Header Ads

Puisi-Puisi Sugik Muhammad Sahar di Haluan, Minggu 30 April 2017.

Lukisan diambil dari Google.
MEMBACA TANDA-TANDA
Kepada Guru: Mamat Ruhimat

Membaca tanda-tanda dirimu
Barangkali tak perlu kuselami debur ombak di lautan
Melihat usia yang meranggas dari keriput arimu
Juga sisa-sisa angka kalender
Yang jatuh di halaman rumahmu

Aku masih teringat saat membaca koran waktu itu
Tentang seorang lelaki sederhana
Yang terus menggadaikan mimpinya
Di kota-kota, di desa-desa, menunjuk ke langit, lalu ke bumi
Tanpa jaminan, pada mimpi yang ditebusnya dengan doa airmata

Barangkali kau sudah tau
Usia memang bukan patokan untuk menggadaikan kesetiaan
Seperti katamu; segala yang datang pasti akan pergi
                           dan setiap kepergian akan singgah di tempat lain lagi

Dan kini,
Ketika matahari tenggelam ke ujung paling langit
Segala riwayat dan kesaksian para malaikat
Kau senantiasa diberangkatkan oleh cahaya yang sama
Ulama, umaro' lebur dalam satu

Pamekasan 2017



NAMAMU ABADI
Kepada Guru: Mamat Ruhimat

Aku tak bisa membayangkan
Batuk, demam atau gigil lainnya ditubuhmu
Tubuh dengan segala puisi langit: langit segala puisi

Seperti katamu, "Hujan jatuh serupa maut"
Selalu ia terikat pada hasut
Jika di tanganmu kolam serupa laut
Maka samudera cintamu adalah bumi tempat aku bersujud

Di antara hamparan pembangunan
Gedung-gedung dan jalan layang kota
Kiprah namamu bagai mengikat
Karena riwayatmu terselip
Di antara kemegahan itu

Guru, namamu abadi
Menancap di antara sorai-sorai
Pembangunan negeri ini

Pamekasan 2017



API PERAWAN MADURA TAK PERNAH PADAM
Untuk sahabat: Mahwi Air Tawar

Kuciumi lekuk tubuhmu
Yang lahir dari dekapan benua hingga punggung khatulistiwa
Menyusuri lautan madu bagi hidup segala
Dari sisa-sisa payudara dan rahim-rahim cintamu

Sumenep, kabarkanlah pada angin sakal
Sebelum Wiraraja habis kekuatan
Sebab, apa arti sebuah makna
Tanḍhu’ majâng serta Olle-Ollang
Setelah pasir Legghung mulai dirambat tambak udang
Kelak, dimana upacara petik laut di laksanakan

Pamekasan, di taji lancormu kuselipkan nyanyian gerbang salam
Sedalam hisapan linting tembakau
Sebelum para petani pergi dengan dada kerontang
Sebab hanya kita yang paham
Garis tubuh dan batas cakrawala sebelum datang si tuan jalang

Sampang, ini bukan sajak penghabisan
Lantaran didih garammu adalah pamor-pamor kerinduan
Sebagaimana pertemuan lelaki nelayan dengan ibu-ibu penjual ikan
Dan Pasar Tanjhung hanyalah riwayat kenangan bagi mereka yang berpulang

Bangkalan, kutenun batik lesapmu
Hingga balut putih tulang, melarungkan sulur-sulur impian
Mari bergegas, singsingkan lengan baju
Menyambut derap sepatu pelancong dan para tetamu

Jadi, siapa hendak menjadi arang
Bagi setiap desah api perawan
Sementara kerapan-kerapan doa
Empat tugu semesta raya
Begitu mengalif ke ubun-ubun langit
                        Bung, karena laut tak pernah kering, lautkah aku?

Pamekasan 2017



TEGAK LURUS DENGAN AREK LANCOR
Untuk Ar

Maka, kubiarkan tubuh ini mengendarai malam
Seperti penjual kopi, perlahan mulai mencemaskan pelanggan
Barangkali inilah caraku meluruskan kerinduan
Di tugu arek lancor, ke arah jam sembilan

Kau di sana, aku di sini
Pohon tidak tumbuh tergesa-gesa, ucapmu
Aku tak tau mana lebih sunyi
Dering telepon atau sajak-sajakku
Sebab, di sepertiga malam kau sanggup menubuh dengan waktu

Ada yang tak biasa malam ini
Tentang jejak petualangan yang makin samar
Hingga beberapa sketsa mimpi yang belum dirampungkan
Ternyata, tak ada yang lebih tabah dari kesendirian
Hanya di dalam kalbu
Perjumpaan kau dan aku terasa menggebu

Kemudian kita tak pernah menyangka
Jarak adalah batas kepastian
Sebelum kita melancor di tugu yang sama

Ar, Pukul 02.00 dini hari
Wajahmu makin tengelam ke dasar kopi

Pamekasan 2017



SAPI-SAPI PENDOSA
Untuk Sahabat: Mahwi Air Tawar

Mulanya adalah kerapan
Lalu jelma perjudian
Langit berlobang dibuatnya
Semoga itu cuma mimpi

Ada anak kecil, tak jelas asal sekolahnya
Menari-nari di atas kaleles
Sementara kemarau dan hujan bersekutu di punggung-punggung kota
Bung, barangkali di pelupuk mata sapi-sapi itu
Kau tak temukan lagi perkawinan angin 4 penjuru
Lantaran, di balik pangonong yang mengalungkan kesetiaan musim
Perayaan gubeng dan pasar malam melautkan segala

Tanah basah, rupiah melimpah
Dan di gerbang-gerbang kota, pamflet-pamflet dengan bahasa bercangkang
Lebih sakti dari celurit moyang

Bung, kemana sahabat-sahabat kita yang lain?
Para pendekar, yang katanya mewakili suara Tuhan
Atau kita bersepakat saja
Membiarkan sapi-sapi itu mengurai nasib sendiri
Dengan harga setara darah perawan
Lalu berakhir di meja makan

Pamekasan 2017


Sugik Muhammad Sahar , lahir di Pamekasan, 30 Mei 1985 Desa Polagan Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan 69382. Alumnus Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Madura. menulis puisi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa madura beberapa cerpen, artikel kebudayaan madura. Karya-karyanya dipublikasikan di: Radar Madura, Jawa Post, Sastra Sumbar, Mimbar Pendidikan Agama Islam dan lainnya. Antologi bersama penyair lain: Kumpulan Puisi Penyair Empat Negara “Pasie Karam” Meulaboh  Aceh Barat 2016, Kumpulan Puisi “Kopi Penyair Dunia” Tekangon Aceh Tengah 2016, Anugerah Penerbit Mayor “Lusi Keluar Kota” 2010 dan  Pada tahun 2009 memenangkan Lomba Cipta Puisi Spontan Tingkat Mahasiswa se Madura yang diadakan oleh Teater Akura (Universitas Madura). Saat ini mengabdi di MA/MTs Al-Hamidy Banyuanyar Putri. Email sugikmuhammadsahar@gmail.com
Powered by Blogger.