Header Ads

Kliping Puisi A. Warist Rovi - Suara NTB, 4 Oktober 2014


Sumber: Google China Art




Percakapan Nelayan dan Seorang Pelancong Di Pantai Bintaro

telah kunyanyikan hari panen ikan
kecuping telingamu yang datang mendekati tubuh perahu
sebagai orang lain yang belum mengerti jala dan pancing

matamu seperti kudup azali yang enggan merekah
terpaku pada lautku seraya melepas tanya satu-satu
membuatku menjelma ikan yang diam-diam berenang ke dalam jantungmu

tanyamu yang pertama “mengapa kau memanggilku kepada laut?”
aku menjawab “sebab padanya aku selalu menyusu
meletakkan tubuhku sebagai bayi yang dimanja tiang-tiang perahu

bayi yang belajar menakar hidup pada warna biru
seraya menghadapi terjangan gelombang
dengan lingkar tasbih berputar dari paling sepinya tangan”

tanyamu yang lain “mengapa kau manggil ayah kepada perahu?”
aku menjawab lagi “dari belikat perahu, aku belajar pada kesederhanaan kayu
mengintai kedalaman dengan jantung yang satu

menerima rasa asin dengan lidah yang terbuka
lidah yang tak pernah mengunyah kata dusta
yang senantiasa meletakkan doa-doaku di atas riak segara”

menjelang sore kau pun meranjak pulang
membawa sejumlah kenangan dalam rupa seekor ikan
yang semata berdiam dalam hatimu tanpa usaha gelombang


Malam Berjubah Kafan
Alm, Obbudi

kulit malam teramat legam dan atau oleh akar bintang-bintang
kau terpejam tanpa bertanya lagi perihal bulan
dan aku terjaga dari malammu melihat anjung cahaya tertanam di langit pangabasen

rupanya waktu telah merestuimu bersekutu dengan sepi
membiarkan sanak saudara dan teman-temanmu menangis dari sudut hatinya sendiri
seraya mengenangmu dari samping ranjang dengan kernyit dahi menahan nyeri

seiring waktu kau menjadi punduh menggapai subuh
langkahmu semakin menjauh. Isak tangis tertampung dalam sauh
dalam setiap lubuk jiwa yang tak lagi riuh. Senyummu tinggal tangkai dalam camkul sepuh.

begitu kau pergi menyeberangi suhu, menjadikanku kembar dengan bau nisanmu
tunduk dan bisu, sekali kubanyangkan rumah barumu itu
berjendela biru, dijalari kembang firdaus dengan putik menetes susu.

Pangabesen, 24. 07, 14



Powered by Blogger.