Header Ads

Puisi-Puisi Norrohman Alif: Kedaulatan Rakyat 02 Desember 2018

Gambar: g/id.pinterest.com

KEPUTUSAN

/I/
Berkali-kali kubunuh diriku sendiri
setiap melawan dusta hari-hari
semata membuatku memalingkan hati
sebagai kuli puisi.

/II/
Setiap kali kubangun menara puisi
mengapa selalu runtuh dan mencair
 –menjadi; kalimat, diksi, kata, duka
dan utuh kembali sebagai aku.

Mungkin kini aku sudah putus hati
menjadi kuli bangunan puisi-puisi.
di saat makna waktu tak memberi
apa-apa pada kata, puisi dan aku.

Dan jangan panggil aku lagi, puisi
untuk masuk ke duniamu yang penuh
mayat hati dan babad darah waktu.

Ketika makna masih terbungkus dusta,
dan kata-kata tak lagi suci sebagai kata.

Cabean, 2018

LOLITA 1997*

/I/
Musim panas erat-erat memeluk jantung Ramsdale
di saat Humbert: ayah tirimu yang lembut namun
berbahaya makin cerdas melilit hatimu perlahan
dengan lidah manis seribu racun rayuan.

Sedangkan kau Lolita–adalah puncak ketololan cinta
dalam mobil purba: yang menyimpan segala lendir
berahi persabunganmu dengan seorang pejantan tua.

Di kala dalam gudang pikiranmu tak ada Dolores –
tak ada duka-cita menggantung di cekung cantik matamu
ketika ibumu lebih memilih menikahi mati daripada pedih
menanggung rasa iri pada ayah tiri yang sedang kesetanan
cinta pada anak tiri sendiri.

/II/
Mobil jauh berlari di jalan Amerika–Humbert mulai merasa
betapa cinta yang manis tinggal asin terasa di hotel tua
ketika tubuh Lolita telah kehilangan wanginya sebagai leli.
Namun rasa pahit semakin merekahkan pucuk gelisah
ketika ayahmu tak dapat lagi mencium  aroma permen
karet dalam mulutmu.

Lolita, kau sungguh adalah hati yang sering patah di rengkuhan
sihir cinta pria jantan. Di saat kau menghilang dan Humbert
tinggal memeluk kesepian meratapi sampah-sampah cinta
di sofa yang berwarna merah dosa malam  itu. Namun entah
Tuhan pencerita menjadi maha cerdas dalam film ini.

Tiba-tiba surat datang ketika tiga tahun Humbert menghabiskan
Usianya mengeloni rindu dan air mata. Surat itu adalah
panggilan dari seorang pujaan terlarang di masa silam.

(karena rute cinta memang tak terduga; kadang sering
membengkokkan jalan hati manusia)

Ternyata surat yang kau baca adalah duka yang kau terima
secara sia-sia. Surat itu adalah riwayat hati Lolita yang telah
menikah dengan meninggalkanmu secara tiba-tiba–kemudian
terluka.

/III/
Tanpa memasang topeng duka Humbert tiba di depan wajah pintu
Lolita. Sungguh kau siang ini seperti pengemis kahangatan yang
meminta-minta sesuap pelukan pada kekasihnya yang telah berada
dalam pelukan orang lain. Kemudian kau Lolita, seakan tak bisa lagi
mengotori lidahmu dalam berkata: “ aku sudah menikah, maka
ciumlah aku sebagai rindu penghabisan.” Katamu dengan suara banjir haru.

Namun, Humbert hanya diam di saat puluhan kata tajam menusuk dadanya
pelan-pelan. Lalu tibalah kau berkata ketika hujan telah redah di matamu.
“Lolita, kau tinggal gema dari seorang gadis kecil yang mempessona
dalam pelukan masa silam.”

Cabean, 2018

Lolita 1997*: judul film yang diangkat dari cerita novel berjudul Lolita
karya Vladmir Nabakov.

THE MIRACLE WORKER*

Puluhan burung mengaji surah air mata
ketika Tuhan menumbuhkanmu tanpa cahaya
sementara ibumu: menangis menyesalimu
sebagai seonggok daging sunyi yang berjalan.

Barangkali Tuhan pun tak mau disalahkan
ketika Hellen Keller menanyakan hidupnya;
mengapa lidahku melafalkan kebisuan,
mataku menjelajahi ruang kegelepan
dan batu sebesar penderitaan hati ibu
menyumbat sepasang telingaku.

“Mungkin aku dilahirkan hanya untuk melahirkan
duka keributan,” katamu dalam film kenangan.
Ketika nenek, kakek, ayah, ibu dan kakak
sering berperang kata-kata api dalam rumah
di saat sepasang tanganku yang buta menjatuhkan
benda-benda berkilau dalam rumah.  

Tapi jantung hidup tidak selamanya berdetak air mata
ketika Tuhan mengejutkanmu dengan kebaikan
maka lihat kini; rahim keajaiban telah melahirkan
Anne Sullivan sebagai malaikat bahasa yang mengajari
jari-jarimu mengerti nama-nama: manusia dan benda
–benda alam semesta.

Cabean, 2018

The Miracle Worker* judul Film yang berkisah tentang perjuangan Hellen Keller
sebagai anak disabilitas.

PADA SUATU KOPI

Pada suatu kopi yang dirahmati bibir kita  
kini kusesap kopi sekental rindu senikmat
puisi-puisi yang kubacakan kini untukmu.

Seusai puisi selesai menaruh kagum di
lipatan senyummu. Kutuang kopi pada lepek,
ternyata kulihat senyum wajahmu beriak di
genangan kopi yang tersempuh cahaya pagi.

Yogyakarta,2017-2018

Gambar: doc/arsippenyairmadura
Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura 01 Mei 1995. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar SurabayaMerapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Tempo, Banjarmasin Post dll.

Powered by Blogger.