Tuesday, 22 October 2019

Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar di Kedaulatan Rakyat, 03 Januari 2016

0

sumber lukisan: Ali Express



Langgam Kayam
(Seribu kunang-kunang di Manhattam)

Di pangkuan malam Manhattam
Dalang mendendang pupuh Kayam
Dalam pelukan Jane memeram
Denyut nadi irama langgam

Ada kunang-kunang seribu
Ada riap kenangan di kalbu
Apakah kekasih, Marno diburu
Aku Jane, Marno jangan bisu

Kasihku, Jane, kenakan kimono
Kerlip cintaku gadis Solo
Ke sana pikiranmu, Marno?
Kasihku, payah pikiran kuno

Ini malam dingin mendesah
Ingin kututup lembaran kisah
Ia mungkin tengah tengasah
Iringi kenangan silam basah

Tidak, Jane, ini musim menabur
Terasa benar bayang mengabur
Tidak, Marno, ini musim gugur
Terasa benar ia sedang berlibu

Marno, kasihku, jauh di Texas
Mungkin di luar hujan deras
Malam kian panjang dan nahas
Marilah, tutup pintu di teras

Jakarta, 2015


Dari Poso Ke Sarajevo
(GM: Misalnya Kita di Sarajevo)

Tuan Goenawan yang berbahagia
Kiranya saya tergesa-gesa
Mengurai benang merah Kahlo
Pada suatu siang di Sarajevo

Tapi begitulah adanya, kami anak muda
Selalu mengizinkan sulaman berenda
Dari airmata bahasa Indonesia
Menjadikan serangkai peristiwa sia-sia

Mungkin mataair-airmata kami tak cukup seksi
Dibandingkan dengan airmata-mataair Sarajevo.
Puisi kami tak cukup bertenaga membuat narasi Poso
Anak-anak pertiwi, anak-anak bahasa kami

Mungkin Munir dalam narasimu akan tampak nyinyir
Kami tak ingin memimpikannya seperti dirimu
Berharap Frida Kahlo datang dalam mimpi pilu
Narasi kami sudah penuh dengan peristiwa
di tanah air:

Peristiwa berdarah; Aceh, Sampit, Papua, dan Poso
Biarlah Frida Kahlo menari dalam puisimu
Kami, anak muda akan menjahit rasa malu
Dalam lipatan selendang berdarah Wiji Tukul Solo

Jakarta, 2015



Mahwi Air Tawar, lahir di pesisir Sumenep, Madura, 28 Oktober 1983. Sejumlah cerpen dan puisinya dipublikasikan di Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Bali Post, Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Sajak, dan lain-lain. Cerpen dan puisinya juga termuat di sejumlah antologi bersama, di antaranya 3 Penyair Timur (2006, puisi), Herbarium (2006, puisi), Medan Puisi, Sampena the 1  International Poetry (2006, puisi), IBUMI: Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi (2008, puisi), Sepasang Bekicot Muda (2006, cerpen), dan Robingah, Cintailah Aku (2007, cerpen). Salah satu cerpennya yang berjudul Pulung terpilih sebagai cerpen terbaik dalam lomba yang digelar oleh STAIN Purwokerto dan terkumpul dalam buku  Rendezvouz di Tepi Serayu (2008-2009), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II, cerpen), Ujung Laut Pulau Marwah (TSI III, cerpen), Tuah Tara No Ate (TSI III, cerpen), Perayaan Kematian (2011, cerpen). Kumpulan cerpen pertamanya, Mata Blater (2010), mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, 2011. Ia aktif mengelola komunitas sastra Poetika dan Kalèlès, Kelompok Kajian Seni Budaya Madura, di Yogyakarta. Buku cerpennya yang terbaru adalah Karapan Laut (2014), dan buku puisinya yang sudah terbit; “Taneyan”, “Lima Guru Kelana ke Lubuk Jiwa” dan “Tanah Air Puisi Air Tanah Puisi”. Sehari-hari ia bekerja sebagai editor Komodo Books.
Author Image
Aboutarsippenyairmadura.com

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a comment