Header Ads

Kliping Puisi A. Warist Rovi - Haluan, 12 September 2014


Sumber: Yula Setyowidi



Kau Puisi Di Setiap Lukaku

emma’
bila boleh aku mengenang dari 17 tahun silam
tuam berbungkus daun jarak
kau usap ke lingkar borok
antara kumengerang dan kuterima rasa sayang

di selembar tikar daun siwalan kau menciumku
dengan puisi
tanganmu kata-kata yang membentuk pogras sendiri
ke ceruk dann lekuk jasadmu

doamu adalah judul yang kuletakkan di bagian teratas
menjadi awal dari setiap yang kubaca
sampai aku paham epilog terindah pungkas
di detak jantungmu jua

dan selanjutnya ketiak borokku sembuh
kau buang kenangan tenteng nanah dan darahku
seperti tuam yang kau campakkan ke dalam tungku

maka tak ada yang kusebut puisi
di antara ribuan pena yang telah kehabisan tinta
kecuali dirimu aksara semata yang tertulis
bertarik ke dalam sukma

Bungduwak, 22, 08, 14


Lalat

aku terbang mengawini debu
memberah jarak ke jantung ruang
mencari yang kuanggap rejeki

sayap menahan debu suci
yang kau pakai bertayammum
niatku demi mendapat pengakuan baik darimu

hanya saja tuhan menunjukkan bangkai
sebagai rejeki, sepeti padimu yang menguning
kupanen ia dengan sesapan seadanya

tanpa lumbung, tanpa menyesali lambung
hanya cukup untuk menakik rasa lapar
selanjutnya kutinggal bangkai itu sebagai masa lalu

ketika susinggahi jasad rantang nasimu
kau mengausirku dengan beberapa raut lidi
seraya menyebutku dengan kata najis

akupun terbang melayang-layang
lalu berdiam di sayap pojok ruangan
sambil kuamini nasib ini dan moyang kukenang
kembali:

“ketika dahulu kala moyang mengerubungi mayat habil
tuhan mengutusnay sebagai binatang najis
bahkan samapai hari ini, saat habil telah tenggelam ke dalam puisi”

Gapura, 21 08, 14


Rumah Pacinan

kau sebut griya kuno, selalu menghadap ke catatan
menyimpan sumpah untuk tak bersitatap dengan matahari
seraya menyisik bulu-bulunya
di antara susunan genting tua dari andulang

di bagian depan beranda berbaris empat pilar
besabuk timbul bergerigi putih di garis cat kuning
seperti empat malaikat yang memberkati kehidupan

kehidupan kau simpan pada pintu bercak cokelat tua dari kayu mimba
diapit dua jendela dengan lukisan belukar bunga
tanda segala langkah yang tiba bakal menginjak lantai cinta.

Sumenep, 22, 08, 14


Sungai Toraja

rampunglah mimpi capung-capung yang mencelupkan ekornya di air jernih
seperti jarum jaib menjahit ketenangan sungai tojaran
degan ultraviolet yang dipintal dari jari matahari

dan segenap sungai menjaga ketenangannya di bawah doa dau kecubung
bunganya yang putih melukis hati para petani
yang hidup disekitar sungai berkali-kali
mengambil air untuk bersuci

airnya tak usai mengalir, menghanyutkan kutuk dan bala
agar tak menyiksa orang-orang yang menjaga namanya dengan sesaji
di atas sehampar batu abu-abu yang dilengkapi tlawah alquran dan bunga waru

sedang dalam kejerniahan air itu, ikan-ilan berkellar mengayuh sirip
mencari rahim moyangnya pada tumit batu, bukankah batu itulah
ikan tak berenang yang dulu di kutuk ratu jadi membisu?

Dik-kodik, 25, 08, 14

Powered by Blogger.