Saturday, 1 August 2020

PUISI-PUISI A. WARITS ROVI (RAKYAT SULTRA, 27 JULI 2020)

0

Sumber gambar: Detik

BULAN KORONA


aku tak boleh bertemu denganmu

kecuali dari jarak tertentu

sebagaimana matahari menatap kolam

membisiki ikan-ikan dari kejauhan

melepas kerinduan melalui bibir angin kemarau

jala kusut, joran pancing sejenak lupakan

bumi sedang menyobek ribuan kembang

untuk keramasi rambutnya yang disisir jelatang,


tubuhmu dan tubuhku

punya semesta masing-masing

setakik hening, sedaras dingin

apa yang tumbuh di tubuhku biarkan berbunga sendiri

maka apa yang tumbuh di tubuhmu akan jauh dari mati,


wajah kita masing-masing

bersembunyi di balik masker

seperti hutan melindungi satwa

agar kehidupan berlangsung lama

dan matahari lain segera terbit membawa

seperca kain sutra dari jendela surga.


Gapura, 2020

 

METAMORFOSIS KORONA

 

sebelum korona

kita adalah ulat yang serakah

menyantap daun-daun

dengan liuk yang menjijikkan,

 

sekarang

kita adalah kepompong

yang terikat diam

tak boleh keluar rumah,

 

besok

semoga menetas jadi kupu-kupu

bersayap indah

terbang ke langit

memuja Tuhan.

 

Gapura, 2020

 

TIRAKAT BERSAMA

 

Maret dan April 2020

mengembalikan kita pada kesunyian rumah yang membatu

seperti pulang ke rahim ibu, menengok ruang tanpa debu

dan malaikat rahmah ada di situ, berteman jam biru

yang jarumnya patah tinggal satu,

 

sedang di luar, wabah menunggung angin

menempuh segala jarak yang dibalut dingin

daun-daun pintu pagar tertutup dan gemetar

kepongahan dirajam kabar kematian

hati berlutut pada keadaan

bersama doa-doa yang melayang dari dada gersang,

 

ketakutan dan kecemasan

memenuhi jantung bayang-bayang

kekhawatiran sejalur dengan liuk jalan

wabah seperti garis tak berujung

digores Azrail siang dan malam

di balok kayu dan arang, di senyap lengan kanan

di balik arus sungai, di tulang setiap orang,

 

Maret dan April 2020

kita hanyalah batu, kita hanyalah debu

dan akan baik jika membisu.

 

Rumah IbelFilza, Maret 2020

 

 

ILUSTRASI KORONA

 

nyawa adalah daun-daun gugur

yang melengkapi kemurungan tanah,

 

barisan cacing meliuk di bawah kaki yang berjalan

menunggu jasad yang tumbang,

 

sedang pada pemandangan  yang lain

 

di balik jendela, celah bilah bambu

dengan gorden tersingkap serat beludru

orang-orang baru mengingat Tuhannya

setelah menyadari dirinya

yang kecil, kerdil dan dekil

lebih kecil dari sebutir pasir.

 

Rumah Ibel, 2020

 

JARAK KITA, NYAWA KITA

 

jarak kita, nyawa kita

sentuh tenun jarimu

kurindu di ambang pintu

tapi untuk sementara

jarak kita, nyawa kita

bila kita bersentuhan

barangkali liang kubur bakal menganga,

 

jarak kita, nyawa kita

dari jauh kita tersenyum

dari jauh kita membuat tenun.

 

Rumah Filza, 2020


A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan naskah drama. Tulisan-tulisannya tersebar di media lokal dan nasional, antara lain di Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Majas, Republika, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Majalah Femina, Indo Pos, Solopos,Tabloid Nova, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bali Pos, Tribun Jabar, Lampung Pos, Banjarmasin Pos, Basabasi.co, Radar Surabaya, Riau Pos, Suara NTB, Haluan, Rakyat Sultra, dan lain-lain.  Bukunya yang telah terbit berupa kumcer Dukun Carok dan Tongkat Kayu (Basabasi, 2018).

Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment