Header Ads

Puisi Ridhafi Ashah Atalka - Suara Merdeka, 10 November 2013


Awan

‘’Guruh itu bersumber dari langitku,’’ katamu
Pada suatu hari yang membosankan di bawah
Sinar matahari yang hampir padam
Dan Angin yang menyeretmu ke utara dan terus ke utara
Melahirkan cuaca yang resah
Maka mengalirlah air dari mata langit, menyentuh daun
Menyetubuhi musim gugur
Jangan ceritakan padaku tentang angur
Tentang hujan yang pupur
Dan tentang suhu panas yang teratur
Lantaran Aku tak mau guntur bangun dari tidur


2013


Sajak Kamar

Sebenarnya ia ingin berjalan keluar
Tapi takut tubuhnya akan diguyur hujan
Hingga pada akhirnya Ia duduk termangu saja dalam kamar
Sementara di luar angin bersetubuh dengan halilintar
Dengan sinar bulan
Dan ia membayangkan di halaman di antara ricik hujan
Ribuan laron berkejaran dengan cahaya
Sebelum akhirnya menanggalkan kembali kedua sayapnya
Dan ia hanya bisa membayangkan di luar hujan dan kelam
Melukis ingatan masa silam
Dan di dalam kamar silau ia oleh cahaya damar


2013

Doa

Doa yang dipanjatkan dari engkau tuan ke Tuhan
Menelusup ke dalam kamar pergi dan kembali datang
Dalam bentuk bayang-bayang
-Mengejar
 

Doa yang di lemparkan dari tangan engkau tuan ke Tuhan
Menjelma getaran-getaran mungkin serupa getaran
‘’ini milik Kita sayang tidak diperjualbelikan,’’ kata tuan dengan
datar
 

‘’Tapi benarkah doa yang di layarkan dari tuan ke Tuhan sampai pula ke Engkau?’’
Bisik cahaya pada bayang-bayang


2013

Di Lantai Kota

Di lantai kota begitu banyak peristiwa yang tak terbaca
Bayang-bayang berkejaran dengan cahaya
Dan ribuan kaki menaiki tangga-tangga
Sungguh adakah kisah bila selamanya mata buta
Dan telinga tak mampu mendengar indahnya kata-kata
Ah, di hadapan jam kota kita bertanya ‘’lantai ini begitu licin’’
Tapi tak ada yang pindah, patung itu tetap saja di sana
Bersama ruang dan waktu-Nya


2013

Daun

Rimbun Daun bambu itu pada mulanya hijau
Tapi matahari menjadikannya kuning tua
Dan kemudian angin membantingnya ke tanah


2013
Powered by Blogger.