Header Ads

Puisi Ridhafi Ashah Atalka - Suara Merdeka, 29 Desember 2013



Sajak Daun

Daun itu tak pernah mengeluh tentang angin
Tentang dingin dan musim kering
Ia juga tak terlalu angkuh pada kering pada warna kuning
apa lagi pada angin bila datang membanting
ia hanya pandai membuat teduh
Memasrahkan diri pada ulat-ulat biru untuk dijadikannya
kupu-kupu


2013


Munajat Perahu

Gelombang yang datang ini Gusti tak kunjung berhenti
Ia seolah menagih janji pada laut pada pasang dan surut
Setiap hari di hulu tempat aku berlabuh ombak menghantam
tubuhku
Aku tahu seperti matahari itu tahu bahwa cepat atau lamban
akan tenggelam
Sebab aku bukan ikan yang setia pada angin dan gelombang
Aku bukan karang yang tahan pada hantaman
Tapi aku ingin merasakan bagaimana ikan itu tenang
Dan karang bagaimana ia bisa bertahan


2013

Layang-Layang

Layang-layang tak pernah takut pada angin
Dan tak pernah gentar pada sengat matahari
Engkau yang memainkannya berkata
‘’Hidup manusia seperti layang-layang’’
Menantang angin melawan cuaca dingin
Layang-layang memilih hidupnya sendiri
Kadang-kadang ia memutuskan diri dari tali
Memasrahkan tubuhnya pada pohon-pohon tinggi
Sementara Engkau begitu setia memainkannya


2013

Orang-Orang yang Tenggelam

Apakah engkau tak mendengar kabar
Tentang Kan’an yang tenggelam
Juga tentang Wajah ayahnya yang muram itu
Bagaimana dulu ia mencari perlindungan ke puncak gunung
Dan bagaimana pula doa ayahnya tertolak
Apakah engkau tak mendengar kabar tentang raja Mesir yang
angkuh
Juga tentang perahu yang di lubangi Hidir itu
Bagaimana Musa lupa untuk tak bertanya “kenapa dan kenapa”
Apakah belum sampai kepadamu suatu kabar
Tentang malam apa bila tenggelam juga tentang siang apa
bila datang
Membawa pelajaran tentang Tuhan yang diam dalam
bayang-bayang


2013

Ridhafi Ashah Atalka, lahir di Pesisir Bicabi Dungkek Sumenep Madura, 21 September 1992. Kini Tinggal di Yogyakarta, dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub (LSKY) Yogyakarta.
Powered by Blogger.