Header Ads

Puisi-Puisi Diyanto di Banjarmasin Post, Minggu 08 Maret 2015

Sumber gambar: Abstract Painting, Google.
Perpisahan

Semestinya kenangan mengabadikan potret wajah kita, katamu
Kemudian kita berfoto, menebar senyum pada benda mungil itu
Di sela-sela riuh penumpang stasiun Lempuyangan
Di mana aku merasa ditinggal hilang

Oh, Wati sebelum senja menepis
Tak perlu kau mendatangkan gerimis
Pada langit wajahmu yang bengis
Serta percakapan yang tak bisa diakhiri
Mengantarkanku pada sebuah sajak yang tak pernah selesai

Dan angin membawa aroma tanah yang sangat jauh
Mengingatkanku pada jeritan pohon bamboo
Di mana kita pernah bercumbu

Mungkin sekali saja kita di sini
Ketika lengking kereta datang mengabarkan
Dan kau bergegas pulang
Meninggalkan kenangan
Untuk diceritakan kemudian

Meditasi Pagi

Setenang pagi. Aku dengar suara setipis angin
Menerka daun-daun kelam jauh
Adakah waktu secepat malam?

Barangkali hanya kesunyian mengantarku pada mimpi
Di saat pagi merekah dan kurasa waktu telah berlari
Meninggalkanku dalam kenangan sepi

Kau dan Sajakku Abadi

Kau menyuruhku membacakan sajak-sajak yang lelah
Ketika percakapan kita terhentii dan sulit untuk dilanjutkan

Tiba-tiba kau salah tingkah
Setelah aku bacakan sajak yang lelah itu—sebuah pengembaraanku
Meniti kesunyian tak berakhir
Kau tahu, dalam sajakku itu lahir huruf-huruf yang sama
Dan namamu kusebut di sana

Dalam batin sajak-ssajakku
Setiap kata-kata mengembara
Menyalakann makna sendiri
Kemudian diri hilang menjadi api

Barangkali kau dan sajakku abadi.

Diyanto, dilahirkan di Batang-Batang, Sumenep. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini aktif di sanggar NUN dan Komunitas Kutub. Puisi-puisinya terbit di beberapa media massa dan terkumpul dalam beberapa himpunan puisi.
Powered by Blogger.