Header Ads

Puisi-puisi Ahmad Subki di Horison Online, 07, Desember, 2016



Judul Lukisan: Abstract Energy. Sumber: Cianelli Studios Art Blog
Fragmen Hujan dalam Sebuah Lukisan
: Kepada petani tembakau di Madura

kenapa tak kaugoreskan saja kemarau
dalam lukisanmu, anakku?
agar tembakau yang kita tanam
sempurna memaknai hijau

sejenak ingin kukemas hujan dari lukisanmu
sebab tak kuasa kurahasiakan derai airmata
kalau senyum yang tertampung di ujung setiap daun
harus sirna dirampas deras tetesannya

anakku, kapan engkau akan paham?
bahwa selaksa mimpi yang kita rangkai
tersimpan pada lembaran daunnya yang menjuntai

Pare, 2011



Sidang Cinta Seorang Pujangga


(lantaran jemari tak bisa meraih segala mimpi maka kurangkum puisi ini…)

kenapa harus mantramu yang menyalakan kemarau, sayang?
kalau di kalbuku musim hujan sebentar lagi bertandang
burung-burung akan melepas kicaunya yang parau

kenapa harus rinduku yang mulai gersang, sayang?
kalau wajahmu diam-diam datang menerkam
jenuh penantianku yang kian terkapar

kenapa harus cintaku yang mulai menggelepar, sayang?
kalau perjalanan tak juga sampai pada pertemuan
sebab waktu terlalu pandai membuat gusar

kenapa harus usiaku yang dipastikan hengkang, sayang?
sementara masih kuasah hasrat kesyahduan

Pare, 2011



Senandung Suara Adzan


kekasihku, di mana harus kukibarkan rindu
kalau tidak di altar jiwamu?

sebab aku selalu setia menjadi embun di ujung daun
untukmu, ingin kuhidangkan suara adzan yang ranum
meski matahari tak lagi mengabarkan arah timur

pada cahaya yang singgah dalam doamu, kekasihku
telah kuurai mimpi menjadi seribu puisi
tapi kata-kata tak kuasa merangkul makna
hanya derita yang sempurna meluhurkan cinta

untukmu kekasihku,
ingin kurangkai selaksa kemilau
saat subuh tak lagi mengumandangkan suara adzan

Pare, 2011



Untukmu, Kekasihku…

:Nur Unaizah


tidurlah, sayang…
airmatamu telah sempurna memunajatkan luka
sebentar lagi hujan akan memandikan rembulan
dan gemintang membasuh kilaunya di sungai-sungai

biar kurengkuh keluhmu yang gaduh
meski di dadaku derita masih keruh
tapi seuntai doa masih mentasbihkan cahaya
tidurlah, sayang…
dalam pelukanku yang menghangatkan tangismu

kelak, sebelum matahari mengkristalkan aroma pagi
telah kusiapkan dipan ranjang dalam surga abadi

Jogja, 2011



Cahaya Yang Mengajariku Makna


bagiku, engkaulah cahaya yang mengajariku makna
bahwa bayang-bayang adalah fana

tiadakah aku menjelma dalam denyut nadimu, kekasih?
padahal dzikir begitu dingin lantaran angin menyihir
seluruh rinduku yang tak henti mengalir

aku tampung gelap dalam hidupku yang pekat
segala gelisah dan sendu yang pengap
agar kemilau yang kausulut di awal petang
memberangusku dari lumpur kepalsuan

Pare, 2011



Ahmad Subki, siswa di SMA Negeri 72 Jakarta. Alumnus SMP Negeri 99 Jakarta. Pelajar kelahiran Bangkalan, Madura, ini pernah belajar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura. Puisi-puisinya pernah dimuat di Kakilangit/ Horison.








 
Powered by Blogger.