Header Ads

Puisi-Puisi Subaidi Prtama, Minggu, 16 Agusutus 2015 di Radar Surabaya


Lukisa Affandi-Para Pejuang-100X135cm1

MENJELANG HARI KEMERDEKAAN

Selamat pagi daun-daun.
Dari ratapanmu yang lunglai dan gemetar, kau
reguk gelas-gelas peristiwa di antara malam yang retakk
sambil kau maknai wajah silam bergantung di ujung tombak.

Sudah berapa lama kita melintasi tikungan demi tikungan,
menghisap aroma kelam-cekam dalam butiran embun air mata.
Bahkan kita tak pernah saling berdekapan,
memperlihatkan keterasingan warna langit yang sama.

Terasa tak mungkin menangisi rumah tua ini,
sebab kita telah lama melukis wajah sendiri.
Pada lubuk senyap dari waktu yang selalu terluka
dan kita masih belum tahu seberapa jauh jalan bahagia.

Selamat siang ranting-ranting,
ternyata aku makin mengerti
tentang hormat dan hening
pada momentum upacara yang dimulai.

Percakapan kita selalu berlayar di atas rindu yang sama,
meski aku tak pernah sampai ke telaga bahagia sebenarnya.
Mereguk bergelas-gelas anggur dengan tubuh semilir
Lalu kembali merayakan cinta yang gugur di tanah air.

2015



SEBUAH BENDERA DI SIMPANG JALAN

Memandang bendera itu,
pedih-perih terbakar dadaku.
Betapa derita masa lalu,
kini telah tegak di tiang bambu.

Tapi adakah gambar-gambar srigala,
yang terlukis dalam memori jejakmu,
dan rangkaian bunga-bunga semesta,
buat kesaksian perjalanan waktu.

Pada lambaian bendera yang berkibar,
lihatlah para Pahlawan bersayap mata anginl,
yang pernah menorehkan ribuan layar,
kini terbentang dalam samudera batin.

2015



DI DALAM SAJAK INI

Di dalam sajak ini,
kita bakal membikin
rumah janji.
“Hidup tenang dengan kata-kata
Dan tiada lagi darah mengucur dari luka”

Aku kadang berkhayal agar bisa sampai ke hakikat cahaya,
sebab aku percaya puisi adalah sinar yang dapat mencapainya,
sejauh kau pergi ke ujung malam buta, aku pun terjaga.
Melihat keindahan dari setiap lubuk kesunyian yang terbuka.

Kita simak lengking kata-kata dari dalamnya,
dari istana ke kubur tua menziarahi rumah aksara.
Dan apa yang terpantul sebagai gumam,
lafalkan untuk mengutuk langit geram.

Di dalam sajak ini,
aku membayangkan dirimu sesekali,
karena dalam setiap letupan kata-kata
rinduku lindap dari relung dada.

2015



KONTESTAN SAPE LOTRENGAN



Sepasang sapi itu berjalan pelan,
seakan mengajarkan kerukunan.
Kutatap disekeliling angkasa
langit terlukis pintu gapura.

Hingga terpukau segala binatang,
memandang sapi yang berkalung bintang.
Ia lain dari yang lain wajahnya cantik bermata dingin,
tak heran kalau banyak orang yang memeram ingin.

“Semalam ada telur panah jatuh ke seberang”
Kata paman sambil memandang keluasan ladang,
lalu seketika terhidang bunyi seronen dan gendang.
Tak menyangka membuat matanya kian cemerlang.
Dan paman membikin perjanjian tujuh turunan,
kalau sapinya mati dilarang disembelih atau dimakan.

2015



DI AKIK MATAMU
Kepada Alm. Sahabat Al Matin Elmet

Di akik matamu,
aku berbenah melepas kisah batu,
di antara gerak kenangan,
yang mengucap selamat jalan.

Di dalam kamar jelaga keningmu mengganggu tidurku.
Bersama gelap merayap hingga mimpi lepas padamu,
malam tambah merasuk jadi rimba bermata tajam,
lalu pelan-pelan bulan di hatimu juga terbenam.

Jadung, 2015



JUNJUNG DERAJAT

Cincin ini junjung derajat,
diberi ayah sebelum wafat.
Ayah disangkoli kakek waktu sakit,
dan kakek dihadiahi ketika semedi di rahim bukit.

Sekarang cincin ini tak boleh dijuwal meski mahal,
wasiat ayah dan kakek setelah meninggal,
sebab lewat junjung deradat ini
kami dapat saling menjumpai.

2014



Subaidi Pratama, lahir di Sumenep Madura, Jawa Timur 1992. Antologi puisinya ‘Pelayaran Seorang Pecinta’ (2009), ‘Kado Rindu Untuk Rei’ (2011), ‘Festival Bulan Purnama’ (Trowulan Mojokerto 2010). Merintis komunitas (Penyisir Sastra Iksabad (Persi). Mahasiswa Jurusan Komunikasi Unitri, Malang.










Powered by Blogger.