Header Ads

Puisi-Puisi M. Tauhed Supratman: Radar Madura 8 Desember 2018


Gambar: g/ shopielawson.com

MASIHKAH GARAM TETAP ASIN 2
                         Untuk P. Menristekdikti

masihkah garam tetap asin
saat lengking suaramu
di mimbar itu
tak merasa terik panas
dan asin air laut

masihkah garam tetap asin
saat rintik hujan dan kabut hitam
mengintip teorimu
dicelah-celah makna
yang ditawarkan

Pamekasan, 11 Juni 2018

ANAK-ANAK GARAM
            (Catatan sehabis hujan Untuk: P. Menristekdikti dan P.  Rahmad)

rasa terik mentari. seperti anak-anak garam bersyair
tentang orasi garam dan riset  hujan
kemakmuran air sesekali mencibir
jangan teriak apa makna derita

selaksa sia-sia dan terima asa
paderen garam
jadi ladang jiwa
kembara sukma
terik mentari bagi
tiap anak-anak garam

ada saja yang meronta jiwa
langit kelabu
tetes gerimis
tak kuasa taklukan jenuh
pada panas, pada hangus

:hidup ber-Ibu pertanda makna
anak-anak garam
taruhkan jiwa raga,
tentang panas surya
demi bahagiakan anak cucu…..

Pamekasan, 20 Juni 2018

*) paderen: petak-petak tempat membuat garam.

NYAGHARA*
            kepada Bapakku

keluasan jiwa
kau bentangkan
meluaskan pandang
anak udik
berdisiplin diri
pada tradisi akademisi

terima kasih
kaubentangka dari ufuk
ke ufuk sadarkan
pemabuk jagat maya

kuacungkan topi
kau sambut nyaghara
kau muda penuh
dedikasi
ternyata yang kudengar
lebih indah dalam nyata
hari ini akulah saksi
nyaghara jiwa itu

Pamekasan, 17-11-2018

*) nyaghara= ungkapan Madura kepada sesorang berjiwa luas

PESAK*
          untuk: Bupati Pamekasan

dalam lemari kayu usang
lama nian kau simpan
pesak hitam, kenangan masa muda
memandang lipatan, aku ingin memakainya
menyarungkan di badan, mengikat dipinggang
terlalu longgar, terlalu besar

aku masih ingusan
kusimpan kembali di sudut yang sama
mentari menyapaku di ujung bambu, menyilaukan mata
timbul tenggalam digerai angin
kau memakainya di lipat di pinggul

kau simpan kembali di sudut yang sama
pagi ke siang, siang ke malam
berualng kali kau pakai
pesak pengikat janji
sampai di senja usia

ia belum juga tiba
kau tetap saja memakainya
di dalam labuh kaos loreng hitam putih
pagi bertukar dengan pagi
hingga  pesak menjadi usang
berharap ia benar-benar pulang
mengais garam
dan mengisap tembakau
di ujung senja
ketika aku rengkuh pelangi kesetiaan

Pamekasan, 10 Nopember 2018

Pesak: baju khas lelaki Madura

BABINE’ BLATER*

babinik blatir
tak peduli harga diri
semua diukur dengan uang
jajakan milik
di persimpangan profesi

babinik blatir
senyum itu
akal bulus
pedaya diri
tipu semua orang
tak terkecuali Tuhan

babinik blatir
sikut kiri kanan
kebanggaan-
berhadiah tepuk tangan
dari semua orang

Pamekasan, 27 Maret 2018

Catatan: babine’ blater: wanita bajingan

Gambar: doc/ arsippenyairmadura
M. Tauhed Supratman, lahir di Pamekasan, Madura, 27 November 1970. Sajaknya “Nyanyian dari Kampus” terpilih dan dibacakan di Radio Nederland Belanda dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-57. Tauhed pernah mengikuti Seminar Internasional Sastra Antar Bangsa Indonesia-Malaysia di Yogyakarta, 14-18 September 2016. Puisinya berjudul “Ijazah Sarjana Pudar Tintanya” dan “Di Pantai Losari” dibukukan dalam Antologi Puisi Penyair Indonesia-Malaysia dengan judul “Yogya dalam Nafasku” 2016. Beberapa sajaknya juga terbit di Negara Jiran Malaysia 2017. Kumpulan puisi tunggalnya “Rapsodi Mawar dan Gerimis” (2015, Yogyakarta: Ganding Pustaka) dan “Pantun Madura Puisi Abadi”( 2016, Yogyakarta: Ganding Pustaka).  Kini mengajar Sastra dan di Universitas Madura, Pamekasan.
Powered by Blogger.