Header Ads

Puisi Syamsul Arifin - Suara Merdeka, 1 maret 2015



Inah


Senyummu yang gugur satu-satu
Di ranting pipimu

Seperti panorama senja di Malimbu
Pelan-pelan menelusup ke jantung lautan

Mata yang memandang
Menjadi  sakau
Mencipta rindu
Pada hati yang mencicipi

Malang, 2015

 

Senyum


Di bibir pantai
senja mulai remang menuju petang
engkau selipkan senyum pada kantong celana
kiriku
entah kau sengaja atau tidak, aku tak perduli itu

namun yang jelas
sehabis tersiram  asin air laut
tertiup udara Malang-Mataram
dan sedikit pupuk sebuah waktu

kini ia bermetamorfosis menjadi rindu

entah akan tumbuh menjadi cinta yang berbun-
ga lalu buah
atau akan menjadi kering, gugur, lalu mati
tampa siraman senyum dan kecupmu lagi

Malang, 2015

 

Surat cinta


Pada sore itu
Saat senja mulai remang menuju petang
Di ujug bibir pantai
Ada semacam gelombang meletup-letup di
dadaku

Mendesakku segera memberi kabar
Atau semacam isyarat kepada-Mu

Malam-malamku gigil
Sebab senyummu yang terus menari-nari
Antara kepala dan hatiku
Maka telah kuputuskan untuk memberi pekabar

‘’aku jatuh hati kepadamu’’

Yakinkan hatimu bahwa
Tulang rusukku tumbuh dalam diri-mu
Dan, Kau tak perlu tahu
Di purnama keberapa
Aku akan memetik senyum dan  meminang-mu

Malang, 2015

 

Lombok


Pada pedas plecingmu
Lidahku bergoyang

Pada senyum gadismu
Rinduku berdendang

Madura, 2015

 

Lombok II


Di pucuk-pucuk menara masjidmu
Rinduku memangil-manggil

Di pantai-pantaimu
Rinduku pasang surut
Meminta segera kecup

Pada tanah-tanahmu
Jejak-jejakku tertinggal
Menjadi kenangan

Madura, 2015

— Syamsul Arifin lahir di Sumenep, mahasiswa Unitri  Prodi Agroteknologi dan di Teater KOPI



Powered by Blogger.