Header Ads

Puisi Matroni Muserang - Radar Madura, 12/05/2014


Biografi Ayah

Pagi telah membuka mataku, anakku
siang perlahan berjalan di atas ubun-ubun
bersama tuak dan keringat cahaya
dari pundakmu keringat mengalir deras
embun membasahi kaki dan bulu betismu
mata kutenggelamkan di kedalaman laut wajah
dan keringatmu

Dari bening matamu
kusimpan rasa tak bertepi
lantaran jejakmu bertaburan puisi
semesta tertunduk rapi
matahari tersenyum
menyebar ruang membasuh sepi


Lalu, keringat terbang
menjelma matahari
membubung mencipratkan awan berlari
hujan pun menumbuhkan segala makhluk semesta

Ada hari-hari yang menjelma air mata
ada gelombang rasa yang harus dilampaui, anakku

Aku tahu dadamu bergelombang
dan air mata tak punya hak untuk ada

Mungkin tak ada gunanya
menutup pintu dari cahaya
siwalan yang tumbuh dari keringat
ia hendak mencari-cari kerinduan
menampung kesenangan dan kenyerihan
itulah sebabnya aku tak tahu engkau, ayah
walau aku dekat padamu
seperti hidupku

2012-2013



Cemeti

Rembulan tidur di mataku
ia bangun di tengah kegelapan
dan cahaya datang dari balik kesiur janur

Cakrawala membentang di kepala
kunaiki kuda sebagai kendaraan cahaya
dan kubawa cemeti untuk membuka dada

Tak satu pun jiwa menyala saat aku membaca
selintas suara malam bergumam
ribuan rasa jatuh ke dalam kegelapan yang mencekam
bahkan damar talpek pun dari Taman Sumekar tak menyala

Cemeti kupukulkan pada tubuh malam
malam pun pecah di mata
jalanan bertaburan rintik kegelapan

Cemeti berkata dalam bahasa yang utuh
Dempo Abang kau akan menyesal
melawan Cemetiku” kata Jokotole

Cemetiku hati
akan kupecah sampanmu, kata Jokotole suatu ketika

Manding, 27 Desember 2012-2013



Pisang Mas, Mukhlis Amrin dan Rambutan

Pisang mas
siang itu, rumahmu berbuah
suara-suara diksi merayap dan
denting sapa menggelayut manis

Kau suguhi aku dengan sayat-sayat luka
hingga dadaku bergelora
menaiki tangga yang susah dan
pisang mas penyedap kata
di antara selingan bahasa
yang mengalir ke dada

Sambutan mesra dari piring bening
menambah kecakapan semakin jauh
mengembara ke hilir hingga aku dan aku

Mukhlis Amrin
manis teh dan asap rokok siang itu
menunggu di puncak kemewaktuan
puisi tanam padi yang kaubacakan
melahirkan ribuan kata di kepalaku

Matahari yang malu-malu
di cela pintu timur rumahmu
memberikan sapa berbeda
tentang puisi dan perindu
lalu, dewa-dewa di mataku
merayumu untuk menukarkan
kata demi kata
agar tiga gelas di depan kita
penuh dengan puisi semesta dan
kita saling sapa
di ruang baca

Rambutan
rambutan yang berbuah di dada, berbuah di mata
masih hijau, tak bisa dimakan

Sementara huruf-huruf berserakan
di bubungan rumahmu dan
kita yang asyik menikmati
peperangan pisau dan batu
untuk menemukan peluh
di segala penjuru

Giwangan, 3 Januari 2013
Powered by Blogger.