dan pengamen tembangkan bolero[12]
Tak putus-putus mewiridkan Malioboro

Mata kami Malioboro
Hati kami Malioboro
Buku kami Malioboro
Puisi kami Malioboro[13]

Maka, susurilah tubuh kami
Singkaplah tirai dan masuki kami
Meski diri kami centang perenang
dipenuhi jejak riang para pendatang.
Di dinding-dinding kusam

Ada secarik pesan rahasia
Terus digumamkan diam-diam
Nyaring bergema di puat dada:
Bagaimana belajar menjadi batu
Yang tak lapuk diterkam waktu. [14]

Di gang belakang Pasar Kembang
Gadis-gadis mekar menanti kumbang:
Betapa, keperjakaan dan keperawanan
selusuh sehelai celana dalam
Malang dan untung saling berlawan

Prosa dan puisi terjang-menerjang
nilai-nilai bergulat di ranjang
Benar dan salah setipis kutang.

Di depan museum benteng vredeburg[15]
Emha Ainun Nadjib melawan pageblug
Gelandangan pun berdendang gayeng
Dalam suluk puisi Sang Kyai Kanjeng

Kepada engkau yang diam-diam
menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan
Kepada engkau yang menangis malam-malam
Di resahnya batin karena kerap dikalahkan
Kerap diusir dan disingkirkan,
kerap ditinggalkan dan sulit menjumpa keadilan
Aku ingin bertamu ke lubuk hatimu, saudara-saudaraku
Untuk mengajakmu istirah ke lubuk paling sunyi
Untuk sejenak mengendapkan hati dan bernyanyi.[16]

Sementara diam-diam,
dari stasiun kehidupan
Umbu berderap melintasi palang
Susuri jalur hening dan gamang
Susuri rel silsilah tanah kelahiran
Bersungkup cerobong tanah perantauan.

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu Sumba Landu Paranggi
Umbu menderu Umbu berlari
Di baris hening nyanyi puisi

Asap membubung ke angkasa Yogya
Di langit biru yang diharu-biru masalalu
Di kedai penjual nasi, puisi, dan cinta
Di atas tanah keluhan gempa dan rindu.
Pertapa muda meraba stupa
Penyair nyinyir hembuskan dupa
Guru agung, Umbu nan dewa

Duh, penyair langit kesumba.
Sampai kapan haru-biru masa lalu
Memburumu ke padang-padang kelu
Seribu kuda Sumba berderap memburu
Langit batinmu yang terdedah selalu
Kudaku janggi, kudaku janggi
Umbu Sumba Landu Paranggi.

Di rimba raya hutan bahasa
Di dalam gua-gua sunyi puisi
Pertapa muda tundukkan kepala
Menggosok lumut di dinding hati.

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu mendaki lembah Merapi
Olideli, Umbu bernyanyi
Lagukan puisi gunung berapi.

Hembuskan nafas kuda Sabana
Bagi pertapa belia sengsara
Dengus dan makna bersalin rupa
Surai berkibar Umbu kesumba.

Penyair sunyi terbakar api
Di riuh nadi jantung puisi
Didera kelu masalalu
Merayakan pedih langit biru

Taji puisi mimpi mimpi
Mimpi taji puisi puisi
Sembunyi, sembunyi dalam diri
Di sela sempalan hati baiduri.

Dalam gusar hari-hari penyair
Samar kudengar Umbu berkabar
Ke laut selatan berhembus syair
Menyelinap ke helai-helai lontar

Waktu liurkan busa cerita ngungun
Dalam puisi-puisi fana dan anggun
Tentangmu, Umbu, jejakmu, Umbu
Tahun tujuh puluh lima[17] yang kelabu.

Di kusam gang Pasar Kembang
Birahi dan puisi mencari arti
Riwayatmu gelisah menggelinjang
Gelandangan sejati mencari diri
Dalam kerja lumuran duka dan riang
Dalam sunyi dan rindu dan nyanyi
Hikmah rahasia melipur damai puisi.[18]

Duh, Penyair! Pulangku ke Yogya menjadi rerasan publik
Kantor-gaji-jabatan kucampakkan. Anak-istri kutinggalkan
Kugelandangi Yogya tanpa KTP dan uang, berpuasa 55 bulan
Dari kawan ke kawan aku jualan khayal dan dustaku memelas
Sajak-sajakku mbludak, oleh sengsara dan kehidupan bebas|19]

Di manakah Umbu Landu Paranggi?
Aku yang berjalan resah di jalur puisi
Tak bisa mengelak runcing sosokmu Olideli
Yang terus ditancapkan ke batin generasi kini
Alangkah gelap mata, alangkah buta
Di bawah benderang kau punya cahaya!

Di manakah Umbu Landu Paranggi berdiam?
Adakah dia melintas batas lautan selatan
Menembus gelora samudera pasang
Menyebrangi ganasnya alun gelombang

Lanjutkan pelayaran, menyusul teman
Si penyulam layar kapal puisi kelam?
Di sana Ragil Suwarna Pragolapati
Moksa ke dalam baris-baris puisi.

Syair penyair
Penyair syair
Enggan berlari
Enggan berbagi.

Hidup memang fana, duhai Umbu
Tapi engkau menjelma waktu
Terus bersyair terus berlagu
Sampai bila, aku tak tahu.

Tapi siapa menyimpan getir
Di lubuk rahasia kalbu penyair
Masih terdengar panggilan mair
Dari tanah tandus tempatmu lahir.

Lonceng-lonceng yang bertalu,
memanggil belainya di tengah kesunyian[20]
Asahlah pedang puisimu
Di sini, di medan pertempuran usia insan
Di titik kata penghabisan sekali
Pertapa muda sedia menanti.

2
Umbu, di titik nol dan kantor pos besar
Jejak dan surat-suratmu hangus terbakar
Puisi-puisimu tinggal rangka
Di desau angin tenggara.

Di punggung kuda Sumba
Penyair getir berpacu jiwa
Memburu bayang-bayang bahasa
Sebatas pandang sekedip mata.

Seakan waktu: hari-hari, tahun-tahun
Tak pernah bergulir, berdiam ngungun
dan penyair-penyair enggan
bertukar kabar getir rawan.
Di remang pelataran hotel Garuda[21]
Bahasamu terburai ke angkasa.

Dua sajak adik yang pertama berhasil untuk Persada:
Sajakmu untuk Sabana, sayang belum apa-apa.
Adik terlalu tergesa, kurang pengendapan,
dan minim sekali perbendaharaan kata.
Tapi, jangan putus harapan.
Satu bulan lagi asal adik terus berlatih
dengan keras pasti adik berhasil.
Sebab kemauan kamu besar, tapi masih belum tergali.
Sabana dengan Sabar menanti kehadiranmu.[22]

Tapi kini surat-surat nasihatmu tersirat
Di Minggu penantian penyair nan pucat
Di punggung Persada dan padang Sabana
Kami menanti kematian di dada.
Kuamini kepergianmu, Umbu
Tinggalkan muram tanah Mataram
Suram mata penyair tambal-sulam
Melulu berharu-biru dengan hati beku

Emha Ainun Nadjib meniti jalan sunyi,
Iman Budi Santosa menziarahi tanah Jawa,
Linus Suryadi AG, Ragil Suwarna Pragolapati
Dan WS. Rendra bermuka-muka di alam baka
Diskusikan puisi-puisi Indonesia terkini didera nestapa:
Rendra melihat ucapan dan keprihatinannya

Membentur jidat penyair-penyair salon,
Yang bersajak tentang anggur dan rembulan
Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
Dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
Termangu-mangu di kaki dewi kesenian,[23]

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu berpacu di padang seni
Desah bisik nyanyian sepi
Menyanyikan gunung lembah puisi.

Di alam baka sana,
WS. Rendra, Ragil dan Linus menerka-nerka
sebab-sebab kepergianmu dari Jogja
lantaran putus asa, tak sanggup lahirkan puisi
yang membuat berdetak denyut nadi.

Bukankah puisi-puisimu lahir tercecer,
dan tak dikehendaki di tanah lahir?

Oh, Lihatlah, di labirin Persada
Berputaran Teguh Ranusastra Asmara
Lalu Ipan Sugiyanto Sugito merana
Bernostalgia di labirin kitab Sabana.

Maka, kuamini kepergianmu, Umbu
Sebab di gelanggang, Mingguan Pelopor Yogya
Sabana, dan Persada, lama luluh terserpih jauh
Menghilang di ketiak waktu, tak tersentuh.

Maka, kuamini kepergianmu, Umbu
Jauh ke selat Bali, ke pusat bisu
Memetik kidung kebeningan embun
Menyusuri jejak aksara ngungun

Menjaga kemurnian rasa dahaga
Dan lapar gamelan sukma kelana
Jika kematian kebahagiaan kayangan
Maka sia-sia derita mengempang raga
Masih misteri sisa warna matahari[24]

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu berpacu menunggang puisi
Di padang gersang Sabana menanti
Umbu, Umbu Landu Paranggi

3
Antara ringkik kuda dan gumam puisi
Engkau timang angin harapan
Antara kerontang Sumba dan Selat Bali
Engkau timang nasib dan keberuntungan

Kemarau Sumba yang kau rindu
Nafas tandus bunda tetap menanti
Nyanyian lelaki, berkuda di tepi hari
Di tebing gersang dan risau puisi
Melapangkan gerbang bagi petualang
Yang lupa mencari jalan pulang.

Olideli! Olideli! Kudaku bertolak
Kitari anak usiran sang Bapak
Di jantung rantau sajak berdetak
Dikoyak risau hati tak mengelak.

Di kaki bukit bahasa Sabana
Di sunyi puisi kalbumu berkelana
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi,
Membawa langkah kemana saja[25]

Di padang manakah engkau berpacu
Memburu hari-hari tak pasti
Menunggang kemarau berdebu
Masihkah kau daki terjal puisi.

Katamu, hidup tak pernah aman
Kapan pun di mana, cerah pun kelam
Duka dan bahaya selalu mengancam.
Belas derita, kasih, rindu, dan cinta
Olideli Olideli, tangismu membahana
Hangat mentari padang kasih Bunda
Jinak matamu meramu kelam tahta
Leluhur dan puisi berebut mahkota.

Tunas luka derita biarlah,
Tegak lurus tanah semadi
Di urat nadi puisi merekah
Dalam racikan puisi abadi.

Anakmu sayang, mengeja cita cinta
Agar ratap tak terhambur sia-sia
Kusesap udara puisi-puisi sabana,
Di sini, di lubuk sajak pengembara
Kurangkum Umbu
dan langit dukana.
Kepulauan Gili Yang-Cimanggis-Laut Selatan, April-Juni, 2014






[1] Sumber: Centhini: Nafsu Terakhir, Elizabeth D. Inandiak, Galangpress, Yogyakarta, cetakan 1, 2006.
[2] Laut Selatan mengacu ke laut Parangtritis, yang merupakan empat titik imajiner Yogyakarta: dari gunung Merapi, Tugu, Kandang Manjangan, dan Laut Selatan.
[3] Dikutip dari sajak Solitude. Sumber: Linus Suryadi AG, Tonggak, hal 239.
[4] Umbu lahir bersamaan dengan kuda milik keluarganya yang pada saat itu juga melahirkan, kuda itu kemudian diberi nama Olideli. Lihat Korrie Layun Rampan: Majalah Sastra Horison, September, 2006.
[5] Angkringan ialah sejenis warung dengan memakai gerobak beratap terpal yang biasa dijumpai di pingggirpinggir
jalan di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Makanan yang tersedia macam-macam: nasi bungkus dengan harga sangat murah, gorengan, dan cemilan-cemilan kecil. Adapun kaitan dengan konteks puisi di atas, tahun (1966-1977), angkringan menjadi tempat paling “puitik” bagi teman-teman penyair yang tergabung dalam Persada Studi Klub. Angkringan menjadi pilihan paling diminati oleh Umbu dan kawankawan penyair, bukan karena harganya yang murah-meriah, namun angkringan juga menjadi jembatan, ruang untuk merekatkan keguyuban antara penyair tahun 1970-an.
[6] Wedang uwuh adalah jenis minuman tradisional. Di Yogyakarta, wedang uwuh biasa diproduksi di daerah Imogiri. Wedang uwuh menjadi salah satu jenis minuman yang unik, jika dilihat dari namanya. Wedang dalam bahasa Jawa artinya minuman, sementara uwuh sendiri artinya sampah. Namun jangan salah, Wedang uwuh ini bukan sembarang minuman sampah, tetapi sampah yang dimaksud di sini adalah dedaunan organik, yang tentunya mengandung banyak khasiat.
[7] Persada Studi Klub (PSK) adalah komunitas sastra nirlaba yang berdiri tahun 1970-an dan bermarkas di kantor Mingguan Pelopor Yogya. PSK dimotori oleh Umbu Landu Paranggi dkk. Pada masanya, PSK mempunyai andil besar dalam pertumbuhan sastra Indonesia baik untuk skala Yogyakarta maupun nasional. Lihat Mahwi Air Tawar dkk. (ed.). 2010. Orang-Orang Malioboro, Pusat Bahasa, Jakarta.
[8] Penyair Ragil Suwarna Pragolapati, lahir di Pati, lahir 22 Januari 1948. Sejak raib pada hari Senin 15 Oktober 1990 di Pantai Selatan Yogyakarta, dia terus hidup dalam kenangan para sahabat sesama penyair. Ia menjadi mirip sebuah legenda, melengkapi legenda PSK yang didirikan bersama Umbu Landu Paranggi pada 5 Maret 1969. Ketika Umbu meninggalkan Yogya dan bermukim di Bali, Ragil Suwarna Pragolapati tetap bersastra di Yogya. Penyair yang dikenal sebagai dokumentator sastra ini menemukan hubungan yang penting antara sastra, yoga, dan agama. Ia pun mendalami yoga. Pengalaman beryoga dan pengalaman memandang Indonesia dari perspektif yoga ia tuangkan dalam puisi-puisi dari tahun 1980 hingga 1989. Ia kemudian mendefinisikan puisi-puisinya itu sebagai puisi yogawi. Konsep puitika tentang ini, ia tulis untuk memperkukuh pilihannya.
[9] Nama sebuah daerah/ desa di Yogyakarta. Di jalan Kadipiro ini juga penyair Emha Ainun Nadjib, murid kesayangan Umbu Landu Paranggi tinggal.
[10] Linus Suryadi AG. Penyair kelahiran Yogyakarta, 3 Maret 1951. Karya-karya Linus di antaranya, Citra Kamandanu; Langit Kelabu; dan Pengakuan Pariyem. Ia bersama Umbu Landu Paranggi, Iman Budi Santosa, Ragil Suwarno Pragolapati, Ipan Sugiyono Sugito, dan Teguh Ranusastra Asmara, mendirikan komunitas sastra Persada Studi Klub.
[11] Pariyem adalah tokoh dalam puisi liris Linus Suryadi AG, Pengakuan Pariyem.
[12] Bolero adalah jenis musik berasal dari Spanyol dan Kuba. Meski namanya sama, namun relatif berbeda. Bolero di sini mengacu pada musik Kuba, musik bertempo tenang dan lazimnya berisi lantunan cinta.
[13] Malioboro, adalah nama wilayah di Yogya. Ia jadi tempat wisata baik kuliner maupun perbelajaan batik di Yogyakarta. Di Maliobro inilah pada tahun 1970-an, Umbu Landu Paranggi bersama teman-teman penyair yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub bertemu setiap malam: saling mengasah dan berdiskusi sastra. Hal ini digambarkan oleh penyair Iman Budi Santosa dengan sangat bagus: Menyusuri Malioboro, pagar tembok jadi bangku// taman dan pokok asam merangkum sunyi// lebih indah dan santun dari hening rumah sendiri. // Kadang ada debat, mengadu kutipan-kutipan dari buku tua// menguji jejak pujangga, menukar pena dengan tajamnya lidah// yang tak terukur oleh rumus matematika. Sumber: Orang-Orang Malioboro 1962, Intan Cendikia, Yogyakarta, cet 1, Maret 2013.
[14] Pasar Kembang: nama sebuah kampung, terletak di belakang Malioboro. Pasar Kembang lebih dikenal sebagai tempat prostitusi.
[15] Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah banteng yang terletak di depan Gedung Agung dan Istana Kesultanan Yogyakarta.
[16] Sumber: Emha Ainun Nadjib: Lirik Lagu, Tombo Ati.
[17] Tahun 1975, Penyair Umbu Landu Paranggi pergi dari Jogjakarta tanpa banyak yang tahu apa yang hendak dituju. Baru tahun 1980-an diketahui ternyata Umbu tinggal di Bali dan membina anak-anak muda. Sumber: wawancara dengan Iman Budi Santosa, 23 Mei 2014. jam, 22.00- 02.30.
[18] Dikutip dan dielaborasi dari bait puisi “Melodia”, karya Umbu Landu Paranggi
[19] Ragil Suwarno Pragolapati, sajak “Salam Penyair” dalam Seniman Gelandangan. Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002: 15.
[20] Dikutip dari sajak Umbu Landu Paranggi: Di Sebuah Gereja Gunung. Sumber: Korri Layun Rampan (editor), Suara Pancara Sastra, Jakarta: Yayasan Arus, 1984
[21] Hotel Garuda terletak di jalan Maliobro, konon dulu di pelataran hotel Garuda menjadi tempat anak-anak PSK berdiskusi. Sumber: wawancara dengan Iman Budi Santosa, 23 Mei 2014.
[22] Surat Umbu Landu Paranggi kepada seorang penyair yang mengirim puisi kepada Persada ketika Umbu menjadi redaktur Mingguan Pelopor Yogya.
[23] Dikutip dari sajak WS. Rendra, 2013.Sajak Sebatang Lisong” dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, Jakarta: Pustaka Jaya.
[24] Dikutip dari sajak Umbu Landu Paranggi, “Ni Reneng” dalam Sutardji Calzoum Bachri (editor). 2001. Gelak Esai & Ombak Sajak Anna 2001, Jakarta: Kompas.
[25] Dikutip dari sajak Melodia, Umbu Landu Paranggi. Andhi Asmara (editor), 1988. Antologi Penyair Yogya.
Powered by Blogger.