Header Ads

Puisi Umar Fauzi Ballah | Echo | Doa Sebelum Tidur | Wabah |





Echo

kami adalah embun yang memantul dari genting ke dinding
yang membuat lumut-lumut begitu betah bersanding
dan beranak pinak di sana.

dari dinding kami mental ke kuburan,
segala makam yang menyimpan arwah
para pahlawan pun para bajingan.

kami bantu mereka menjawab
pertanyaan-pertanyaan malaikat tentang surga dan neraka.
dari surga kami sampai kepada Paduka.

dialah yang menciptakan suara-suara,
dari jenis terbening sampai yang paling bising,
kami suling hingga sampai ia di tempat semestinya.

kamilah wahyu di atas Wahyu
yang menyejukkan tidur para nabi dan
pengikutnya yang menuntun barisan kami dengan rapi.

(Surabaya, 2009)


Doa Sebelum Tidur

            selayaknya
gelap bertenang tidur
            selayaknya
anak panah  kembali ke busur
            selayaknya
kita kembali kepada yang uzur

(Pacet, 2009)

 Wabah

Lima bulan lalu aku telah bersumpah kepada batu-batu yang menumbuhkan pikiran-pikiran dari beku ke cair abu, bahwa jika puisi ini tidak basah saat kulempar ke ruah bah yang telah menenggelamkan gelimpang mayat-mayat subuh itu, maka aku akan berdiri di tengah-tengah ini spasi mencari (di mana) mimpi juga melucuti bunyi-bunyi yang barangkali telah melupakan setiap mati ke lembah-lembah paling sunyi, lalu melenyapkan sama sekali, tentang bebayang atau yang terbayang terlalu kepayang kepadaNya.

Sungguh dalam bait-bait ini aku telah dihilangkan sekaligus dibuai seperti muasal kelahiran dan awal kematian, harus dimandikan, dengan  sebentuk tangis yang begitu diindahkan. Jalan-jalan yang sudah terhampar itu adalah jalan lalu lalang: mahligai para belang, dan para belulang mencari rekah tanah; mencari jalan pulang. Terlempar bersama kirikil aku ditawari seekor Ababil.

(Surabaya, 2009)

Catatan dari si Tukang Arsip : Puisi-puisi ini telah dipublikasikan pertama kali di blog pribadi :  http://penyair-air.blogspot.com
Powered by Blogger.