Header Ads

Puisi-Puisi Taufiq Afiquilani di Minggu Pagi III Desember 2011



sumber lukisan: puppet

Dalam Runcing Mata Mereka

Madura,
Panas yang meruncing di tubuhmu
Mendarah di tubuhku
Laut yang sajaknya ombak
Lantunkan olle-ollang yang sulurkan rindu-rindu
Pada perahu yang menghempas karang
Membising dalam deru mesin kapal nelayan
Dan desah para blater, yang terbakar api perjuangan

Mereka tak mengeluh pada suatu pelayaran
Dalam terpaan angin yang membusung dan mengulum tubuh mereka
Mereka tak merasa sakit, acap kali tebasan merobek kulit mereka
Karena nafas mereka di jantung pulau Madura

Nelayan dan blater adalah sesungging senyum
Menjadi tugu, yang karang dalam hempasan waktu
Darahnya akan terus mengaliri sungai-sungai waktu
Yang hidup dalam deretan tahun

Meski kita hidup dalam keterasingan zaman
Dan mendaki di situs sebuah perantauan
Tapi olee-ollang akan tetap membawa kita pulang


Jangan

Jangan tukar rindu ini dengan api
Bilamana aku cemburu, maka ia akan membekarku
Jangan tukar rindu ini dengan panas
Saat rasa ini menggebu, maka ia akan melepuhkanku
Jangan tukar rindu ini dengan api
Karena kapan saja, ia bisa menghempaskanku
Bila kau tukar dengan dingin
Ia bisa membuatku beku
Tapi tukarlah dengan laut
Maka ia akan menenggelamkanku pada kedalaman rindu ini.


Rindu yang Setia
-buat mbok di rumah

Mbok, tangismu masih berjelaga
Menusuk sukmaku dalam sebuah keterasingan
Setiap kata demi kata, ketika kau mulai merapal mantra
Melahirkan makna, mencari tuan sebagai kata-kata
Aku masih ingat, ketika kau tumpahkan benda berharga
Dalam wujud air mata
Satu pesanmu telah kujaga

Mbok, tangismu yang luka
Bilamana jadi duka
Kau mengubahnya jadi doa
Menggerus sedih yang terlampau setia
Dalam goresan sebuah cerita


Taufiq Afiquilani (Taufiqurrahman), lahir Sumenep, 15 Juli 1991, Mahasiswa UIN Sunan Kali Jaga Fak. Ushuluddin Jurusan Sosiologi Agama. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari.
Powered by Blogger.