Header Ads

Puisi Weni Suryandari - Suara Karya, 14 Maret 2015




Cinta Seribu Musim

Ada yang lebih puitis
selain purnama semalam
Hujan yang manis,
kabarkan tentang degup api
Di dada putih,
angin berhembus tertatih-tatih
Ini cinta tanpa dimensi,
tanpa perjalanan emosimenanti kata tanpa tanda, tanpa rayuan
Mekarlah mekar mawar
di temaram kamar
Kucandu merindu-rindu hangat
kujelma bidadari
di jantung bulan kabisat,
kau nyala sendiri
Kini, dapatkah ciumku
sampai di kotamu
Sedang aku lungkrah di kaki senja saat hujan yang puitis
semanis cinta beribu musim

Maret 2014


Dada Ibu

Di wajah bumi, kulihat engkau bersolek
Dengan keriangan anak-anak
dan rengek kasmaran.
Udara mengaburkan kenangan
Saat kau cari ari ari
yang terkubur di samping rumah
masa kecilmu engkaulah yang elok
memainkan dadaku
meski kilap uban menari
di mataku dan matamu
anak-anak kehidupan.
buah musim tanpa romansa
dan kata-kata cinta
padamu kulihat tanda
perjalanan usia menanak kisah-kisah
absurd kehidupan di tubuhmu
mengalir getah sumsumku,
segala yang tak berbilang dari kesucian

ini dadaku, nak!
meski nyeri tak terperi,
aku tegak bagimu!

2014

Dendang Malam

Pada jelang malam,
saat bulan menepi
Kunangkunang mencari sepasang mata
Yang tajam melesat panah di jantungku;
percik cemburu meminta kecup
Kita sepasang merpati dimabuk rindu
Saling memburu bertabuh pilu, enggan menulis kata di malam embun,
sendu memikul jarak dan waktu
di tubuh kesucian; duka berpaling
dari takdir ke hilir
Kita bukan malaikat dengan sayap wahyu
Yang mendekat dan melebur cahaya surga
Sedang semilir angin
menyihir lewat nyanyian
Pada telinga pecinta; kita berteman getir
hingga percintaan berakhir

2015

Ilusi

Aku mendekap jalanan malam,
membunuh angan
Menerjang lampu lampu asing,
keriangan palsu di sudut ruang
Sedang kesunyian
tekun mengiringi langkahku
Seperti tahun tahun silam
penantian Kulihat kata-kata
beterbangan di udara
Musik berbunyi sayup,
hatiku kian kuncupmenanti kecup bayangmu redup
Ah! Rinduku retak di meja kafe
segelas anggur dan croissant
Kutelan pelan pelan bersamaangan
yang berjatuhandari mataku

2014

Maut

Doa menggiring bayangbayang abadi
Udara berkabung,
kabut berwarna mendung
Aku tersungkur menatap mega hablur
di mataku.
Kita senantiasa berlari dari kitab ke kitab
Sesekali bersembunyi dari kebenaran
Meski daun berderaian,
ombak berkejaran,
Gunung berletupan kita habis sia sia
Apa yang tersisa dari selaksa pedih
Selain bangkai dalam tanah

2015

Burung Gagak

Padamu mereka melihat
tanda kematian

Melayang di udara,
melintasi pepohonan

Kesunyian serentak menyergap dada

Mendebar nadi berdetak
Bunga keranda berbaur yasin
dan asin isak

Pamungkas segala kepak
dan pekikmu berkoak

Tatapan menikam ke kanan kiri
Apakah kau lihat tanda kematian

Sedang perjanjian gaib adalah

Bayang-bayang kita yang abadi

2014

Weni Suryandari: Perempuan berdarah asli Sumenep, lahir di Surabaya 4 Februari. Sehari-harinya ia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di SD Generasi Azkia, Bojongkulur, Bogor.
Menulis baginya adalah laksana mengalirkan seluruh kegelisahan yang tak bisa dibahasakan secara lisan. Dua pertiga waktu yang ada dalam satu hari dipergunakan untuk profesinya sebagai guru dengan segala aktivitas yang mewajibkannya secara profesi. Sisa waktu yang ada kemudian dipakainya untuk menulis, baik cerpen ataupun puisi. KABIN PATEH adalah sebuah buku kumpulan cerpen pertamanya yang diterbitkan oleh QAF Books, 2013. Penulis pernah memenangkan kategori terpuji dalam sebuah sayembara novelet di Tabloid Nyata tahun 2008, lewat judul “Kesetiaan Seorang Sri”. Karya cerpennya juga termuat dalam Antologi Cerpen Tinta Wanita 24 Sauh (Esensi Erlangga). Karya-karya cerpen lainnya terbit di berbagai media cetak, seperti Suara Karya, Majalah Kartini, Tabloid Masjid Nusantara, Tabloid Nova, Jurnal Nasional, dll. Selain itu penulis juga telah menerbitkan beberapa buku antologi puisi, antara lain: Merah Yang Meremah (2010), Perempuan dalam Sajak (2010), Kartini 2012 (2012), Antologi Angkatan Kosong-kosong (Dewan Kesenian Tegal, 2011), Kitab Radja dan Ratoe Alit (KKK, 2011), dan Beranda Senja (2010). Cerpen dan Puisinya juga termuat dalam Antologi 3 Tahun Komunitas Sastra Reboan (2010) dan Cinta Gugat (Antologi Puisi Sastra Reboan, 2013)[]


Powered by Blogger.