Header Ads

Puisi-Puisi Faidi Rizal Alief: Radar Madura 01 Desember 2018

Gambar: g/ galeri-nasional.or.id
KARAMAH KIAI HOSAMUDDIN PANGABASÈN

Siapa yang membangunkan pepohonan
          Tiap tengah malam di sepanjang hutan
Hingga daun-daunnya pun bergetaran
          Ranting-ranting kering juga bersahutan
                     
Hutan ini begitu rimba sekali
          Yang terkelih hanyalah melati mati
Batang berduri menggeruit sampai sunyi
          Berkali-kali mengancam langkah kaki

Dan ular berbisa mengangkat kepala
          Di antara semak-semak berbahaya
Bersiap-siap menggigit apa saja
          Sampai mangsa tergeletak tak berdaya

Tak terdengar lagu-lagu burung merdu
          Selain kelewar dan burung hantu
Yang sepanjang malam mematuki rindu
          Hingga jatuh ke tanah langsung berbau

Tak ada kunang-kunang berbagi terang
          Selain sayapnya patah saat terbang
Diterpa angin masuk ke lubuk jurang
          Menjadi mayat yang hanya tinggal bayang

Mula-mula dirimu yang sering lewat
          Dengan bibir yang dibasahi selawat
Lama-lama dirimu semakin dekat
          Tanpa perlu menyusun tipu muslihat

Tak perlu berteriak Allahu Akbar
          Tapi di hati api masih berkobar
Apalah arti syahadat yang berkibar
          Tapi mulut hanya jadi sarang ular

Cukup dari daun pisang tak berarti
          Cintamu yang begitu lembut menyanyi
Batang melati yang mati hidup lagi
          Perlahan-lahan sudah tercium wangi

Bahkan buah rupanya berbuah lagi
          Dari ranting-ranting yang telah puisi
Dan kemarau hanya mampu jadi duri
          Menjaga pohon dari segala nyeri

Duh, rupanya di hutan ini dirimu
          Memang tidak perlu memecahkan batu
Merobohkan pohon-pohon sesukamu
          Hanya untuk menegakkan rumah baru

Hingga burung tak mencari hutan lain
          Atau mematukmu dari atas angin
Ular tak butuh mencari semak lain
          Sebab bersamamu jadi air dingin

Maka masih perlukah kauangkat lengan
          Jika hanya dengan gerak-gerak ringan
Yang duri tak lagi melukai hati
          Dan yang patah tak lagi merasa nyeri

Masih perlukah kau berteriak lantang
          Jika dalam sunyi doamu yang tenang
Mengubah bisa ular jadi ramuan
          Yang menguatkan tubuh dan ketabahan

Rasanya memang tak perlu apa-apa
          Sebab caramu yang tak menjual kata
Membuat bulan jadi betah di dada
          Matahari membuka jalan ke surga

Sanggar Caraka, 2018

  MENGAJI PADA NYAI RAHWIYAH

Kepadamu aku pun perlu mengaji
          Mengeja huruf-huruf di lembar sunyi
Ketika dirimu memasak di dapur
          Dan di halaman menyapu daun gugur

Kubaca api yang menyala di tungku
          Api yang tak pernah membakar hatimu
Yang setiap pagi menanak harapan
          Sebagai penguat tabah seharian

Hingga di dada kuhafal satu kata
          Yang terus menuntun jalanku ke sana
Jalan panjang menuju rumah bahagia
Ke dalam jiwamu yang penuh nga-bunga

Di sini tidak ada serakan sampah
          Kecuali put-rumput doa yang cerah
Di sepanjang tepinya bunga merekah
          Di tengah-tengah ada kolam yang indah

Aku belajar menata taman hati
          Dengan menanam kata-kata yang sunyi
Menyapunya bila daun-daun gugur
          Menyiramnya agar cinta tetap subur

Lalu di matamu yang begitu teduh
          Aku belajar menempuh jalan jauh
Bahwa peluh yang jatuh bukanlah api
          Untuk menghanguskan langkahku di sini

Tapi ia adalah butiran hujan
          Turun untuk membasahi jalan-jalan
Agar kakiku tak lagi kekeringan
          Bisa-bisa darah juga berceceran

Pada kata-katamu yang sederhana
          Aku mengaji tentang cara bicara
Bagaimana menyapa yang lebih tua
          Menjaga sopan pada yang lebih muda

Ternyata tidak gampang melakukannya
          Sebagaimana mengingat lagu cinta
Aku butuh waktu yang begitu lama
          Lebih-lebih ketika dilarung luka        

Pada dirimu yang sepenuhnya cinta
          Aku berusaha mengkhatamkan kata
Tiap pagi aku terus menghafalnya
          Tiap malam aku terus mengingatnya

Kini dengan denyut-denyut dalam dada
          Kubaca lagi huruf-huruf bernyawa
Hurufmu yang tidak tersentuh angkara
          Kubungkus dengan rindu yang sesungguhnya

Hingga kini di kuburanmu yang sepi
          Kukirim lagi untukmu dalam sunyi
Sebagai caraku mengaji kembali
          Sebab sampai kapan aku tetap santri

Langgar Caraka, 2018

Gambar: doc/ arsippenyairmadura
Faidi Rizal Alief masih belajar menulis puisi dan kebetulan pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia sebelum lahir buku puisinya Alief Bandungan Kaleles Publishing, Juni 2015 dan Pengantar Kebahagiaan Basabasi, Juni 2017. Kini aktif di PGMI STAIM Tarate Sumenep. Alamat: Jl. Gapura dsn. Sema Bandungan RT 02 RW 05 Gapura Tengah Gapura Sumenep Madura 69472. Email: faidi.rizal1987@gmail.com
 

Powered by Blogger.