Header Ads

Puisi-Puisi Badrul Munir Chair di Radar Surabaya, 11 Mei 2014.



Lukisan karya Claude Monet. Diambil dari Google.


Para Penambang Bukit Kapur

Kelak, setelah sekelompok penambang pergi
akan datang para penambang lain untuk menggali
sisa-sisa batu kapur, mengeruk yang terlewat
dan yang tak terangkat.

Datang dari kampung yang sama dengan penambang
yang lebih dulu tiba, meninggalkan rumah
sebagai kafilah pengembara. Mereka berlindung di gua
untuk tempat tinggal sementara.

Memecah, menggali, mengeruk
sampai batas kemampuan, hingga keringat penghabisan
menetes membasahi tanah galian
dan bukit kapur yang dulu tinggi menjulang
tersisa separuh luang, lalu rata dengan tanah
dan menjadi wilayah terbuang

Sekelompok penambang pergi, kelompok lain datang
tapi bukit kapur yang telah ditambang
tak akan pernah kembali. Selamanya jadi tandus
dan terbuang.

2014



Elegi Kuda Poni

Kau bayangkan sebuah perjalanan ke tengah padang
dengan kuda poni, kau sebagai penunggang
memacunya kencang-kencang di hamparan sabana
luas dan lapang.

Tapi dunia selalu punya cara untuk menertawakanmu
dan membuatmu tertawa, lewat siasat
yang tak pernah kau duga.

Inilah kudamu sekarang: sebuah sekoci
dari kapal yang karam kemudian tenggelam
pelanamu geladak, padang luasmu cuma ombak
kau terpana menatap wajah-wajah pucat
puluhan penumpang yang telah jadi mayat
“Di mana letak daratan dengan padang sabana
tempat menghabiskan hari tua yang telah terencana?”

Mayat-mayat saling berbenturan
sebuah kepala muncul ke permukaan
laut di sekitar seperti mahsyar hari pembalasan
tapi palingkan wajahmu, lanjutkan perjalanan
memacu kuda poni, kencang lari melaju
di padang luas fatamorgana.

2013



Laron-Laron

Ada yang mesti kupelajari dari gelap semesta
ketika sebatang lilin di kamar mulai menyala
selalu lahir sebuah tanya: mengapa laron-laron
membakar diri pada nyala lilin, hanya untuk mati?

Aku memperhatikan laron-laron menanggalkan sayap
semacam upaya meninggalkan cemas di ruang gelap
lalu tibalah saat perpisahan itu: ketika laron-laron
bergantian mencumbui lilin yang sedang menyala
semacam upacara untuk kematian yang sederhana

Aku mulai sangsi memikirkan prosesi terbaik untuk mati
aku hidup dan bahagia, bernafas dan bahagia,
berdoa dan bahagia. Tapi, Elia, apakah kematian
adalah semacam kebahagiaan juga?

Laron-laron seakan tak peduli hawa panas pada api
berduyun-duyun datang, kemudian pasrah mengantri
membuka jalan atas kematiannya sendiri.

2013



Perempuan Fiksi

Kau datang padaku dengan wajah yang sakit
kemurungan menjadikanmu serupa ilusi
seperti tembang suaramu melengking panjang

Elia, hari-hari kita adalah kegilaan tak terencana
kita menyusun imajinasi-imajinasi konyol
seperti cerita fiksi kita dibenturkan pada skenario
yang tak terbayangkan. Kita kerap diselamatkan
kebetulan-kebetulan

Kau adalah tokoh utama cerita komedi satir
aku belajar menertawakan peristiwa getir
yang pahit. Seperti tembang kau pandai
menyamarkan kesedihan, telingaku menangkap
ratapan dari dalam kegelapan.

Elia, berpura-puralah dengan sempurna
pahamilah kesedihan mereka dan menangislah
air mata adalah bagian terpenting kisah manusia
biarlah cerita kita terperangkap imajinasi cerita fiksi
aku akan belajar melepaskan diri dari situasi tak wajar ini.

2013



Belajar Berlayar

Perahuku belum sampai ke pintu laut
sebatas lipatan kertas, kusobek dari buku
catatan harian ibu
Selepas hujan aku melayarkannya di halaman
“Aku jadi kapten sekaligus pemancing ikan-ikan.”

Pelan-pelan perahuku menjauh. Tanganku mengulur
seperti tangan ibu ketika melambai pada ayah
“Pergilah, pergilah jauh!”

Sejak hujan itu aku belajar berlayar
belajar pergi dan melupakan. Halaman itu
telah kutinggalkan, seperti ibu yang melepaskan

“Kenapa lautan begitu luas, ibu? Sementara
alamatmu sudah pasti. Di samudera manapun
aku membentangkan layar, layarku berkibar-kibar
seperti kerudung yang menemani tiap tadarusmu.”

Perahuku belum sampai di pintu laut
tapi rinduku sudah karam, ibu
aku ingin pulang.

2013



Badrul Munir Chair, lahir di pesisir Ambunten (sebuah desa di pantai utara Sumenep-Madura), 1 Oktober 1990. Menulis cerpen dan puisi, karya-karyanya masuk dalam sejumlah Antologi bersama, diantaranya antologi cerpen Di Pematang Pandanaran (Matapena, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo-Obsesi, 2010), dan beberapa antologi puisi, seperti Diorama (Antologi Penyair Tanpa Bilangan Kota) (Pondok Mas, 2009), Antologi Puisi Penyair Nusantara Musibah Gempa Padang (E Sastera, Kuala Lumpur 2010 ), kumpulan cerpen duetnya (bersama seorang teman) yang sudah terbit berjudul Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (FUY, 2009).


Powered by Blogger.